Pages

3 May 2013

Devil's Death Diary - chapter 6

(note: gomeeenn... hampir aja saya lupa update :" yosh, enjoy it!)
---

Sejarah Mengerikan (6)

Setibanya disana, keadaan telah jauh berbeda. Ada sebuah ambulance dan mobil polisi yang sirine-nya meraung-raung memekakkan telinga.

“Ada apa itu? Ayo kita lihat!” Zach kembali menarikku.

Kami mendekati kerumunan orang-orang dan betapa terkejutnya aku melihat pria yang baru saja bertemu denganku tadi tewas dengan tubuh berdarah-darah, “An-Andrew!” seruku tertahan.

“Pak, sebenarnya ada apa ini?” Zach bertanya pada seorang polisi.

“Pria ini tertabrak truk container yang ada di sana itu dan terlempar sampai sini,” jawab pak polisi.

Aku dan Zach mengikuti arah polisi itu menunjuk, terlihat sebuah truk container-yang pastinya berukuran sangat besar-yang bumper depannya penyok. Sopir truk itu sedang diperiksa oleh polisi lainnya. Kami pun mundur dari kerumunan itu, dan Zach melihat sebuah tas hitam besar teronggok di dekat trotoar.

“Hey, Isabel, bukankah itu tas milik Andrew?” tanya Zach sambil menepuk bahuku lalu menunjuk ke arah trotoar.

Aku menoleh, “Hah? Iya benar, itu tasnya! Coba kita periksa Zach, siapa tahu ada petunjuk lain,” kataku.

Maka aku dan Zach berlari menuju tas itu dan segera membongkarnya. Zach mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan sebagai petunjuk.

http://andrewsblog.wordpress.com/2015/02/19/sejarah-sang-dewa-kematian/,” Zach membaca sebuah kertas bertuliskan link artikel di wordpress.

“Apa itu, Zach?” tanyaku.

“Ini sepertinya link untuk menuju halaman wordpress milik Andrew, coba kucari di Google,” Zach mengeluarkan SmartPad dari tas pinggangnya dan membuka situs Google, lalu mengisi kotak pencarian dengan kata Andrewsblog.wordpress.com.

“Benar katamu, kita akan membutuhkan SmartPad untuk membuka link-nya,” ucapku.

“Nah, ketemu! Ternyata artikel itu ada di postingan paling awal,” kata Zach kemudian.

“Aku mau lihat!”

Kami berdua membaca artikel tentang sejarah sang dewa kematian itu dan juga buku harian milik Devil yang saat ini ada padaku. Menurut artikel tersebut, buku harian ini hanya ada satu di dunia. Devil akan datang setelah pemegang buku itu menuliskan keburukan seseorang lebih dari tiga kali karena itu merupakan panggilan baginya, ia akan mencari dan membunuh mereka yang keburukannya ditulis di dalam buku kemudian meminta separuh nyawa dari pemegang buku tersebut sebagai balas jasa.

“Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana .…” kataku lemas.

“Tunggu dulu, Isabel, artikelnya belum selesai,” kata Zach.

Aku kembali melihat ke layar SmartPad dan melanjutkan membaca. Menurut artikel itu setiap orang yang akan dibunuh oleh sang dewa kematian, inisial namanya akan membentuk kata D-E-V-I-L atau D-E-A-T-H jika digabungkan, dan urutan pembunuhannya akan sama dengan susunan huruf dalam kata tersebut.

Bip ... bip … tiba-tiba SmartPad milik Zach low battery, “Aduh kenapa baterainya habis disaat aku tidak membawa charger?” gerutu Zach.

Sementara Zach menggerutu kesal, aku terdiam mencerna maksud dari paragraf dalam artikel yang tadi kubaca.

Jika mereka yang akan dibunuh itu Devonne dkk, dan inisial namanya membentuk kata Devil atau Death, berarti yang menjadi target pertamanya adalah .…


Sebuah nama terlintas dalam benakku.


Devonne!


“Zach, kita harus mencari Devonne sekarang juga! Ayo Zach, SmartPad-mu nanti saja, ayo!” Aku segera berdiri dan menarik tangan Zach agar ikut bersamaku.


