Pages

11 May 2013

Devil's Death Diary - chapter 9

(warning: pendek, gaje, seriusan.)
---

Devil Kembali! (9)

“Ahh … leganya ….” ujarku sembari membenamkan wajah pada punggung Zach.

Yeah, setidaknya kita telah menyelamatkan tiga gadis itu, sekarang tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan,” kata Zach.

Aku mengangguk dengan senyum kegirangan yang menghiasi bibirku, “nah sekarang, bagaimana kalau kita ke café? “

“Dengan piyama seperti itu kau mau ke café? Yang benar saja hahaha ….” ujar si kacamata.

Aku memandang diriku yang masih dibaluti oleh piyama biru, kemudian nyengir, “ya kalau begitu kita ke rumahku dulu, hehehe ….”


Setelah singgah sebentar di rumahku, kami berdua pergi ke café untuk sekedar menikmati secangkir cappuccino hangat.

“Hey, Zach,” ujarku sembari mengaduk cappuccino itu dengan sendok.

“Hm?”

Aku meletakkan sendok tersebut kemudian menatap lawan bicaraku lalu terkekeh kecil, “tidak apa-apa, kau serius sekali sih,” kataku seraya menyesap isi cangkirku.

Zach mendengus geli, “Kau ini, kukira ada apa.”

“Ehm baiklah aku mau bicara sungguhan,” kataku lagi, kali ini dengan mimik wajah serius.

“Ya, bicaralah.”

“Menurutmu, apa aku perlu membakar buku harian itu seluruhnya?”

Zach menatapku, alis sebelah kirinya terangkat, “maksudmu supaya Devil benar-benar musnah, begitu?”

“Uhm … yaa … bisa dibilang seperti itu,” jawabku.

Kudengar Zach menggumamkan kata ‘oh’ sebelum ia kembali menyesap cappuccino miliknya.

Aku langsung facepalm mengetahui hanya ‘oh’ saja yang kudapatkan sebagai tanggapan.

Zach terkekeh melihatku, “tenang saja, Bel, aku baru mau melanjutkan tanggapanku,” katanya kemudian mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegap, “sepertinya kau tidak perlu membakar seluruhnya, tidak sebelum Devil benar-benar datang dan kembali mengacau,” tandas Zach.

“Jadi aku harus benar-benar menunggu sampai makhluk itu kembali membunuh salah satu dari tiga gadis yang tersisa?” nada keheranan mendominasi pertanyaanku.

“Mereka hanya umpan, Isabel.”

“Apa?”

“Mereka. Hanya. Umpan,” Zach menegaskan tiap-tiap kata dalam kalimatnya.

“Apa yang membuatmu berpikir kalau mereka itu umpan?”

Zach menghela napas, “Isabel, kau lupa bagaimana cara makhluk itu menatapmu, terlebih saat ia mengetahui kalau Death Diary ada dalam genggamanmu?”

Perkataan Zach memaksa memoriku untuk kembali mereplay saat-saat dimana aku melihat wujud Devil secara nyata, langsung di hadapanku.

“Ya, aku ingat, dia menatapku sangat tajam,” kataku.

“Sebetulnya Devil itu mengincarmu ….” Zach berujar.

Aku nyaris tersedak mendengarnya, “apa? Ba-bagaimana bisa?!” seruku.

“Tentu saja bisa. Death Diary itu hanya ada satu di dunia ini, dan kau adalah orang yang sangat beruntung karena telah memilikinya,” Zach menekankan intonasinya pada kata ‘sangat beruntung’ sembari terkekeh pelan, “jadi bagaimana mungkin Devil tidak mengincarmu, sedangkan fakta mengatakan bahwa ia adalah pemilik asli buku itu,” jelasnya.

Aku mengerucutkan bibirku, merasa tersindir, “hell ya, kau benar ….”

Zach tersenyum geli melihatku seperti itu, kemudian ia mengalihkan pandangannya keluar jendela, “ngomong-ngomong, Isabel, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu ….” ujarnya kemudian.

Alisku bertautan, “soal apa?”

“Kenapa kau bisa bertengkar dengan mereka?” tanya si iris hazel itu pelan.

Bibirku terkatup begitu mengetahui ‘mereka’ yang dimaksud oleh Zach, aku memilih untuk diam sembari tanganku memutar-mutar cangkir yang telah kosong.

Sesaat hanya terdengar suara dentingan cangkir yang menyelubung di antara keheningan, sampai akhirnya Zach buka suara.

“Jawab aku, Isabel.”

