(warning: pendek, gaje, seriusan.)
---
Devil Kembali! (9)
“Ahh … leganya ….” ujarku sembari membenamkan
wajah pada punggung Zach.
“Yeah,
setidaknya kita telah menyelamatkan tiga gadis itu, sekarang tak ada lagi yang
perlu dikhawatirkan,” kata Zach.
Aku mengangguk dengan senyum kegirangan yang
menghiasi bibirku, “nah sekarang, bagaimana kalau kita ke café?
“
“Dengan piyama seperti itu kau mau ke café? Yang benar saja hahaha ….” ujar si
kacamata.
Aku memandang diriku yang masih dibaluti oleh
piyama biru, kemudian nyengir, “ya kalau begitu kita ke rumahku dulu, hehehe
….”
Setelah singgah sebentar di rumahku, kami
berdua pergi ke café untuk sekedar
menikmati secangkir cappuccino hangat.
“Hey, Zach,” ujarku sembari mengaduk
cappuccino itu dengan sendok.
“Hm?”
Aku meletakkan sendok tersebut kemudian
menatap lawan bicaraku lalu terkekeh kecil, “tidak apa-apa, kau serius sekali
sih,” kataku seraya menyesap isi cangkirku.
Zach mendengus geli, “Kau ini, kukira ada
apa.”
“Ehm baiklah aku mau bicara sungguhan,” kataku
lagi, kali ini dengan mimik wajah serius.
“Ya, bicaralah.”
“Menurutmu, apa aku perlu membakar buku harian
itu seluruhnya?”
Zach menatapku, alis sebelah kirinya terangkat,
“maksudmu supaya Devil benar-benar
musnah, begitu?”
“Uhm … yaa … bisa dibilang seperti itu,”
jawabku.
Kudengar Zach menggumamkan kata ‘oh’ sebelum
ia kembali menyesap cappuccino miliknya.
Aku langsung facepalm mengetahui hanya ‘oh’ saja yang kudapatkan sebagai
tanggapan.
Zach terkekeh melihatku, “tenang saja, Bel,
aku baru mau melanjutkan tanggapanku,” katanya kemudian mengubah posisi
duduknya menjadi lebih tegap, “sepertinya kau tidak perlu membakar seluruhnya,
tidak sebelum Devil benar-benar datang
dan kembali mengacau,” tandas Zach.
“Jadi aku harus benar-benar menunggu sampai
makhluk itu kembali membunuh salah satu dari tiga gadis yang tersisa?” nada
keheranan mendominasi pertanyaanku.
“Mereka hanya umpan, Isabel.”
“Apa?”
“Mereka. Hanya. Umpan,” Zach menegaskan
tiap-tiap kata dalam kalimatnya.
“Apa yang membuatmu berpikir kalau mereka itu
umpan?”
Zach menghela napas, “Isabel, kau lupa
bagaimana cara makhluk itu menatapmu, terlebih saat ia mengetahui kalau Death Diary ada dalam genggamanmu?”
Perkataan Zach memaksa memoriku untuk kembali
mereplay saat-saat dimana aku melihat
wujud Devil secara nyata, langsung di
hadapanku.
“Ya, aku ingat, dia menatapku sangat tajam,”
kataku.
“Sebetulnya Devil itu mengincarmu ….” Zach berujar.
Aku nyaris tersedak mendengarnya, “apa?
Ba-bagaimana bisa?!” seruku.
“Tentu saja bisa. Death Diary itu hanya ada satu di dunia ini, dan kau adalah orang
yang sangat beruntung karena telah
memilikinya,” Zach menekankan intonasinya pada kata ‘sangat beruntung’ sembari
terkekeh pelan, “jadi bagaimana mungkin Devil
tidak mengincarmu, sedangkan fakta mengatakan bahwa ia adalah pemilik asli
buku itu,” jelasnya.
Aku mengerucutkan bibirku, merasa tersindir, “hell ya, kau benar ….”
Zach tersenyum geli melihatku seperti itu,
kemudian ia mengalihkan pandangannya keluar jendela, “ngomong-ngomong, Isabel, sebenarnya
ada yang ingin kutanyakan padamu ….” ujarnya kemudian.
Alisku bertautan, “soal apa?”
“Kenapa kau bisa bertengkar dengan mereka?” tanya si iris hazel itu pelan.
Bibirku terkatup begitu mengetahui ‘mereka’
yang dimaksud oleh Zach, aku memilih untuk diam sembari tanganku memutar-mutar
cangkir yang telah kosong.
Sesaat hanya terdengar suara dentingan cangkir
yang menyelubung di antara keheningan, sampai akhirnya Zach buka suara.
“Jawab aku, Isabel.”
