---
Korban (7)
“Jane, ada apa?” tanyaku gusar.
“Dev-Devonne, Isabel ....” ucap Jane, kapten cheers berambut pirang itu terisak-isak saat menyebut nama Devonne.
“Kenapa dia!?” seruku sambil menarik seragam cheers Jane.
“Isabel, dia ... dia .…”
“Katakan padaku, apa yang terjadi!” nada suaraku meninggi.
“Di-dia terjatuh saat kami membentuk formasi piramida,” cerita Jane, kemudian ia langsung menangis di bahuku.
Aku terdiam mengatupkan kedua bibirku, kemudian kuusap kepala pirang itu perlahan seraya melayangkan pandanganku pada Zach yang melihat bagaimana keadaan Devonne.
Zach hanya menggeleng samar, aku tak mengerti arti dari gelengannya, tapi cerita Jane barusan cukup membuatku semakin merasa bersalah.
Devonne segera dilarikan ke rumah sakit, Zach hanya memperlihatkan foto-foto Devonne yang diambil dari ponselnya, sangat mengenaskan, darah dimana-mana, aku sampai ngeri melihatnya.
Saat di ruang tunggu, aku hanya duduk terpekur, kepalaku yang terbebani rasa bersalah tertunduk begitu dalam, kurasa sulit untuk menengadahkannya kembali.
Kurenggut ujung kemeja biru yang kukenakan, kemudian aku beranjak, “Zach, ki-kita pulang saja, aku ... aku merasa sangat bersalah, i-ini semua gara-gara aku … hiks ... hiks .…” kataku sambil terisak.
Zach ikut beranjak, “bukan, itu bukan salahmu, Bel .…” ia pun mendekapku ke bahunya, sedetik kemudian tangisku pecah.
“Ta-tapi itu semua terjadi karena aku memanggil Devil .…” ucapku di sela tangis.
“Kau kan tidak tahu kalau semua tulisanmu tentang mereka akan mendatangkan si dewa kematian itu, jadi tak ada yang perlu dipersalahkan,” ucap Zach, tangannya mengelus puncak kepalaku.
Namun hal itu tak lantas membuatku tenang dalam sekejap.
“Sshh ... Sudah, jangan menangis. Aku akan kehilangan semangatku jika melihatmu menangis. Aku berjanji, aku akan membantumu keluar dari masalah ini, Isabel .…” lanjutnya.
Tangisku perlahan berhenti, aku seperti terkesima dengan ucapan Zach barusan.
Aku juga baru sadar kalau sejak tadi aku di dekap olehnya.
“Ma-maaf ya, Zach,” kataku sambil melepaskan diriku dari dekapannya sekaligus menyembunyikan wajahku yang mulai blushing.
“Minta maaf untuk apa?” tanya Zach bingung.
“Ehm, ti-tidak, kita pulang saja, ya,” jawabku sambil menunduk malu.
Keesokan harinya, keadaan di sekolah ramai sekali. Berita kematian Devonne menyebar begitu cepat via broadcast messenger yang dikirim oleh anggota cheerleader kepada anak lainnya.
Ternyata maksud dari gelengan Zach kemarin adalah tidak ada lagi harapan untuk hidup bagi si mungil berambut auburn yang telah tidur dengan damai itu.
Sekilas kulihat Evelyn, Atashia, Tiffany, dan Hayley sangat bersedih. Bagaimana tidak, Devonne kan salah satu bagian dari mereka.
Huh, kalau saja mereka tahu bahwa aku di sini juga merasa sedih dan merasa bersalah atas kematian Devonne yang langsung tak langsung disebabkan olehku itu.
“Isabel!” Zach yang baru datang menepuk bahuku.
“Euh, iya?” Aku yang sedang melamun otomatis menoleh padanya.
“Tadi malam aku membaca kembali artikel itu ....” kata Zach.
“Oh ya? lalu bagaimana?” tanyaku.
“Hmm … aku sekarang paham maksud dari perkataanmu kemarin .…” kata Zach lagi, namun nada suaranya terdengar menggantung.
“Hah? Perkataanku yang mana, Zach?” Aku kebingungan, kenapa tidak langsung to the point saja sih?
“Yang kau bilang Devonne akan menjadi target pertama Devil, lalu setiap orang yang akan dibunuh inisial namanya akan membentuk kata Devil atau Death dan urutan matinya akan sama dengan susunan huruf dalam kata tersebut,” akhirnya Zach menyelesaikan perkataannya.
“Nah begitu dong, ngomong jangan setengah-setengah kan aku bingung,” ujarku.
“Iya, iya, maaf, habis aku juga bingung menjelaskannya padamu,” ujar anak berambut cokelat keabuan tersebut.
