(note: sekarang hari Jum'at kan ya? oh iya... *plakk*)
---
Sudah Berakhir? (8)
Aku terdiam menatap keluar jendela kamar,
titik-titik putih turun dan perlahan menyelimuti seluruh permukaan benua
Amerika. Angin musim gugur telah tergantikan oleh hembusan angin musim dingin
yang bersuhu di bawah 0 derajat, seolah dapat membekukan tubuh siapapun yang
bersentuhan dengannya.
Sudah dua hari semenjak kematian kedua (mantan)
sahabatku, Devonne dan Evelyn, aku tak beranjak keluar rumah, bahkan keluar
kamar pun rasanya enggan. Zach sudah berkali-kali datang ke rumahku dan berkata
kalau aku dan dia harus mengambil langkah selanjutnya untuk menyelamatkan
Atashia ….
..tapi untuk apa? Bukankah itu sia-sia saja?
Pagi itu aku duduk termenung di depan televisi
sembari tanganku menggenggam segelas cokelat panas yang sebenarnya sudah tidak
panas lagi. Televisi LCD yang besar dan tipis itu menayangkan acara berita
tentangku ….
..maksudku, tentang Devonne dan Evelyn.
Mereka meliput lapangan basket di sekolah—tempat
tewasnya Devonne—dan gang sempit di dekat rumah Zach.
Mungkin kau bingung dengan lokasi yang kedua,
baiklah kujelaskan betapa beruntungnya aku punya sahabat jenius seperti Zach.
Kenapa? Karena kalau ia tidak memindahkan
jasad Evelyn ke gang itu dan juga tidak menancapkan pisau di ulu hati si gadis
berambut pirang itu—seolah Evelyn dibunuh oleh manusia jahat yang berkeliaran
di gang tersebut—maka kami berdua bisa terlibat dan akan dituduh sebagai
pelaku.
Padahal jelas-jelas pelakunya bukan aku maupun
Zach ….
..yah, walaupun aku ikut andil dalam kejadian
tersebut.
Tok tok ... Terdengar
suara tulang jari tangan beradu dengan pintu kayu di rumahku, sejurus aku
menoleh dan melihat bayangan sesosok anak laki-laki dari balik jendela.
Aku menaruh gelas berisi cokelat itu ke meja,
kemudian membuka pintu perlahan, “ada apa lagi, Zach?” tanyaku to the point.
Zach tidak menjawab, ia melenggang masuk ke
rumahku seolah rumah ini adalah miliknya seraya menarik kerah belakang baju
piyamaku. Anak dengan mata minus 3
itu menghempaskanku ke sofa dengan kasar, mata hazelnya berkilat dalam amarah.
“Kau tidak seharusnya begini!”
Aku menatapnya penuh tanda tanya, “Zach, ada
ap—“
“Kau tidak seharusnya menjadi selemah ini!”
Dan luapan amarah itu terlampiaskan dari
bibirnya,
“Dengar!” Zach mengangkat daguku sehingga aku
menengadah ke arahnya, “aku paham akan perasaanmu, aku tahu kalau kejadian ini
akan membuatmu down, tapi … Tapi
tidak seharusnya kau menyerah secepat ini! Kau tidak seperti Isabella Hawkins
yang kukenal! Kau orang lain! Kau … KAU PECUNDANG!”
Manik mataku membulat, argumen sial apa yang
barusan kudengar dari bibir sahabatku itu?
“Pecundang?” tanyaku miris.
“Bukan! Kau bukan pecundang ….”
“..kalau kau berdiri tegar dan tidak menyerah
pada ancaman Devil!” seru Zach, kini
tangannya berpindah mencengkeram kedua bahuku.
Aku terkejut, mataku terasa panas ketika mata hazel itu menembus pandanganku. Yang
bisa kulakukan saat ini adalah menenggelamkan diri ke dalam pelukannya—
“Maafkan aku Zach! Aku bodoh! Aku lemah! Aku …
aku benar-benar tidak tahu situasi! Seharusnya aku berusaha untuk melindungi
orang-orang yang pernah menjadi sahabatku … hiks
….”
-dan
menumpahkan air mataku dalam dekapannya.
Zach mengusap pelan kepalaku seraya berkata, “aku
tahu, kau tidak akan menyerah begitu saja.”
Aku mengangguk cepat lalu melepaskan pelukanku,
“sekarang apa yang harus kita lakukan, Zach?”
Ia tersenyum, “kau ini … Semangatmu mudah
terlukis kembali ya. Baiklah, ikut aku,” katanya.
Sekali lagi aku mengangguk. Kusambar mantel
yang tergantung di pintu lalu kupakai boots-ku,
dan kami pun pergi menembus gundukan salju dengan motor Zach.
“Tidaaakk!
Enyah kau!”
“Ah!” Zach tiba-tiba saja tersentak ketika
kami sedang dalam perjalanan.
“Ada apa, Zach?” tanyaku.
“Devil …
Sepertinya makhluk itu telah menemukan keberadaan Atashia!” jawab Zach.
“Apa? Tidak mungkin! Bagaimana ini?!” ujarku
gusar.
“Che!
Sial, kita harus segera menghentikannya!” Zach mempercepat laju motornya.