Tanganku berhenti melakukan kegiatan yang
membuat suara dentingan cangkir itu. Tanpa melirik seujung mata pun pada si
rambut cokelat keabuan, aku membalikkan pertanyaannya, “kenapa aku harus
menjawabmu?”
“Karena pertanyaan ini penting,” kata Zach.
“Sepenting apakah?” tanyaku lagi sembari
melemparkan pandangan memangnya-aku-peduli
pada Zach.
“Sepenting nyawamu!” tandas si kacamata,
sepertinya ia kesal.
Aku terkekeh pelan, Zach menatapku sewot.
“Tidak ada yang lucu! Cepat jawab!”
“Hahaha … well
… itu hanya gara-gara masalah sepele, yah, kau tahulah bagaimana kelakuan
anak perempuan,” ujarku sambil mengangkat bahu, seolah aku benar-benar tidak
peduli.
“Begitukah? Kau yakin itu bukan karena salah
satu dari kalian ada yang menyukaiku dan tidak terima karena kau dekat
denganku?”
“..hah?”
aku menatap Zach seperti huh-percaya-diri-sekali-kau.
“Ahahaha … aku benar, kan?” Zach tertawa puas
sekali.
“Hentikan!” gertakku sembari menyembunyikan
semburat kemerahan yang menjalari wajahku.
“Hmf
… kau tahu, itu normal saja kok, tidak ada yang salah dengan hal tersebut ….”
“Oh, sudahlah … bahkan hal itu telah
berlangsung sebelum kau dekat denganku, jadi itu bukan karena ada yang
menyukaimu atau apalah itu,” tandasku sembari mengibaskan tangan.
Zach mendengus geli, “baiklah terserah kau
saja, lagipula aku bisa mencari tahu sendiri ….” katanya.
Aku hanya memutar bola mata sembari memangku
dagu.
“Selamat
siang pemirsa, kembali lagi dengan Headline News. Berita kali ini adalah tentang penemuan jasad seorang gadis di sebuah
rumah di kawasan Edmond, Oklahoma ….” Penjaga kasir menyalakan televisi di café dan benda tersebut menayangkan
acara Headline News.
“Huh?”
aku menoleh sedikit pada televisi yang berada tak jauh dari tempat aku dan Zach
duduk itu.
“Jasad … seorang gadis …?” Zach menggumam
samar.
“Untuk
yang ketiga kalinya, kematian misterius kembali terjadi. Peristiwa mengerikan
tersebut telah merenggut nyawa seorang gadis berdarah Korea yang diketahui
bernama Yun Atashia. Gadis malang berusia 14 tahun ini ditemukan tidak bernyawa
di gudang rumahnya dalam keadaan tangan tergantung dan pakaian sobek. Polisi
sedang menyelidiki motif di balik kematian gadis ini ….”
Iris biru safirku berpendar, tanganku
mencengkeram taplak meja hingga kain tersebut kusut. Tidak jauh berbeda
denganku, Zach tampak mengeraskan rahangnya.
“Sial … sial … kenapa aku tidak menyadarinya?!”
Zach mengumpat.
“Ah … hoax!”
sergahku seraya mengalihkan pandangan dari televisi tersebut.
Zach tercengang menatapku, “bagaimana mungkin hoax bisa senyata itu?!” serunya.
“Hoax …
itu hoax ….” Aku memejamkan mataku
kuat-kuat, berusaha berpaling dari realita. Namun raungan sirine mobil patroli
dan ambulance yang menggema di
penjuru kota ini menyadarkanku bahwa realita takkan bisa didustai.
“Kita harus bergerak, Isabel ….” ucap Zach.
Aku membuka mata, menatap pemuda di hadapanku
itu dengan sendu, “kita sudah terlambat, Zach.”
“Mungkin kita terlambat menyelamatkan Atashia,
tapi setidaknya kita tidak terlambat mengetahui bahwa Devil masih ada di sekitar kita,” ujarnya.
“Seharusnya aku membakar buku itu kan, Zach?”
kataku sembari beranjak dari duduk.
Zach mendengus geli, “Yeah. Kurasa kita harus membakarnya nanti!”
-to be continued-
banyakin matinya ya 'w'
ReplyDeletekalo perlu Isabel sama Zach mati juga#plak
btw coba backgroundnya diganti, atau putih di BG nya itu ditebelin. kurang enak bacanya ._.
matiin gak ya...? *plakk*
Deleteslowly but surely, semua yang ditulis di buku itu mati semua kok *eh* *keceplosan*
hee? ganti lagi? ryoukai~
huwooo, keren... jd mbah devil blm mati y? kbtuln au mau mnta tnda tgnmu XD
ReplyDeleteeh eh nee-chan, ending romance y XD ntah knp yu suka bgt pair IsaZach XD