(note: gomeeenn... hampir aja saya lupa update :" yosh, enjoy it!)
---
Sejarah Mengerikan (6)
Setibanya disana, keadaan telah jauh berbeda. Ada
sebuah ambulance dan mobil polisi
yang sirine-nya meraung-raung memekakkan telinga.
“Ada apa itu? Ayo kita lihat!” Zach kembali
menarikku.
Kami mendekati kerumunan orang-orang dan
betapa terkejutnya aku melihat pria yang baru saja bertemu denganku tadi tewas
dengan tubuh berdarah-darah, “An-Andrew!” seruku tertahan.
“Pak, sebenarnya ada apa ini?” Zach bertanya
pada seorang polisi.
“Pria ini tertabrak truk container yang ada di sana itu dan terlempar sampai sini,” jawab
pak polisi.
Aku dan Zach mengikuti arah polisi itu
menunjuk, terlihat sebuah truk container-yang pastinya berukuran sangat besar-yang bumper
depannya penyok. Sopir truk itu sedang diperiksa oleh polisi lainnya. Kami pun mundur
dari kerumunan itu, dan Zach melihat sebuah tas hitam besar teronggok di dekat
trotoar.
“Hey, Isabel, bukankah itu tas milik Andrew?”
tanya Zach sambil menepuk bahuku lalu menunjuk ke arah trotoar.
Aku menoleh, “Hah? Iya benar, itu tasnya! Coba
kita periksa Zach, siapa tahu ada petunjuk lain,” kataku.
Maka aku dan Zach berlari menuju tas itu dan
segera membongkarnya. Zach mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan sebagai
petunjuk.
“http://andrewsblog.wordpress.com/2015/02/19/sejarah-sang-dewa-kematian/,”
Zach membaca sebuah kertas bertuliskan link
artikel di wordpress.
“Apa itu, Zach?” tanyaku.
“Ini sepertinya link untuk menuju halaman wordpress
milik Andrew, coba kucari di Google,”
Zach mengeluarkan SmartPad dari tas pinggangnya
dan membuka situs Google, lalu
mengisi kotak pencarian dengan kata Andrewsblog.wordpress.com.
“Benar katamu, kita akan membutuhkan SmartPad untuk membuka link-nya,” ucapku.
“Nah, ketemu! Ternyata artikel itu ada di postingan paling awal,” kata Zach
kemudian.
“Aku mau lihat!”
Kami berdua membaca artikel tentang sejarah
sang dewa kematian itu dan juga buku harian milik Devil yang saat ini ada padaku. Menurut artikel tersebut, buku
harian ini hanya ada satu di dunia. Devil
akan datang setelah pemegang buku itu menuliskan keburukan seseorang lebih dari
tiga kali karena itu merupakan panggilan baginya, ia akan mencari dan membunuh
mereka yang keburukannya ditulis di dalam buku kemudian meminta separuh nyawa
dari pemegang buku tersebut sebagai balas jasa.
“Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana .…”
kataku lemas.
“Tunggu dulu, Isabel, artikelnya belum selesai,”
kata Zach.
Aku kembali melihat ke layar SmartPad dan melanjutkan membaca. Menurut
artikel itu setiap orang yang akan dibunuh oleh sang dewa kematian, inisial
namanya akan membentuk kata D-E-V-I-L
atau D-E-A-T-H jika digabungkan, dan
urutan pembunuhannya akan sama dengan susunan huruf dalam kata tersebut.
Bip ... bip … tiba-tiba SmartPad milik Zach low battery,
“Aduh kenapa baterainya habis disaat aku tidak membawa charger?” gerutu Zach.
Sementara Zach menggerutu kesal, aku terdiam
mencerna maksud dari paragraf dalam artikel yang tadi kubaca.
Jika mereka yang akan dibunuh itu Devonne dkk,
dan inisial namanya membentuk kata Devil atau
Death, berarti yang menjadi target
pertamanya adalah .…
Sebuah nama terlintas dalam benakku.
Devonne!
“Zach, kita harus mencari Devonne sekarang
juga! Ayo Zach, SmartPad-mu nanti
saja, ayo!” Aku segera berdiri dan menarik tangan Zach agar ikut bersamaku.
Kami berlari ke sekolah, karena aku tahu
Devonne mengikuti ekstrakurikuler cheerleaders
bersama Evelyn. Sampai di sana, aku dan Zach langsung berlari ke lapangan
basket, ternyata ekskul-nya sudah dimulai.
