Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang janggal terjadi dalam hidupku. Akhir-akhir ini aku merasa sering sekali mengalami mimpi aneh yang sangat buruk.
Dalam mimpiku aku melihat bahwa 5 anak yang kubenci itu mati satu per satu secara mengenaskan di hadapanku, dan anehnya lagi mimpi itu selalu terjadi sehabis aku menuliskan kejadian tak mengenakkan bersama mereka yang ku alami, di buku harian bersampul hitam glossy yang waktu itu kudapat dari seseorang bernama Andrew.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, segera kuambil buku harian yang katanya bernama D’s Death Diary itu.
Aku mulai berpikir, sebenarnya apa itu D’s? Apakah itu sebuah nama? Karena setahuku tanda (‘s) itu mengartikan kepemilikan, lalu jika memang iya itu sebuah nama, siapa pemilik diary ini sebenarnya?
Sebaiknya aku bertanya pada Zach soal masalah ini, entahlah sekarang aku jadi merasa gila sendiri hanya karena gara-gara 5 gadis, buku harian dan mimpiku itu.
Teleponku pun tersambung ke nomor Zach, lalu terdengar sapaan dari sana.
“Halo?”
“Umh halo, Zach, apa kau sibuk hari ini?”
“Tidak, waktuku senggang. Ada apa Isabel?”
Sejenak aku menghela napas, “Baiklah kalau begitu, aku ingin ke rumahmu boleh ya?”
“Oh haha tentu saja, kapan kau pergi?”
“Kira-kira 15 menit lagi Zach, bagaimana?”
“Okay, aku akan menjemputmu 15 menit lagi.”
“Eh, apa? Ti-tidak usah Zach, kan aku yang mau ke rumahmu ….”
“Haha ya sudah aku juga yang mau menjemputmu, jadi boleh kan?”
“Haha baiklah, aku akan bersiap, bye .…”
Setelah menutup teleponnya aku pun berlari ke kamarku untuk bersiap-siap.
Sesuai janji, 15 menit kemudian Zach tiba di rumahku dengan motornya. Dia memakai jumper hitam, jeans panjang dan converse abu-abu. Helm-nya hitam senada dengan warna motor Ninja-nya yang juga hitam.
Setengah berlari aku menuruni tangga sambil menenteng buku harian dan ponselku, lalu aku mengambil flat shoes putih di rak dan memakainya kemudian keluar rumah menemui Zach.
“Hai, Zach!” sapaku sembari menutup pintu.
“Hai juga Bel, tumben rambutmu dikuncir,” Zach berkomentar.
“Memangnya kenapa?” tanyaku bingung sambil memegang rambutku.
“Tidak apa-apa, kau hanya terlihat lebih manis, ayo naik!” jawab Zach.
Eh? Apa katanya? Terlihat lebih manis? Apa aku tak salah dengar? Ah sudahlah lupakan saja.
Zach mengendarai motornya dengan santai tapi tetap cepat, kurasa dia sangat tertib lalu lintas.
Namun terlihat dari kejauhan beberapa orang polisi sedang berpatroli. Astaga, aku baru ingat kalau aku tak memakai helm!
“Zach, ada polisi!” seruku panik.
“Lalu kenapa kalau ada polisi?” tanya Zach.
“Kau ini bagaimana sih? Aku kan tidak pakai helm!” jawabku masih panik.
“Oh iya ya, aku juga belum punya SIM,” kata Zach, tapi nada suaranya terdengar datar-datar saja.
“Apa!? Lalu nasib kita gimana?” dan sekarang aku pun bertambah panik.
“Tenanglah Bel, cukup terobos area patrolinya dan selesai sudah,” jawab Zach kalem.
Aku menepuk dahiku, anak ini tampaknya benar-benar mengagungkan pepatah “Selesaikan masalah dengan kepala dingin.” makanya ia tidak terlihat panik sedikitpun.
“Kau yakin, Zach? Kurasa kita tidak bisa menerobos di jalanan padat seperti ini,” tanyaku ragu.
