(note: yeah, hari Jum'at tiba~ sesuai janji, saya update chap. 4 nya. enjoy~)
---
Masalah (4)
Seperti biasanya, saat ibuku membuka gorden
jendela kamarku, aku langsung terbangun.
“Lekaslah mandi!” kata Ibu setelah melihatku
duduk di pinggir ranjang sembari mengusap-usap wajahku.
“Iya,” balasku sebelum aku beranjak ke kamar
mandi.
Tak perlu waktu lama untukku membersihkan
badan. Sehabis mandi, aku memakai seragam khusus sekolahku, rok bermotif
kotak-kotak krem selutut, kemeja lengan pendek putih dan almamater kelas yang berwarna hitam dengan garis biru di bagian
bawah lengan dan kerahnya. Aku sedang malas menata rambut jadi langsung saja
aku turun ke bawah untuk sarapan bersama Ayah dan Ibu.
“Hey, dear,
kenapa rambutmu seperti belum disisir?” tanya Ayah.
“Sudah kok, enak saja Ayah ini!” sanggahku,
padahal memang belum, aku hanya merapikan rambutku dengan jari.
“Oh begitu toh, tapinya kurang rapi, dear,” Ayahku berkomentar.
“Iya, iya, nanti kurapikan lagi,” ujarku
sambil duduk di kursi makan dan melahap sepotong pancake.
“Ya sudah, habiskan pancake-mu, kita berangkat sekarang,” ucap Ayahku seraya beranjak
dari kursi.
Aku mengangguk-angguk sambil menelan pancake terakhir di mulutku, lalu
meneguk susu cokelat yang baru saja dibuatkan Ibu.
“Bu, aku dan Bella berangkat ya,” pamit Ayah
sambil mengecup kening Ibu.
“Iya, hati-hati di jalan ya,” kata Ibuku,
tersenyum.
Aku masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi
belakang, sementara Ayahku duduk di balik kemudi.
“Kau ini, selalu saja duduk di belakang!” gerutu
Ayah.
“Keselamatan anak nomor satu,” kataku enteng.
“Ah, bilang saja kau malas duduk di sebelah Ayah,”
kata beliau sambil menurunkan rem tangan.
‘Hehehe Ayah
tahu saja,’ batinku sambil menahan tawa.
Ketika mobil berhenti karena lampu merah, aku
melihat seorang anak laki-laki yang memakai seragam sama denganku, hanya saja
ia memakai celana panjang krem bukan rok motif kotak-kotak sepertiku. Setelah
kuperhatikan lebih baik ternyata dia Zach.
Aku pun membuka kaca mobil, “Hey, Zach!” seruku
saat ia lewat di trotoar samping mobilku.
Zach tampak terkejut, “Oh, kau Isabel, kok
kita bisa bertemu di sini ya?”
“Hahaha aku tak tahu, eh iya kau ikut denganku
saja, boleh kan, Yah?” ajakku sambil bertanya pada Ayah.
“Tentu saja,” jawab Ayahku sambil melirik dari
kaca spion.
“Hmm … tapi .…” Zach terlihat berpikir, angka
di countdown timer semakin mendekat
ke angka nol.
“Ayolah, Zach!”
“Baiklah,” Zach pun membuka pintu dan masuk ke
dalam mobilku, bersamaan dengan itu lampu hijau menyala.
“Wah, untung kau cepat Zach, hahahaha ….” ujarku
kemudian tertawa.
“Ahaha iya ….” Zach hanya tertawa kalem.
“Kau kenapa?” tanyaku sembari mengangkat
sebelah alis.
“Gak apa-apa, hanya saja aku gak enak dengan Ayahmu
….” jawab anak berambut cokelat keabuan yang duduk di sebelahku ini.
“Memangnya kenapa? Kau kan sahabatku, Zach,”
kataku.
“Iya aku tahu, lupakan saja, makasih ya,” ucap
Zach, ia menatapku lalu tersenyum.
Aku membalas senyumnya, “Tak masalah, daripada
nanti kau jalan kaki.”
Zach hanya tertawa kecil lalu ia melepas
kacamata minus Levi’s nya dan
mengusap lensanya dengan ujung kemeja seragam putih yang ia kenakan.
Melihat hal itu aku langsung menarik selembar
tisu dan memberikannya pada Zach, “Pakai ini saja,” ujarku.
Zach menoleh ke arahku lalu tersenyum, “Thanks!” Katanya seraya mengusap kembali
lensa kacamatanya.
Entah kenapa aku seperti terpaku menatap anak
laki-laki di hadapanku ini. Zach terlihat agak berbeda jika tanpa kacamata yang
bertengger di depan mata hazelnya
itu.
