Banyak mobil patroli dan mobil wartawan dari berbagai stasiun televisi yang berlalu-lalang di jalanan depan café sehingga lalu lintas menjadi padat. Zach memutuskan untuk meninggalkan motornya di parkiran café dan kami pun berjalan kaki.
Kami melangkah tergesa dan saat tiba di persimpangan dekat rumah Atashia, aku bertabrakan dengan seseorang.
“Ma-maaf … eh?”
Aku terkejut ketika mengetahui siapa yang kutabrak, “Tiffany? Kau mau ke—“
Namun gadis berkepang dua itu terus melangkah melewatiku, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Tiffany?” aku mencegatnya, memaksa dia agar berbalik menghadapku.
Pemilik marga Bangles itu menoleh, raut wajahnya nampak berbeda. Kedua matanya menatapku sendu, lensa kontak yang memberi warna emerald pada irisnya juga tak bersinar.
Tanganku refleks melepaskan cengkeramanku pada bahunya ketika ia melihatku dengan pandangan seperti orang bermasa depan suram.
“Tiffa … ny ….”
Gadis itu berlalu begitu saja meninggalkan aku dan Zach. Aku menatap nanar pada punggung yang berlapis mantel itu.
“Bahkan Tiffany pun merasa depresi akan kematian mereka ….” gumamku lirih.
“Tidak, dia tidak depresi, Isabel. Otaknya telah dimanipulasi!” ucap Zach.
“Apa? Bagaimana mungkin? Siapa yang telah melakukannya?!” sergahku.
Kedua mata Zach memicing, “Isabel, kau ikuti kemana pun Tiffany pergi, biar aku yang mengurus Atashia!”
“Tapi … Zach?”
“Tidak apa-apa, kau tak perlu khawatir. Cukup aktifkan ponselmu saja, aku akan meneleponmu saat urusanku beres,” tandasnya.
Aku tak bisa mengelak lagi, kedua mata itu menampakkan keseriusan yang dalam.
“Baiklah!” jawabku.
Sebelum Zach pergi, ia menoleh sekilas padaku, “oh ya, Isabel, sebenarnya aku juga umpan.”
“..apa?”
Zach tersenyum, kemudian ia berlari meninggalkanku.
Aku mendengus kesal, “memangnya ada berapa umpan, sih?” gerutuku seraya berlari mengikuti Tiffany.
Well, karena gadis berambut cokelat itu berjalan seperti sebuah mayat hidup, aku bisa dengan mudah mengejarnya.
“Hey, Tiffany!”
Ia tidak menghiraukanku.
“Hello … Tiffany Bangles, kau dengar aku?” bahkan saat kulambaikan telapak tanganku di depan wajahnya ia tetap tidak bergeming. Matanya menatap lurus ke depan, aku khawatir jika ia menabrak sesuatu seperti…
Jduk.
..tiang listrik.
“Ouch! Pasti sakit ya?” aku refleks memegang dahiku sendiri, “kau tidak apa-apa, Tiffany?” tanyaku.
Tanpa merespon barang se-aww pun, Tiffany mengubah sedikit arah navigasinya dan melewati tiang tersebut begitu saja. Samasekali tak ia hiraukan dahinya yang memerah akibat benturan itu.
“Tiffany … kenapa semua ini terjadi begitu cepat …?” aku bertanya sembari mengikutinya, berharap ia akan menoleh padaku walau rasanya itu tak mungkin.
“Padahal kurang dari satu minggu yang lalu kau menjambak rambutku, kan, Tiffany? Kita bertengkar di kelas, aku melemparimu, kau … kau juga … hiks … melempariku balik, kan, iya kan, Tiffany!?”
Tanganku tergerak untuk menyeka air mata yang mulai bercucuran di pipiku, “tapi kenapa sekarang kau diam saja? Apa perlu aku menjambakmu seperti waktu itu? apa perlu aku berteriak di dekatmu supaya kau marah padaku, supaya kau menoleh padaku … hiks … jawab aku, Tiffany ….”
Tak kunjung mendapat balasan, aku pun menghentikan langkah dan benar-benar berteriak, “Tiffany! Kalau kau mau, kau boleh hancurkan barang-barangku sesukamu! Kau boleh memukulku, menjambak rambutku, mencubitku atau apa pun itu asalkan kau kembali ke sisiku, Tiffany, kumohon!”