Masih sekalem tadi Zach pun menjawab, “Jangan bilang tidak bila kita belum mencoba, Isabel .…"
Ah menyerah sajalah, anak ini benar-benar berpegang teguh pada pepatah, “Baiklah, lakukan Zach!” kataku.
Maka tanpa tanggung-tanggung, Zach menerobos area patroli dan dua lampu lalu lintas.
Kuulangi Tanpa. Tanggung. Tanggung!
Gila kan? Siapapun yang membaca scene ini pesanku hanya satu: Don’t even dare to try this!
Kami pun sampai di rumah Zach, aku langsung turun dari motor sambil menggerutu tak jelas.
“Gila kau, Zach! Untung tak satupun dari polisi itu yang melihatmu! Ugh aku tarik kembali pikiranku tentang dirimu, kukira kau tertib lalu lintas ternyata tidak!” seruku bertubi-tubi.
Zach melepas helm-nya kemudian melongo melihatku begitu, “Apaan sih kau ini? Aku kan berusaha menyelamatkanmu juga,” ujarnya.
“Tapi kan tidak begitu caranya!” balasku kesal.
“Iya, iya, baiklah, maaf ….” kata Zach sembari menggaruk kepalanya.
“Ya sudah, jangan diulangi lagi!”
“Aduh kau ini jangan mengerikan begitu dong, hahaha … ayo ke dalam,” kata Zach lagi sembari tertawa garing.
Ketika di dalam, “Sebenarnya ada apa kamu tiba-tiba ke rumahku Bel?” tanya Zach ketika kami berdua telah duduk manis di sofa.
“Oh iya, sampai lupa, aku ke sini ingin bertanya padamu soal buku harian ini, Zach,” jawabku seraya meletakkan buku harianku yang sedari tadi kugenggam di atas meja.
“Buku ini?” Zach mengambilnya, “Memangnya buku ini kenapa?” Lanjut si kacamata.
“Anu ... entah kenapa, aku merasa ada kejanggalan antara hidupku, buku itu dan 5 orang lainnya,” ucapku.
“Kejanggalan? Dengan 5 orang lainnya? Memang siapa saja mereka itu?”
“Mereka … Devonne, Evelyn, Atashia, Tiffany dan Hayley,” jawabku.
“Hmm ….” Zach manggut-manggut, “coba ceritakan padaku kejanggalanmu itu,” pintanya.
Maka aku pun menceritakan semuanya secara detail, Zach mendengarkan ceritaku sambil membuka halaman buku harianku yang waktu itu sobek setengahnya.
Tiba-tiba saja, dia membanting buku itu ke meja.
“Andrew!”
“Uh?” Aku menoleh pada Zach.
“Semuanya ada pada Andrew!” Seru Zach.
“Apa maksudmu? Dan apa hubungannya dengan dia?” tanyaku tak mengerti.
“Isabel, coba kau ingat, sewaktu kau membeli buku ini di festival, ada halaman yang sobek bukan?” Kata Zach.
“I-iya lalu kenapa?” tanyaku lagi.
“Bagian yang sobek itu memenggal sebuah kalimat, coba kau baca!” Zach menunjuk buku itu, aku mengambilnya dan membaca halaman yang dimaksud.
“Bacakan kalimat yang terpenggal itu, Bel!” suruh Zach.
“’Berhati-hatilah pada sang pemilik buku, The D …’ kau benar, Zach, waktu itu aku sempat membaca tulisan ini!” seruku.
“Iya, dan apa kau tahu, Bel?”
“Tahu soal apa?”
“Saat itu aku melihat Andrew menggenggam potongan kertas, entah itu kertas apa aku tidak tahu, tapi sekarang aku yakin kalau kertas itu adalah sobekan dari halaman ini!” cerita Zach.
“Maksudmu, dia sengaja merobek halaman ini, agar aku tak tahu siapa pemilik buku ini sebenarnya? Begitu Zach?” tanyaku, akhirnya aku mulai mengerti.