Aku tak menanggapinya dengan kata-kata, aku hanya mengangguk-angguk saja.
Kemudian Zach kembali bersuara, “Tapi … Isabel ….”
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku rasa Devil akan kembali mencari target,” Zach berbicara sambil menatapku dengan serius.
Aku terhenyak mendengar perkataan Zach. Benar juga, aku kan menulis nama mereka semua di buku itu, jadi mungkin saat ini yang diincar adalah .…
“Evelyn!” seru Zach dan aku bersamaan.
“Ternyata pikiranmu sama denganku,” ucap Zach kemudian.
“Jadi … Apa yang harus aku dan kau lakukan?” tanyaku.
“Yah, mau tak mau kita jelaskan lagi pada Evelyn dan antek-anteknya apa yang sedang terjadi,” jawab Zach.
“Mana mungkin mereka percaya, Devonne saja tidak percaya!” sanggahku.
“Tidak, Evelyn pasti percaya, dia kan melihat sendiri apa yang dilakukan Devil pada Devonne.”
“Hah? Maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
Zach terdiam sebentar sebelum mengatakan, “Evelyn bisa melihat ....”
Aku mengangkat sebelah alisku, “Jangan melawak deh, dia pasti bisa melihat!”
“Bukan, maksudku, dia bisa melihat hal yang tidak kasat mata!” tegas Zach.
Aku terkejut mendengarnya, “da-darimana kau tahu, Zach?”
“Euh itu .…” Zach menggaruk kepalanya seperti kebingungan.
“Katakan, Zach, darimana kau tahu?” desakku.
“Se-sebenarnya … ini rahasiaku, Isabel .…” ucap Zach.
“Maksudmu?”
Anak itu tampak ragu, namun akhirnya ia mengatakannya, “aku … aku bisa mengetahui kejadian yang akan datang!”
Aku semakin terkejut saja mendengarnya. Jadi, selama ini Zach sudah mengetahui apa-apa yang akan terjadi?
“Ma-maaf aku baru memberitahukannya padamu. A-aku tak ingin kau salah paham tentang hal ini, Isabel .…” ujar Zach, tertunduk.
Sempat diriku terdiam sebelum kutepuk pelan bahunya, “tak apa, Zach, lagipula berkat kemampuanmu itu kita bisa mengetahui rahasia buku harianku itu kan? Makasih ya, Zach .…” kataku seraya tersenyum.
Zach mengangkat wajahnya, “kau tidak marah kan?” tanyanya.
Aku pun menggeleng sambil tetap tersenyum sebagai jawabannya.
Zach ikut tersenyum, “baiklah, kalau begitu, ayo kita beritahu Evelyn.”
Aku dan Zach berlari menghampiri Evelyn yang tengah terisak, sesaat aku merasa ragu, tapi kemudian Zach mendorongku pelan,
“Hampiri saja,” bisiknya.
Aku pun mendekati
“Evelyn .…” ucapku tertahan.
Gadis berambut pirang itu menoleh padaku, matanya terlihat sembap, dengan suara parau ia menyahutiku, “Ada apa, Isabel?” tanyanya.
Aku sedikit terhenyak sebelum akhirnya aku meneteskan air mata dan memeluknya, “Maafkan aku … i-ini semua salahku, Ev .…” ujarku terisak.
Evelyn balas memelukku, “ti-tidak, Isabel … ini bukan salahmu, ini ... ini salahku. Kalau saja aku tak mengusulkan Devonne yang menjadi puncak formasi piramida, ten-tentu ia takkan pergi se-secepat i-ini … huaaa ….” Gadis itu pun menangis di bahuku.
Aku mengeratkan pelukan kami. Sudah lama sekali aku merindukan saat seperti ini, namun tentu saja aku tak berharap hal ini akan terjadi di saat berduka cita seperti sekarang.
“Sudahlah, kalian sama-sama tidak bersalah .…” kata Zach, ia menepuk bahuku.
Aku melepas pelukan eratku dengan Evelyn, “sebenarnya … ada sesuatu yang harus kami sampaikan padamu, Ev, berkaitan dengan kematian Devonne .…” kataku.
“Apa itu, Isabel?” tanya Evelyn.
“Ng … sebelumnya aku mau tanya, apa kau melihat sesuatu yang aneh lewat atau menyentuh Devonne sebelum ia terjatuh?” tanyaku.
Evelyn tampak berpikir, “apakah sesuatu yang kau maksud itu hitam dan besar, juga seperti sekelebat bayangan?”
“Zach?” Aku menoleh pada Zach yang sibuk dengan SmartPad-nya.
“Ah, iya, apa kau melihat wajah bayangan itu, Ev?” tanya Zach.