Aku jatuh berlutut, memeluk kedua kaki jenjang yang berbalut boots itu sembari menumpahkan air mata, “cukup … sudah cukup aku kehilangan Devonne, Evelyn, dan Atashia … hiks … aku tidak mau kehilangan kamu juga, Tiffany … kumohon … kembalilah … hiks … jangan tinggalkan aku, kamu satu-satunya temanku di kelas, Tiffany … hiks … maafkan aku, Tiffany ….”
“Isa … bel ….”
“Hah?” aku mendongakkan kepalaku.
“Isabel ….”
Aku berdiri, iris biru safirku berpendar.
Barusan … barusan Tiffany memanggil namaku, barusan dia memanggilku!
“Tiffany~! Huaaaa … kau jahat sekali sih nunggu aku sampai nangis dulu baru nyahut!” rutukku seraya mengeratkan pelukanku.
Gadis berkepang dua itu menggenggam kedua tanganku yang memeluknya dari belakang, tangannya terasa dingin.
“Isabel ….” Ia kembali memanggilku.
“Yah?” sahutku, masih memeluknya.
“Lari ….”
“Eh?”
“Lari, Isabel ….” ujarnya sembari melepaskan tanganku dari tubuhnya.
“Ke-kenapa? Ada apa?” tanyaku tak mengerti.
Swoosshh. Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melesat melewati kami.
“Ah!” aku terkesiap. Langit di atasku menjadi kelabu dalam sekejap disusul oleh hembusan angin.
‘Angin ini tidak wajar ….’
Tiffany menatap bayangan hitam itu kemudian ia berlari mengejarnya.
“T-Tiffany!” aku kembali mengejarnya. Sial! Sekarang gadis itu larinya lebih cepat dariku.
Gadis itu terus berlari menembus gundukan salju dan aku terus berusaha mengejarnya.
“Tiffany, berhenti!” teriakku, namun ia tak melakukan apa yang kukatakan.
Gadis itu baru menghentikan langkahnya saat ia telah tiba di sisi sebuah danau yang membeku. Tanpa disuruh aku juga ikut berhenti.
“H-hey, mau apa kau ke sini?” tanyaku sembari mengatur napas.
Manik hitam dalam iris berlapis lensa kontak itu menatap danau es yang membentang di hadapannya. Ketika ia melangkahkan kakinya aku tersadar kalau ia akan melakukan sesuatu yang berbahaya.
“Hey, Tiffany! Jangan bergerak!” seruku sembari mencengkeram lengannya.
“Isabel, lari ….” ujar gadis itu.
“Aku tidak mungkin meninggalkanmu, kan, Tiffany,” aku mulai tak sabar.
Tiffany menoleh perlahan padaku, “aku juga tak mungkin membiarkanmu ikut mati bersamaku ….” katanya seraya melepas cengkeramanku dan mulai memijakkan kakinya ke permukaan danau beku tersebut.
Krakk.
“Ti-Tiffany!” aku berjengit ketika mendengar suara retakan es yang diinjak olehnya.
Kratakk.
Retakan tersebut semakin melebar, “tidak! Jangan melangkah lagi!” seruku, ketakutan.
Namun bukannya melakukan apa yang kukatakan, gadis berkepang dua itu malah semakin berjalan ke tengah danau.
Brushh.
“Oh!” aku terkesiap ketika melihat Tiffany melompati sebongkah besar es yang tenggelam ke danau tersebut, “hentikan, Tiffany!”
Dan pada akhirnya gadis itu berhenti juga. Ia berbalik, menatap lurus ke arahku dengan iris berlapis lensa kontaknya yang tampak berkaca-kaca.
..tunggu, berkaca-kaca?
“Isabel, maaf ….” ujarnya.
Aku menggeleng kuat-kuat hingga beberapa bulir air mata jatuh ke pipiku, “tidak, kau tidak salah, Tiffany. Tunggu di situ, aku akan menyelamatkanmu.”
Namun ketika kakiku menyentuh permukaan danau, tampak air di bawah lapisan es tersebut menghitam dan yang terjadi selanjutnya adalah tubuhku terhempas ke belakang dan aku mendengar jeritan Tiffany.
Gelap ….
“Bertahanlah, nak.”
Dimana aku?
“Kau bisa mendengarku?”
Siapa di sana?
“Seseorang, tolong panggil ambulans!”
Kenapa? Apa yang terjadi?
“Anak ini masih hidup!”
“Biar kulihat.”
Sentuhan di pipiku berhasil membuat kedua mataku terbuka sepenuhnya. Dengan pandangan yang masih buram, aku melihat dua orang, satu pria dan satu wanita, tengah berlutut di sisiku.
“Syukurlah … dia baik-baik saja,” ucap wanita itu.