Kami berlari ke sekolah, karena aku tahu Devonne mengikuti ekstrakurikuler cheerleaders bersama Evelyn. Sampai di sana, aku dan Zach langsung berlari ke lapangan basket, ternyata ekskul-nya sudah dimulai.

“Kenapa kau mencari Devonne?” tanya Zach.

“Dia akan menjadi target pertama Devil, Zach. Apa kau ingat? Setiap orang yang akan dibunuh inisial namanya akan membentuk kata Devil atau Death dan urutan matinya akan sama dengan susunan huruf dalam kata tersebut. Itu artinya Devonne yang pertama dicari oleh Devil!” jelasku panik.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan untuk mencegahnya? Kau kan tidak diacuhkan olehnya, Bel,” kata Zach.

“Aku juga tidak tahu .…” ujarku bingung campur cemas.

“Hmm ... Baiklah, biar aku yang jelaskan padanya,” kata Zach.

Ia pun menghampiri Devonne yang sedang berlatih, “Hai, Dev!” sapa si kacamata itu.

Devonne menoleh, “Oh, hai, Zach! Sedang apa kau disini?” tanyanya ramah.

“Ehm aku …” Zach terlihat menggaruk kepalanya, “aku habis mencari barangku yang ketinggalan kemarin dengan Isabel, hahaha .…” jawabnya, kemudian tertawa.

“Oh, dengan dia ....” Devonne menoleh padaku yang berdiri 5 meter di belakang Zach. Iris zamrudnya berkilat saat menatapku dengan sinis, lalu pandangannya beralih lagi pada laki-laki di hadapannya itu, “lalu kenapa kau menghampiri aku?” lanjutnya.

“Begini, sebenarnya aku ingin menjelaskan sesuatu yang penting padamu, apa kau ada waktu?” tanya Zach.

“Hmm … Evelyn, katakan pada Jane aku break sebentar!” gadis mungil itu berseru pada Evelyn, “ayo, kita bicara di sana saja,” kemudian ia mengajak Zach untuk berpindah tempat.

Karena pembicaraan ini ada hubungannya denganku, maka otomatis aku pun mengikuti mereka.


Kami duduk di bangku semen yang mengitari pohon, lalu Zach mulai berbicara, “Devonne, kurasa sebaiknya kau ikut dengan kami, kami khawatir akan terjadi sesuatu padamu, sesuatu yang bisa merenggut nyawamu .…”

“Hah? Kau gila Zach! Kau menyumpahiku!?” seru gadis berambut auburn itu, terkejut.

Aku langsung berdiri, “Bu-bukan begitu, Dev, tapi .…”

“Kau juga! Apa ini akal-akalanmu? Sebenarnya kau yang ingin mencelakaiku kan!?” tuduhnya seraya mendorong bahuku.

“Hey, kau tak perlu seperti itu! Ini bukan akal-akalan Isabel, percayalah kami hanya berusaha menyelamatkanmu, Dev!” seru Zach.

Devonne hanya tersenyum sinis, “Oh ya? Aku takkan apa-apa tanpa kalian! Lihat saja .…” katanya angkuh, kemudian ia berbalik badan lalu pergi meninggalkan kami.

Aku hanya menatap punggung si mungil itu dengan sedih. Kuakui, aku membencinya, namun bagaimanapun juga dia pernah menjadi sahabatku, dan aku merasa bersalah karena telah menuliskan takdir buruk atas dirinya.

“Sudahlah, kita pulang saja,” Zach menepuk bahuku, kami berdua melangkah gontai meninggalkan lapangan basket.

Namun baru saja kami sampai gerbang, terdengar suara jeritan yang terdengar familiar dari lapangan basket, aku dan Zach menoleh, kemudian menatap satu sama lain.

“Ada apa disana?” tanya Zach.

“Jangan-jangan ... Devonne!” seruku.

Kami langsung berlari kembali ke lapangan basket untuk melihat apa yang terjadi. Setibanya di sana terdengar isak tangis Evelyn di antara kerumunan anak-anak cheerleaders.

“Jane, ada apa?” tanyaku gusar.

“Dev-Devonne, Isabel ....” ucap Jane, kapten cheers berambut pirang itu terisak-isak saat menyebut nama Devonne.

“Kenapa dia!?” seruku sambil menarik seragam cheers Jane.


“Isabel, dia ... dia .…”


-to be continued-

No comments:

Post a Comment