Sekali lagi Evelyn berpikir, “ya, sepertinya aku melihat wajah bayangan itu, tak bisa dijelaskan pokoknya sangat menyeramkan, tapi aku hanya melihatnya sekilas sebelum Devonne terjatuh,” cerita gadis itu.
“Nah, apa wajahnya seperti ini?” Zach menunjukan layar SmartPad-nya yang menampilkan gambar wajah menyeramkan yang dia ambil dari wordpress Andrew.
“Haaahh! Jauhkan dariku!” jerit Evelyn ketakutan.
“Iya, iya, maaf. Tapi apakah ini yang kau lihat?” tanya Zach lagi, seraya menjauhkan SmartPad itu dari jangkauan Evelyn.
“Euh … iya, wajahnya seperti itu,” kata Evelyn takut-takut sambil menunjuk layar gadget tersebut.
“Kau tau, Ev, ini wajah siapa, euh ... maksudku wajah makhluk apa?” tanyaku, dan Evelyn menggeleng.
“Dia itu ... Devil. Dia lah yang membunuh Devonne!” kataku.
“De-Devil?”
“Iya, dia datang karena ada yang memanggilnya melalui buku ini .…” aku mengeluarkan Death Diary dari tasku.
“Bukankah buku itu milikmu?” tanya Evelyn.
“Ya, dan Devil datang karena aku! Aku … aku menulis nama Devonne, namamu, Atashia, Tiffany dan Hayley saat aku … saat aku menulis keburukan kalian!” seruku dengan wajah yang memerah karena menahan emosi.
“Keburukanku? Kau menulis keburukanku dan teman-teman yang lain? Ta-tapi kenapa?” tanya Evelyn lagi.
“Karena … dulu aku membenci kalian! Kalian tiba-tiba menjauhiku, kalian mengucilkanku tanpa sebab, kalian membuatku merasa tak berguna! Padahal dulu kalian adalah sahabat terbaikku. Aku menuliskan keburukan yang kalian lakukan padaku lebih dari tiga kali, dan Devil pun datang karena menurut berita yang kubaca, tulisan-tulisan itu merupakan panggilan baginya!” jelasku,
Ehm ... Tampaknya aku terkesan seperti marah-marah daripada menjelaskan.
Evelyn terperangah mendengarnya, entahlah mungkin sekarang dalam hatinya ia sedang mengutuk diriku karena aku sudah menyeretnya dan juga tiga orang lainnya dalam masalah ini.
“Jadi … apa yang harus kita lakukan?” tanyanya dengan raut wajah bingung.
“Kita harus menghindar dari Devil,” kata Zach sambil membenarkan letak kacamatanya, “kurasa dia takkan membiarkan kita melakukan sesuatu, jadi lebih baik sekarang kita bergegas,” lanjutnya.
Berhubung keadaan sekolah sedang suram karena kematian Devonne, maka aku, Zach, dan Evelyn kabur ke rumah Zach.
“Ini rumahmu, Zach?” tanya Evelyn sesampainya di sana.
“Iya, Ev.”
“Wah bagus ya ...” kata Evelyn kagum, aku hanya menatap dia dan Zach bergantian.
“Haha makasih, ayo masuk,” ujar Zach.
Ketika kami semua sudah berada di dalam ia segera mengunci pintu.
Piipp. Suara notebook keluaran Acer itu terdengar begitu Zach membukanya, “Aku sudah mengaktifkan mode standby karena aku tahu kita akan menggunakannya,” Zach berkata padaku.
Aku tersenyum. Tentu saja, dia pasti telah mengetahui hal ini.
“Umm … Zach, adakah cara agar Devil itu tidak membunuhku?” tanya Evelyn.
“Tentu saja tidak, kita tak bisa mencegahnya, kita hanya bisa menghindarinya dan mengulur waktu,” jawab Zach seraya menatap tajam pada Evelyn, sementara si pirang itu hanya tersenyum kecut melihat Zach.
“Tapi aku punya cara, mungkin saja ini bisa menggagalkan semua rencana Devil,” kata Zach kemudian, tatapan anak berkacamata itu beralih pada notebook-nya.
“Bagaimana?” tanyaku sambil menggeser sedikit posisi dudukku agar bisa melihat apa yang ia lakukan dengan notebook-nya.
Zach membuka kembali halaman wordpress milik Andrew. Dengan cekatan ia meng-klik beberapa link ke tab baru.
“Aku salut dengan Andrew, dia sudah menyiapkan semuanya dalam wordpress ini, tampaknya dia juga bisa melihat masa depan sepertiku,” ucap Zach.