“Eng … a-apa yang terjadi?” tanyaku lemah.
“Kami mendengar suara ledakan dan menemukanmu tergeletak di sini,” jawab yang pria.
“Ledakan?”
“Iya, apa kau ingat sesuatu?”
“Mmh ….” Aku beringsut bangkit, mencoba mereplay saat-saat sebelum aku terbaring tak berdaya di tengah aspal ini.
Ketika itu, seorang pria lainnya menghampiri kami bertiga, “pak! Kami menemukan jasad seseorang di tengah danau!” serunya.
‘Jasad?’
Aku menoleh pada beberapa orang yang berlarian ke danau tersebut. Terlihat mereka menggotong sebuah tubuh yang hangus dari sana.
Mataku memicing saat melihat slayer yang melambai dari jasad tersebut, “tunggu!” seruku seraya menghampiri kerumunan.
“Ada apa?” tanya salah satunya.
“Di-dia … temanku ….” ujarku dengan suara bergetar.
Mereka terkejut mendengarnya, kemudian kurasakan sebuah tangan menepuk bahuku pelan.
“Tabahkan hatimu, nak ….” katanya.
Aku hanya mengangguk pelan sembari menatap nanar pada tubuh temanku yang entah kenapa sudah tak bisa disebut utuh lagi itu.
Satu kata yang menimpa benakku saat ini, gagal.
Aku. Telah. Gagal.
Tiffany mati, dan aku gagal, gagal menyelamatkannya.
Drrtt … drrrtt … drrttt ….
Getaran kecil di sekitar pinggangku sedikit menyentakku untuk kembali pada realita, kubiarkan tanganku bergerilya mencari benda bernama ponsel itu di saku mantel yang kukenakan.
Sejenak aku melihat layar ponselku yang berkedip-kedip, memastikan siapa yang memanggilku saat ini.
"Zach? itu kau? bagaimana dengan urusanmu?" tanyaku to the point. Aku sedang malas berbasa-basi.
Terdengar jawaban dari sana, "oh, yah, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir, Isabel."
Aku mengernyit ketika merasakan ada perbedaan yang berarti pada suara Zach, "benarkah? Lalu kenapa suaramu berubah?"
“Oh, ehem … tidak apa-apa, mungkin sinyalnya sedang jelek. Eh, Isabel, apa kau bisa ke tempatku?”
“Ya, aku baru akan ke sana,” ujarku.
“Baiklah … aku menunggumu,” ujar Zach sebelum ia memutuskan panggilannya.
Setelah itu aku mengantongi kembali ponselku dan bergegas menuju ke tempat Zach berada. Namun belum sampai sepuluh langkah aku berjalan, ponselku bergetar lagi.
“Ck. Siapa sih?!” gerutuku seraya mengaduk kembali isi kantong mantel.
Mataku membulat saat melihat nama pemanggil yang tertera pada layar, “Hayley? Sejak kapan dia mau meneleponku?”
Tadinya aku berniat untuk merejectnya, tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang penting dari telepon tersebut.
“Halo, ng … Hayley?”
“Isabel! syukurlah, aku nyaris putus asa mengharapkan dirimu mengangkat teleponnya ….” terdengar suara lembut khas Hayley dari seberang sana.
Alisku terangkat sebelah, “memangnya kenapa?” tanyaku.
“Temani aku ke mall, please? Ada seseorang yang ingin menemuiku di sana, dan aku terlalu takut untuk datang sendirian ….”
Nyaris saja ponsel keluaran Apple yang tengah bertengger di tanganku ini kubanting.
“Che. Nggak mau! Aku punya urusan yang semilyar kali lebih penting daripada menemanimu ke mall untuk bertemu seseorang! Oke, bye!”
“Mengganggu saja ….” cibirku sesaat setelah panggilan itu kuputuskan.
Drrtt … Drrtt … untuk kedua kalinya ponselku bergetar karena panggilan Hayley. Oh, kurasa aku harus benar-benar membantingnya nanti.
“Apalagi si—“
“Isabel … jadi kau ingin aku mati seperti yang lainnya …?”
“..hah?” aku terkejut, suara lembut itu terdengar lebih menusuk kali ini.
-to be continued-
Update lagi owo
ReplyDeleteBacanya udah agak enak nih, soalnya BG tulisannya putih 'w'
makasih udah baca 'w')b
Deletebtw, ini dipending dulu sampe semua chapter-nya beres saya ketik (dan itu gatau kapan wkwk *slap*) tapi saya lagi usahakan chapter 11-nya paling lambat dipublish awal Juli '-')v