“Kenapa kau mencari Devonne?” tanya Zach.
“Dia akan menjadi target pertama Devil, Zach. Apa kau ingat? Setiap orang
yang akan dibunuh inisial namanya akan membentuk kata Devil atau Death dan
urutan matinya akan sama dengan susunan huruf dalam kata tersebut. Itu artinya
Devonne yang pertama dicari oleh Devil!”
jelasku panik.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan untuk
mencegahnya? Kau kan tidak diacuhkan olehnya, Bel,” kata Zach.
“Aku juga tidak tahu .…” ujarku bingung campur
cemas.
“Hmm ... Baiklah, biar aku yang jelaskan
padanya,” kata Zach.
Ia pun menghampiri Devonne yang sedang
berlatih, “Hai, Dev!” sapa si kacamata itu.
Devonne menoleh, “Oh, hai, Zach! Sedang apa
kau disini?” tanyanya ramah.
“Ehm aku …” Zach terlihat menggaruk kepalanya,
“aku habis mencari barangku yang ketinggalan kemarin dengan Isabel, hahaha .…”
jawabnya, kemudian tertawa.
“Oh, dengan dia ....” Devonne menoleh padaku
yang berdiri 5 meter di belakang Zach. Iris zamrudnya berkilat saat menatapku dengan
sinis, lalu pandangannya beralih lagi pada laki-laki di hadapannya itu, “lalu
kenapa kau menghampiri aku?” lanjutnya.
“Begini, sebenarnya aku ingin menjelaskan
sesuatu yang penting padamu, apa kau ada waktu?” tanya Zach.
“Hmm … Evelyn, katakan pada Jane aku break sebentar!” gadis mungil itu berseru
pada Evelyn, “ayo, kita bicara di sana saja,” kemudian ia mengajak Zach untuk
berpindah tempat.
Karena pembicaraan ini ada hubungannya
denganku, maka otomatis aku pun mengikuti mereka.
Kami duduk di bangku semen yang mengitari
pohon, lalu Zach mulai berbicara, “Devonne, kurasa sebaiknya kau ikut dengan
kami, kami khawatir akan terjadi sesuatu padamu, sesuatu yang bisa merenggut
nyawamu .…”
“Hah? Kau gila Zach! Kau menyumpahiku!?” seru
gadis berambut auburn itu, terkejut.
Aku langsung berdiri, “Bu-bukan begitu, Dev,
tapi .…”
“Kau juga! Apa ini akal-akalanmu? Sebenarnya
kau yang ingin mencelakaiku kan!?” tuduhnya seraya mendorong bahuku.
“Hey, kau tak perlu seperti itu! Ini bukan
akal-akalan Isabel, percayalah kami hanya berusaha menyelamatkanmu, Dev!” seru
Zach.
Devonne hanya tersenyum sinis, “Oh ya? Aku
takkan apa-apa tanpa kalian! Lihat saja .…” katanya angkuh, kemudian ia
berbalik badan lalu pergi meninggalkan kami.
Aku hanya menatap punggung si mungil itu
dengan sedih. Kuakui, aku membencinya, namun bagaimanapun juga dia pernah
menjadi sahabatku, dan aku merasa bersalah karena telah menuliskan takdir buruk
atas dirinya.
“Sudahlah, kita pulang saja,” Zach menepuk bahuku,
kami berdua melangkah gontai meninggalkan lapangan basket.
Namun baru saja kami sampai gerbang, terdengar
suara jeritan yang terdengar familiar dari lapangan basket, aku dan Zach
menoleh, kemudian menatap satu sama lain.
“Ada apa disana?” tanya Zach.
“Jangan-jangan ... Devonne!” seruku.
Kami langsung berlari kembali ke lapangan
basket untuk melihat apa yang terjadi. Setibanya di sana terdengar isak tangis
Evelyn di antara kerumunan anak-anak cheerleaders.
“Jane, ada apa?” tanyaku gusar.
“Dev-Devonne, Isabel ....” ucap Jane, kapten cheers berambut pirang itu terisak-isak
saat menyebut nama Devonne.
“Kenapa dia!?” seruku sambil menarik seragam cheers Jane.
“Isabel, dia ... dia .…”
-to be continued-
No comments:
Post a Comment