“Arrgghh! Makhluk apa kau sebenarnya?!” seru
seorang gadis yang tengah terpojok.
“Yun Atashia ….” Sesosok monster yang seperti
sekelebat bayangan itu menggeramkan nama si gadis.
“Da-darimana ... darimana kau tahu namaku?!”
“Pengadu domba ... Bermuka dua ….”
Manik hitam dalam mata sipit gadis itu
membulat, “I-itu kan ….”
“Itu kata-kataku!”
Seorang gadis dan anak laki-laki tampak berdiri
di ambang pintu, menginterupsi kejadian mencekam yang sedang berlangsung.
“Isabel?” ujar Atashia.
Gadis di ambang pintu itu, aku, menyunggingkan
senyuman sinis, “yo!”
“Hey kalian melupakanku?” sela anak laki-laki
yang berada di sampingku.
“Zach juga? A-apa yang kalian lakukan?” tanya
Atashia, kebingungan.
“Apa? Ya menolongmu tentu saja,” jawabku
kalem, sembari memutar Death Diary di
tanganku.
“Kau ... pemiliknya ….” monster bernama Devil bertitel dewa kematian tersebut
menggeram ke arahku, sepasang matanya yang samar terlihat berkilat ketika
mendapati apa yang ada dalam genggamanku.
“Ah, senang bertemu anda, Yang Mulia …” aku
membungkuk sopan, “tapi tentu aku tidak senang jika aku harus bertemu Yang
Mulia di saat seperti ini!”
Kemudian aku merobek satu halaman di buku
harianku yang di sana tertera nama Atashia, Tiffany, dan Hayley.
Zach mengambil halaman itu dariku, kemudian ia
mengacungkannya dan menyalakan sebuah pemantik api.
“Dengan ini, semuanya berakhir!”
Busshhh. Api dari
pemantik itu dengan cepat menyulut kertas sial tersebut hingga habis tak
bersisa.
“Grrrrhhhaaaaa ….” Devil meraung ketika kertas tersebut telah berubah menjadi abu, dan
sedetik kemudian monster itu menghilang.
Atashia mengerjapkan matanya berkali-kali
sebelum akhirnya ia menatapku dengan berbinar-binar, “k-kau … menyelamatkanku?”
Mendengar kalimat bernada tanya itu aku
mendengus geli, “gak usah salah paham!” kataku.
Atashia memutar bola matanya, “aku juga gak nanya
ke kamu.”
“Memangnya matamu melihat kemana, eh?”
cibirku.
Zach hanya tersenyum melihatku berduel dengan
Atashia, tapi kemudian ia meringis pelan sembari mengibaskan tangannya.
“Zach, kau kenapa?” tanya Atashia.
Sejurus aku menoleh pada si kacamata, “eh?
Tanganmu ….”
“Ahahaha kenapa kalian panik begitu sih? ini hanya
tersulut api sedikit,” sanggah Zach. bisa-bisanya dia tertawa dengan raut wajah
yang kesakitan begitu.
“Hey, sipit, kau punya es atau air dingin?”
tanyaku.
“Sipit, sipit, sembarangan! Ada tuh di dapur!”
jawab Atashia ketus.
“Tahu begini, tadi kita biarkan saja dia
dimakan oleh Devil ….” gumamku sambil
bersungut-sungut.
“Ahahaha ….” Zach hanya tertawa garing.
“Aww! Oh! Aduh! Pelan-pel … aww!” Zach sibuk
ber-aww-aww-ria saat aku mengusapkan handuk dingin ke luka bakarnya.
“Maaf-maaf, tahan dulu, tahan ….” ujarku
sembari mengurangi penekanan pada lukanya.
“Nih, pakai ini,” Atashia menyodorkan salep
khusus luka bakar padaku, kemudian aku mengoleskannya tipis-tipis pada kulit
tangan Zach yang melepuh dan membalutnya dengan kasa perban.
Zach tersenyum, “makasih, Bel,” katanya.
“Ehem ….” Atashia berdehem pelan.
“Ah … Ahahaha, tentu kau juga,” kata Zach pada
Atashia, dan bisa ditebak, gadis itu langsung tersipu-sipu.
‘Huu
dasar, sipit!’ umpatku dalam hati sembari mempersembahkan deathglare terbaik untuk si gadis Korea.
“Nah, Zach, kan masalah kita sudah beres,
bagaimana kalau kita pulang?” tanyaku sambil menaikkan volume suaraku.
Zach menoleh padaku, “hm. Baiklah,” Ia pun
beranjak dari duduknya.
Atashia mengantar sampai depan pintu, “makasih
ya, Zach,” ucapnya dengan senyum ceria—
“Ehem ….”
“Ya, kau juga.” –kemudian senyum itu pudar.
“Ahaha, hati-hati ya,” kata Zach, kemudian ia
mengoper ke gigi 1 dan kami pun melaju.
Setelah dua orang itu pergi, gadis dengan
bandana yang melingkari kepalanya itu menyeringai,
“Kutemukan kau … Isabella Hawkins ….”
Kemudian gadis itu melebur menjadi sekelebat bayangan
hitam.
-to be continued-
No comments:
Post a Comment