Aku hanya tersenyum samar, mungkin memang benar, tapi orang itu juga yang membawa bencana untukku.
“Ini dia!” seru Zach tiba-tiba, membuatku dan Evelyn terlonjak.
“Apa?” tanya Evelyn.
Zach membetulkan posisi kacamatanya yang agak merosot, “Tanda-tanda kemunculan Devil!” desisnya.
Tatapanku langsung otomatis menelusuri artikel itu, di sana tertera bahwa ada beberapa tanda jika sang dewa kematian muncul.
Tanda yang paling mencolok adalah langit yang tadinya cerah mendadak gelap dan angin kencang berhembus, lalu terdengar suara gaduh dari bala tentara Devil. Jika merasakan paranoid yang tidak wajar hal tersebut perlu diwaspadai, biasanya Devil akan langsung menyergap targetnya ketika si target lengah.
“Mengerikan ….” Evelyn berujar, wajahnya tampak pucat.
“Oke, waktu kematian Devonne kemarin juga aku merasa langit mendadak mendung,” kata Zach, membenarkan isi artikel tersebut.
Aku tidak menghiraukan Zach dan Evelyn, kubuka tab selanjutnya, artikel di situ sangat singkat, padat, dan jelas.
Isinya: “Hanya anak yang mempunyai penglihatan lebih yang bisa melihat wujud asli Devil. Foto di halaman ini hanya gambaran sekilasnya.”
Mataku tertuju pada foto sesosok monster berwajah tak karuan yang tadi ditunjukkan Zach pada Evelyn, lalu aku menatap mereka bergantian dan kembali terfokus pada foto yang katanya adalah gambaran sekilas sang dewa kematian.
‘Apa mereka bisa melihat wujud aslinya?’ pikirku.
“Isabel, kau kenapa?” tanya Zach, aku pun sontak tersadar.
“Euh … Tidak, tidak apa-apa,” jawabku seraya menaruh notebook Zach di sampingku.
“Oh iya, Zach, kau bilang kau punya cara untuk menggagalkan rencana Devil, bagaimana itu?” kataku mengalihkan pembicaraan.
“Hmm itu ….” Zach tampak berpikir, ia memangku dagunya dan menatap lurus pada vas bunga di depannya.
“Kenapa kau malah memperhatikan vas bunga?” tanyaku bingung.
“Tidak kok, aku hanya sedang berpikir ….”
“Zach!” tiba-tiba Evelyn menepuk bahu anak itu dengan kencang sehingga membuyarkan pikirannya.
Yang disebut namanya spontan menoleh pada Evelyn, mereka berdua bertatapan agak lama lalu setelahnya Zach menunjukkan raut wajah seperti itu-tidak-mungkin.
“Kita harus pergi!” ucap Zach seraya menutup notebook-nya.
“Apa? Tapi kenapa?” tanyaku semakin bingung, mereka berdua bertatapan lalu tiba-tiba Zach mengajak pergi, apakah ada suatu interaksi dari tatapan itu?
“Unexplained,” Zach menjawab singkat lalu ia menarik tanganku dan bergegas membuka pintu, namun tiba-tiba saja ….
Sraatt ... Praanngg ….
“Aaaaaaaaakkhh …!”
Aku sontak menoleh ketika suara vas bunga yang terjatuh dan jeritan Evelyn tertangkap oleh indera pendengaranku.
“Evelyn!” Aku memekik histeris saat melihat apa yang ada di depan mataku.
Tidak! Bagaimana bisa dia melakukannya secepat itu?!
Aku bergegas menghampiri Evelyn yang telah bersimbah darah, sementara Zach hanya terpaku menatap kami berdua di tempatnya sambil tangannya tetap tertahan pada handle pintu.
“Tidak, ini tidak mungkin! Evelyn, bangun! Evelyn Geiger, kau dengar aku, kan?! bangun! Bangun!” Aku meracau sembari mengguncang-guncang tubuh gadis yang telah ditinggalkan jiwanya itu.
“Zach! Apa yang kau lakukan di situ?! Sadarkan Evelyn, Zach! Zach!” Aku berteriak pada anak yang masih menatapku di ambang pintu itu, namun ia samasekali tidak bergeming.
Aku menangis tersedu-sedu sembari memeluk jasad gadis berambut pirang yang pernah menjadi sahabatku itu, bahkan kini rambut bawahnya sudah berubah warna menjadi merah pekat.
Zach menatap lantai rumahnya yang tergenang darah dengan sayu, ia tampak sedang berpikir, dan mungkin pikirannya denganku sama.
Kemarin Devonne, sekarang Evelyn, dan selanjutnya ….
Korban selanjutnya adalah ….
Atashia!
-to be continued-
No comments:
Post a Comment