“Iya, dan kita harus mencari dia untuk menemukan potongan kertas itu!” kata Zach.
“Apa? Tapi mencari dimana? Aku bahkan agak lupa wajahnya,” ujarku.
“Aku masih ingat wajahnya, dan aku sempat bertemu dengannya sepulang dari festival.”
“Kalau begitu, ayo!” kataku sambil beranjak dari duduk.
Zach bergegas ke kamarnya lalu mengambil ponsel dan SmartPad[1] miliknya, setelah itu dia keluar menemui aku.
“SmartPad? Untuk apa?” tanyaku heran saat melihat ia memasukkan gadget yang sedang popular itu ke tas pinggangnya.
“Percayalah, kita akan membutuhkannya nanti, ayo!” jawab Zach tersenyum, dia pun menarikku keluar rumahnya.
“Jadi … kemana kita harus mencari Andrew?” Aku menoleh pada Zach.
“Kurasa kita harus mencarinya di pinggiran kota,” kata anak dengan miopi tersebut.
“Kenapa bisa sampai ke sana?”
“Andrew itu tampaknya berasal dari luar kota Oklahoma, dia datang kesini untuk mencari pekerjaan, dan yang aku tahu perantau seperti dia biasanya tinggal di pinggiran, bukan begitu?”
Aku tersenyum, “Ya kurasa kau benar Zach, kau pintar!” seruku.
Zach juga tersenyum, “Tapi … ada satu masalah ....” katanya.
“Masalah apa?”
“Belum tentu kan dia masih tinggal di sana, bisa saja dia pindah atau pulang ke daerah asalnya.”
Perkataan Zach barusan itu membuatku lesu seketika sampai menghentikan langkahku, “Kau kenapa Isabel?” tanya Zach yang melihatku berhenti.
“Ugh, kurasa percuma saja kita mencari dia, Zach!” rutukku.
“Jangan menyerah begitu saja dong, kau mau mati penasaran memikirkan siapa pemilik buku ini sebenarnya?”
Aku terdiam sejenak, “Tapi kan kertas itu bisa saja sudah dibuang oleh Andrew!”
“Kalaupun Andrew sudah membuangnya, kita tanyakan saja dimana terakhir ia membuang kertas itu!” balas Zach.
“Itu membuang-buang waktu saja!” seruku kesal.
“Kau yang membuang waktu dengan berbuat seperti ini! Kau dan buku harianmu itu yang membuat masalah!” kata Zach, nada suaranya meninggi, sepertinya emosi anak itu tersulut juga.
“Terserah, aku pulang! Lupakan masalah ini!” Aku pun membanting buku itu dan pergi meninggalkan Zach.
Aku berjalan seorang diri menyusuri jalan menuju rumahku yang agak jauh dari rumah Zach. Sebenarnya ada apa sih dengan hidupku, kenapa jadi berantakan seperti ini hanya gara-gara sebuah buku harian? Sekarang Zach jadi marah padaku, lalu siapa yang akan menemaniku nanti?
Sambil berjalan sesekali aku menoleh ke kanan atau ke kiri, dan tatapanku tertuju pada seorang pria yang tengah duduk di emperan toko. Dia berjaket lusuh dan membawa tas besar ….
Tunggu, aku mengenalnya, dia Andrew!
Aku memicingkan mataku supaya bisa lebih yakin kalau itu adalah Andrew.
Saat jalanan lengang, aku pun berlari ke seberang dan menghampiri pria itu, ternyata benar dugaanku tadi, tanpa ragu aku menegurnya, “Hey kau, Andrew!”
Pria itu tampak terkejut melihatku, “K-kau ....”
“Aku Isabella, kau ingat? Yang membeli Death Diary saat festival di balai kota beberapa bulan lalu,” kataku.
“Iya, ak-aku ingat sekali,” jawab Andrew, ia terlihat gelisah.
