Pages

26 April 2013

Devil's Death Diary - chapter 4

(note: yeah, hari Jum'at tiba~ sesuai janji, saya update chap. 4 nya. enjoy~)
---

Masalah (4)

Seperti biasanya, saat ibuku membuka gorden jendela kamarku, aku langsung terbangun.

“Lekaslah mandi!” kata Ibu setelah melihatku duduk di pinggir ranjang sembari mengusap-usap wajahku.

“Iya,” balasku sebelum aku beranjak ke kamar mandi.

Tak perlu waktu lama untukku membersihkan badan. Sehabis mandi, aku memakai seragam khusus sekolahku, rok bermotif kotak-kotak krem selutut, kemeja lengan pendek putih dan almamater kelas yang berwarna hitam dengan garis biru di bagian bawah lengan dan kerahnya. Aku sedang malas menata rambut jadi langsung saja aku turun ke bawah untuk sarapan bersama Ayah dan Ibu.

“Hey, dear, kenapa rambutmu seperti belum disisir?” tanya Ayah.

“Sudah kok, enak saja Ayah ini!” sanggahku, padahal memang belum, aku hanya merapikan rambutku dengan jari.

“Oh begitu toh, tapinya kurang rapi, dear,” Ayahku berkomentar.

“Iya, iya, nanti kurapikan lagi,” ujarku sambil duduk di kursi makan dan melahap sepotong pancake.

“Ya sudah, habiskan pancake-mu, kita berangkat sekarang,” ucap Ayahku seraya beranjak dari kursi.

Aku mengangguk-angguk sambil menelan pancake terakhir di mulutku, lalu meneguk susu cokelat yang baru saja dibuatkan Ibu.

“Bu, aku dan Bella berangkat ya,” pamit Ayah sambil mengecup kening Ibu.

“Iya, hati-hati di jalan ya,” kata Ibuku, tersenyum.

Aku masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang, sementara Ayahku duduk di balik kemudi.

“Kau ini, selalu saja duduk di belakang!” gerutu Ayah.

“Keselamatan anak nomor satu,” kataku enteng.

“Ah, bilang saja kau malas duduk di sebelah Ayah,” kata beliau sambil menurunkan rem tangan.

‘Hehehe Ayah tahu saja,’ batinku sambil menahan tawa.


Ketika mobil berhenti karena lampu merah, aku melihat seorang anak laki-laki yang memakai seragam sama denganku, hanya saja ia memakai celana panjang krem bukan rok motif kotak-kotak sepertiku. Setelah kuperhatikan lebih baik ternyata dia Zach.

Aku pun membuka kaca mobil, “Hey, Zach!” seruku saat ia lewat di trotoar samping mobilku.

Zach tampak terkejut, “Oh, kau Isabel, kok kita bisa bertemu di sini ya?”

“Hahaha aku tak tahu, eh iya kau ikut denganku saja, boleh kan, Yah?” ajakku sambil bertanya pada Ayah.

“Tentu saja,” jawab Ayahku sambil melirik dari kaca spion.

“Hmm … tapi .…” Zach terlihat berpikir, angka di countdown timer semakin mendekat ke angka nol.

“Ayolah, Zach!”

“Baiklah,” Zach pun membuka pintu dan masuk ke dalam mobilku, bersamaan dengan itu lampu hijau menyala.

“Wah, untung kau cepat Zach, hahahaha ….” ujarku kemudian tertawa.

“Ahaha iya ….” Zach hanya tertawa kalem.

“Kau kenapa?” tanyaku sembari mengangkat sebelah alis.

“Gak apa-apa, hanya saja aku gak enak dengan Ayahmu ….” jawab anak berambut cokelat keabuan yang duduk di sebelahku ini.

“Memangnya kenapa? Kau kan sahabatku, Zach,” kataku.

“Iya aku tahu, lupakan saja, makasih ya,” ucap Zach, ia menatapku lalu tersenyum.

Aku membalas senyumnya, “Tak masalah, daripada nanti kau jalan kaki.”

Zach hanya tertawa kecil lalu ia melepas kacamata minus Levi’s nya dan mengusap lensanya dengan ujung kemeja seragam putih yang ia kenakan.

Melihat hal itu aku langsung menarik selembar tisu dan memberikannya pada Zach, “Pakai ini saja,” ujarku.

Zach menoleh ke arahku lalu tersenyum, “Thanks!” Katanya seraya mengusap kembali lensa kacamatanya.

Entah kenapa aku seperti terpaku menatap anak laki-laki di hadapanku ini. Zach terlihat agak berbeda jika tanpa kacamata yang bertengger di depan mata hazelnya itu.