Tanganku berhenti melakukan kegiatan yang membuat suara dentingan cangkir itu. Tanpa melirik seujung mata pun pada si rambut cokelat keabuan, aku membalikkan pertanyaannya, “kenapa aku harus menjawabmu?”

“Karena pertanyaan ini penting,” kata Zach.

“Sepenting apakah?” tanyaku lagi sembari melemparkan pandangan memangnya-aku-peduli pada Zach.

“Sepenting nyawamu!” tandas si kacamata, sepertinya ia kesal.

Aku terkekeh pelan, Zach menatapku sewot.

“Tidak ada yang lucu! Cepat jawab!”

“Hahaha … well … itu hanya gara-gara masalah sepele, yah, kau tahulah bagaimana kelakuan anak perempuan,” ujarku sambil mengangkat bahu, seolah aku benar-benar tidak peduli.

“Begitukah? Kau yakin itu bukan karena salah satu dari kalian ada yang menyukaiku dan tidak terima karena kau dekat denganku?”

“..hah?” aku menatap Zach seperti huh-percaya-diri-sekali-kau.

“Ahahaha … aku benar, kan?” Zach tertawa puas sekali.

“Hentikan!” gertakku sembari menyembunyikan semburat kemerahan yang menjalari wajahku.

Hmf … kau tahu, itu normal saja kok, tidak ada yang salah dengan hal tersebut ….”

“Oh, sudahlah … bahkan hal itu telah berlangsung sebelum kau dekat denganku, jadi itu bukan karena ada yang menyukaimu atau apalah itu,” tandasku sembari mengibaskan tangan.

Zach mendengus geli, “baiklah terserah kau saja, lagipula aku bisa mencari tahu sendiri ….” katanya.

Aku hanya memutar bola mata sembari memangku dagu.

Selamat siang pemirsa, kembali lagi dengan Headline News. Berita kali ini adalah tentang penemuan jasad seorang gadis di sebuah rumah di kawasan Edmond, Oklahoma ….” Penjaga kasir menyalakan televisi di café dan benda tersebut menayangkan acara Headline News.

Huh?” aku menoleh sedikit pada televisi yang berada tak jauh dari tempat aku dan Zach duduk itu.

“Jasad … seorang gadis …?” Zach menggumam samar.

Untuk yang ketiga kalinya, kematian misterius kembali terjadi. Peristiwa mengerikan tersebut telah merenggut nyawa seorang gadis berdarah Korea yang diketahui bernama Yun Atashia. Gadis malang berusia 14 tahun ini ditemukan tidak bernyawa di gudang rumahnya dalam keadaan tangan tergantung dan pakaian sobek. Polisi sedang menyelidiki motif di balik kematian gadis ini ….”

Iris biru safirku berpendar, tanganku mencengkeram taplak meja hingga kain tersebut kusut. Tidak jauh berbeda denganku, Zach tampak mengeraskan rahangnya.

“Sial … sial … kenapa aku tidak menyadarinya?!” Zach mengumpat.

“Ah … hoax!” sergahku seraya mengalihkan pandangan dari televisi tersebut.

Zach tercengang menatapku, “bagaimana mungkin hoax bisa senyata itu?!” serunya.

Hoax … itu hoax ….” Aku memejamkan mataku kuat-kuat, berusaha berpaling dari realita. Namun raungan sirine mobil patroli dan ambulance yang menggema di penjuru kota ini menyadarkanku bahwa realita takkan bisa didustai.

“Kita harus bergerak, Isabel ….” ucap Zach.

Aku membuka mata, menatap pemuda di hadapanku itu dengan sendu, “kita sudah terlambat, Zach.”

“Mungkin kita terlambat menyelamatkan Atashia, tapi setidaknya kita tidak terlambat mengetahui bahwa Devil masih ada di sekitar kita,” ujarnya.

“Seharusnya aku membakar buku itu kan, Zach?” kataku sembari beranjak dari duduk.

Zach mendengus geli, “Yeah. Kurasa kita harus membakarnya nanti!”

-to be continued-

3 comments:

  1. banyakin matinya ya 'w'
    kalo perlu Isabel sama Zach mati juga#plak
    btw coba backgroundnya diganti, atau putih di BG nya itu ditebelin. kurang enak bacanya ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. matiin gak ya...? *plakk*
      slowly but surely, semua yang ditulis di buku itu mati semua kok *eh* *keceplosan*

      hee? ganti lagi? ryoukai~

      Delete
  2. huwooo, keren... jd mbah devil blm mati y? kbtuln au mau mnta tnda tgnmu XD

    eh eh nee-chan, ending romance y XD ntah knp yu suka bgt pair IsaZach XD

    ReplyDelete