“Aku ingin bertanya padamu soal buku itu .…”
“Aku … aku sudah menduganya, saat itu akan tiba!” sela Andrew, ia benar-benar terlihat frustasi.
“Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
“Ini, ambillah! Aku tahu kau mencari ini! Selamatkan dirimu dan orang-orang yang kau tulis di buku itu! Devil akan segera datang! Pergilah! Pergi temui teman-temanmu sebelum terlambat!” seru Andrew sambil melemparkan potongan kertas dari halaman buku yang sobek itu dan berperilaku seperti orang sakit jiwa.
“Ta-tapi darimana kau tahu aku mencari ini?” tanyaku bingung, sangat bingung.
“Itu tak penting! Pergilah yang jauh! Tinggalkan aku! Pergi!” Andrew kembali meracau, aku yang ketakutan langsung berlari meninggalkannya.
Aku berlari ke jalan yang sebelumnya kulewati secepat mungkin. Aku harus menemui Zach, tidak peduli dia marah padaku atau tidak yang jelas aku membutuhkannya saat ini.
Dari kejauhan aku melihat Zach di depan rumahnya, “Zach! Tunggu!” seruku, ia menoleh namun tak berkata apapun, tapi dari raut wajahnya terpampang jelas kalau ia terkejut melihatku berlari secepat itu.
Aku berhenti tepat di depan Zach, “Huh … aku ... huh … aku .…”
“Stop. Atur dulu napasmu, Bel,” sela Zach.
Sejenak kutarik napas perlahan lalu menghembuskannya, “Huh … Zach, aku … aku menemukannya! Aku menemukan Andrew beserta potongan kertasnya!” ucapku sembari mengacungkan benda yang tadi dilemparkan Andrew padaku.
“Hah? Dimana dan kapan kau bertemu dia?” tanya Zach.
“Di emperan toko sebelah sana, barusan saja aku bertemu dengannya. Tapi dia seperti orang gila, meracau menyuruhku pergi sambil membawa kertas ini, dia juga berkata Devil akan segera datang,” ceritaku.
Zach manggut-manggut mendengarnya, “Oh begitu … eh apa katamu tadi? Devil?”
“Iya, Devil, kenapa?” tanyaku.
“Sebentar … coba kulihat kertasnya,” Zach mengambil potongan kertas itu dan mencocokkannya dengan halaman yang sobek pada buku harianku.
“Hey kau mengambil buku itu? Kupikir kau membiarkannya saja,” kataku, Zach hanya tertawa kecil menanggapinya.
Manik mata dalam iris hazel Zach memindai kalimat-kalimat yang tertera di halaman itu. Sesaat kemudian ia menutup bukunya dan menatapku, tanpa berkata apa-apa ia menyodorkan benda bersampul hitam itu padaku.
“Kenapa kau berikan padaku?” tanyaku bingung.
“Bacalah halaman yang sobek itu, tapi jangan terkejut,” suruhnya.
Aku pun membacanya, disitu tertulis: “Berhati-hatilah pada sang pemilik buku, The Devil, sang dewa kematian. Ia akan mencari orang-orang yang keburukannya kau tulis lebih dari tiga kali di dalam buku ini lalu membunuh mereka untuk memuaskanmu, dan sebagai balas jasa berikanlah separuh nyawamu untuk sang dewa kematian.”
Gulp. Aku menelan ludah setelah membacanya, lalu aku menatap Zach, “Bagaimana ini?” tanyaku ketakutan.
“Kita harus temui Andrew sekarang juga sebelum terlambat!” Zach langsung menarik tanganku, kami pun berlari menuju emperan toko yang tadi.
-to be continued-
[1] SmartPad itu ceritanya gadget ciptaan saya *eaahh* bentuknya segi enam, touchscreen dilengkapi dengan pen. Ada kamera sama flashlight-nya juga lho! tapi ini nggak dijual... *yaiyalah orang gua ngarang sendiri wkwk*
No comments:
Post a Comment