Ehm … tidak berbeda juga sih, tapi, bagaimana
ya, menurutku ia terlihat lebih … lebih ... yah lebih tampan mungkin, eh
tidak-tidak, ia memang tampan bukan? Wajarlah dia laki-laki kok.
“Bella … Bella … kau mau sekolah apa ikut Ayah
ke kantor?”
“Eh?” Aku tersadar dari ketakjubanku, “Iya aku
sekolah kok, Yah, memangnya sudah sampai ya?” tanyaku kemudian.
“Aduh kau ini, sudah daritadi, dear .… lihat, Zach saja sudah turun,”
jawab Ayah sambil geleng-geleng kepala.
“Wah, hahaha aku tidak sadar, baiklah aku
turun ya, dag .…” kataku dengan wajah tak berdosa.
Setelah mobil meninggalkanku dengan Zach di
lobby sekolah, kami pun melangkah menuju kelas kami.
Ketika tengah berjalan di koridor, aku dan
Zach berpapasan dengan Devonne dan Atashia. Aku berpura-pura tak peduli dan
terus melangkah-
“Wah wah ... Lihat, si maniak yang sok stay cool itu!”
-namun
nyatanya mereka malah memaksaku untuk berhenti.
Aku mendelik pada mereka, “Siapa yang kau
sebut maniak itu, eh, pengkhianat?” semburku.
“B-Bella!” ucap Zach tertahan.
“Apa? Pengkhianat kau bilang? kau sedang
berkata untuk dirimu sendiri ya?” Nada penghinaan terluncur dari mulut gadis
keturunan Korea itu dan melingkupi indera pendengaranku.
Aku menggertakkan gigi dan tanganku terkepal
kuat, gadis itu dengan santainya melanjutkan argumentasi dirinya tentang
diriku.
“Maniak yang mencampakkan sahabatnya demi ketenaran belaka. Che, kau benar-benar ….”
“Pengadu domba! Pengkhianat! Penusuk bermuka
dua! Itu kau!” seruan sarkatis berunsur kemarahan dariku menyeruak,
menginterupsi argumen sialnya itu.
Si gadis keturunan Korea, Atashia, tampak
menegang saat aku memakinya dengan telunjuk yang mengarah pada dirinya,
sementara si mungil berambut auburn, Devonne,
hanya diam dengan tatapan sinisnya yang menusuk iris biru safirku.
“Asal kau tahu, nona Hawkins, watakmu itu
benar-benar rendah!”
“Tutup mulut sialmu! Setelah menjauhiku tanpa
alasan, sekarang kau datang dan berani menghinaku seperti itu, siapa yang
berwatak rendah, eh?!”
“Be-Bella, sudah, cukup!” Zach menahan tubuhku
yang hendak menerjang dua gadis di hadapanku itu.
Atashia hanya mendengus dan menampakkan
senyumnya, yang menurutku menjijikkan, lalu berbalik badan meninggalkan aku
dengan Zach.
“Argh! Gadis sialan!” Aku memaki seraya
menghentakkan tangan Zach yang mencengkeram bahuku.
“Bella!”
“Apa?!” Aku menoleh pada Zach dengan kesal.
“Kau … Kenapa jadi begini, Bel?” tanya Zach, iris
hazelnya menatapku dengan sendu.
Aku hanya mendengus sembari mengalihkan
pandanganku darinya.
Masih dengan tatapan sendunya, Zach berkata
padaku, “Aku tahu kau benar-benar marah, tapi bukan begini cara melampiaskan-”
“Sudahlah, Zach!” Tanpa sadar nada suaraku
naik satu oktaf. Aku pun memutar tubuhku, kakiku hendak melangkah ketika anak
berkacamata itu mendekapku dari belakang.
“Jika kau marah, beginilah cara
melampiaskannya,” bisik anak itu, tepat di telingaku.
Syarafku seolah menghentikan semua pekerjaannya,
tak sedikitpun aku mampu beranjak saat desahan napasnya yang hangat menyentuh
leher belakangku. Sedikit banyak aku menghirup aroma khas anak laki-laki dari
tubuh Zach.
Tanganku tergerak untuk menggengam lengan Zach
yang melingkari leherku, kemudian perlahan aku melepaskannya.
Namun bukan berarti aku tidak menyukainya.
“Zach … maaf ….” lirihku.
Dari balik kacamatanya, iris hazel itu menembus si biru safir di
lensa mataku. Zach mengulas senyumnya, “Lebih baik kita ke kelas,” ujarnya
lembut.
Aku hanya mengangguk, kemudian kami berjalan
bersama.
Tanpa disadari, sepasang mata tengah memperhatikan
gerak-gerik kedua anak tersebut.
-to be continued-
No comments:
Post a Comment