Ehm … tidak berbeda juga sih, tapi, bagaimana ya, menurutku ia terlihat lebih … lebih ... yah lebih tampan mungkin, eh tidak-tidak, ia memang tampan bukan? Wajarlah dia laki-laki kok.

“Bella … Bella … kau mau sekolah apa ikut Ayah ke kantor?”

“Eh?” Aku tersadar dari ketakjubanku, “Iya aku sekolah kok, Yah, memangnya sudah sampai ya?” tanyaku kemudian.

“Aduh kau ini, sudah daritadi, dear .… lihat, Zach saja sudah turun,” jawab Ayah sambil geleng-geleng kepala.

“Wah, hahaha aku tidak sadar, baiklah aku turun ya, dag .…” kataku dengan wajah tak berdosa.

Setelah mobil meninggalkanku dengan Zach di lobby sekolah, kami pun melangkah menuju kelas kami.


Ketika tengah berjalan di koridor, aku dan Zach berpapasan dengan Devonne dan Atashia. Aku berpura-pura tak peduli dan terus melangkah-

“Wah wah ... Lihat, si maniak yang sok stay cool itu!”

-namun nyatanya mereka malah memaksaku untuk berhenti.

Aku mendelik pada mereka, “Siapa yang kau sebut maniak itu, eh, pengkhianat?” semburku.

“B-Bella!” ucap Zach tertahan.

“Apa? Pengkhianat kau bilang? kau sedang berkata untuk dirimu sendiri ya?” Nada penghinaan terluncur dari mulut gadis keturunan Korea itu dan melingkupi indera pendengaranku.

Aku menggertakkan gigi dan tanganku terkepal kuat, gadis itu dengan santainya melanjutkan argumentasi dirinya tentang diriku.

“Maniak yang mencampakkan sahabatnya demi ketenaran belaka. Che, kau benar-benar ….”

“Pengadu domba! Pengkhianat! Penusuk bermuka dua! Itu kau!” seruan sarkatis berunsur kemarahan dariku menyeruak, menginterupsi argumen sialnya itu.

Si gadis keturunan Korea, Atashia, tampak menegang saat aku memakinya dengan telunjuk yang mengarah pada dirinya, sementara si mungil berambut auburn, Devonne, hanya diam dengan tatapan sinisnya yang menusuk iris biru safirku.

“Asal kau tahu, nona Hawkins, watakmu itu benar-benar rendah!”

“Tutup mulut sialmu! Setelah menjauhiku tanpa alasan, sekarang kau datang dan berani menghinaku seperti itu, siapa yang berwatak rendah, eh?!”

“Be-Bella, sudah, cukup!” Zach menahan tubuhku yang hendak menerjang dua gadis di hadapanku itu.

Atashia hanya mendengus dan menampakkan senyumnya, yang menurutku menjijikkan, lalu berbalik badan meninggalkan aku dengan Zach.

“Argh! Gadis sialan!” Aku memaki seraya menghentakkan tangan Zach yang mencengkeram bahuku.

“Bella!”

“Apa?!” Aku menoleh pada Zach dengan kesal.

“Kau … Kenapa jadi begini, Bel?” tanya Zach, iris hazelnya menatapku dengan sendu.

Aku hanya mendengus sembari mengalihkan pandanganku darinya.

Masih dengan tatapan sendunya, Zach berkata padaku, “Aku tahu kau benar-benar marah, tapi bukan begini cara melampiaskan-

“Sudahlah, Zach!” Tanpa sadar nada suaraku naik satu oktaf. Aku pun memutar tubuhku, kakiku hendak melangkah ketika anak berkacamata itu mendekapku dari belakang.

“Jika kau marah, beginilah cara melampiaskannya,” bisik anak itu, tepat di telingaku.

Syarafku seolah menghentikan semua pekerjaannya, tak sedikitpun aku mampu beranjak saat desahan napasnya yang hangat menyentuh leher belakangku. Sedikit banyak aku menghirup aroma khas anak laki-laki dari tubuh Zach.

Tanganku tergerak untuk menggengam lengan Zach yang melingkari leherku, kemudian perlahan aku melepaskannya.

Namun bukan berarti aku tidak menyukainya.

“Zach … maaf ….” lirihku.

Dari balik kacamatanya, iris hazel itu menembus si biru safir di lensa mataku. Zach mengulas senyumnya, “Lebih baik kita ke kelas,” ujarnya lembut.

Aku hanya mengangguk, kemudian kami berjalan bersama.


Tanpa disadari, sepasang mata tengah memperhatikan gerak-gerik kedua anak tersebut.

-to be continued-

No comments:

Post a Comment