Pages

20 April 2013

Devil's Death Diary - chapter 3

(note: well, karena saya bete dan lagi ga ada kerjaan, saya update aja chapter 3 sekarang 'w')

Buku Harian Misterius (3)

'Kenapa sih gadis itu?’ batin Zach.

“Eh iya pak, saya ambil ini ya,” ujar Zach pada si penjual gantungan.

“Baiklah harganya $ 1.85,” kata penjualnya.

Zach merogoh kantongnya dan mengambil dua lembar uang kertas yang masing-masing bernominal $ 1 kemudian menyerahkannya pada si penjual.

“Ini kembaliannya,” penjual itu memberikan kembalian 15 sen.

“Makasih,” ucap Zach, kemudian setengah berlari ia menyusulku.


“Kemana ya dia? Bukannya tadi ada di sini?” gumamku sambil menolehkan kepalaku ke sekitaran tempatku berpijak.

“Hoi! Kau ini ngapain sih? berdiri sendiri mematung kayak orang gila!” seru Zach yang baru saja tiba di dekatku.

“Diamlah, Zach! Aku lagi mencari seseorang.” kataku.

“Orangnya seperti apa? Biar aku bantu cari.”

“Tinggi, rambutnya ikal, dia memakai jaket kulit cokelat dan jeans yang ada sobek-sobekannya di bagian lutut, dan ... oh, dia membawa tas besar,” jelasku.

Pandangan Zach pun menelusur setiap sudut dan lekukan tempat festival indoor ini, lalu penelusurannya berhenti pada seseorang yang mirip dengan apa yang kujelaskan tadi.

“Apa pria itu yang kau maksud, Bel?” tanya Zach sambil menunjuk.

Aku mengikuti arah telunjuk Zach dan aku melihat seorang pria yang sedari tadi kucari-cari. Dia tampak sedang membereskan barang-barang dari tasnya dan menjajarkannya pada sebuah meja.

“Nah iya, itu dia! Ayo kita kesana Zach!” ajakku.

“Lho, memangnya kamu kenal dia?” Zach terlihat heran.

“Nggak sih, tapi tadi dia sudah membantuku menyebrang jalan dan aku belum bilang makasih,” jawabku, padahal sebenarnya aku penasaran dengan barang yang ada dalam tas pria tersebut.

“Oh begitu,” ujar Zach singkat.


Perlahan kami mendekati pria yang tengah sibuk itu, lalu aku menegurnya pelan, “Anu ... selamat siang kak.”

Pria itu menoleh, “Eh? Oh, sebentar ya, sedang saya bereskan,” katanya.

“Iya, baiklah,” ujarku.

Setelah memasukkan benda yang tak perlu ke dalam tas besarnya, pria itu pun berbalik badan menghadap kami sambil tersenyum, dia terlihat ramah, “Ada apa dik?” tanyanya.

“Ng ... ini kak, tadi kan kakak sudah membantu saya menyebrang jalan, jadi saya mau bilang makasih ...."

“Menyebrang? Ah iya iya, kamu anak yang tadi di bus itu kan? Baiklah kalau begitu,” selanya.

“Hehe iya kak ... mmm … sebenarnya saya ... saya mau ....”

“Kamu ngomongnya yang benar dong,” bisik Zach.

“Mau apa dik?” tanya pria itu.

“Euh ... itu ... mau lihat-lihat barang yang kakak jual, hehehe ... eh ngomong-ngomong kakak ini pedagang, kan?” tanyaku.

Phew. Akhirnya ada juga modus tepat untuk mengetahui isi tas kakak ini.

“Oh, hahaha ... iya, saya pedagang, nama saya Andrew,” jawab pria yang bernama Andrew itu seraya mengulurkan tangan.

Aku tercengang sesaat, kenapa kakak ini memperkenalkan dirinya? Ah sudahlah Bel jabatan tangan saja ....

“Ah iya kak, saya Isabella, dan ini sahabat saya, Zach,” kataku kemudian menjabat tangannya, sementara Zach hanya tersenyum pada Andrew, begitu pula sebaliknya.

“Eh iya kalian mau melihat barangnya? Saya punya beberapa yang bagus dan sepertinya akan kalian sukai,” kata Andrew berpromosi.

Aku langsung terlihat excited, “Boleh saya lihat kak?” tanyaku.

“Tentu saja,” Andrew menunjukkan beberapa benda, “ada Invisible Ink Marker, Angel’s Ring, Victorious Keychain, dan Death Diary.

Aku memperhatikannya satu per satu, “Invisible Ink Marker itu untuk apa?” tanyaku.

“Sebenarnya sih itu untuk menulis pesan rahasia, karena tintanya tidak terlihat dan hanya bisa dibaca setelah kertas yang ditulisi itu diletakkan di atas api lilin,” jelas pria berjaket lusuh di hadapanku ini.

“Oh, begitu ....” kataku mengerti, “kalau Angel’s Ring dan Victorious Keychain itu maksudnya apa?”

“Kalau Angel’s Ring hanya cincin biasa, tapi hiasan cincinnya itu berbentuk malaikat. Kalau Victorious Keychain adalah gantungan kunci yang bentuknya diamond, katanya sih bisa membawa keberuntungan, tapi terserah penggunanya mau percaya atau tidak, hahaha ....” Andrew pun tertawa.

“Hahaha … saya pikir itu hanya tahayul,” kataku tertawa juga, “lalu kalau buku ini apa?” tanyaku sambil menunjuk buku bersampul hitam glossy yang ada di depanku.

“Oh, itu Death Diary, seperti buku harian,” jawab Andrew sembari tersenyum simpul.

Aku manggut-manggut, “Eh tapi kok namanya Death?” tanyaku heran.

Pria itu hanya mengangkat bahunya, “Saya kurang tahu, dik.”

Sejenak kuperhatikan buku itu, memang terlihat seperti buku harian biasa sih, tapi kenapa namanya harus “Death Diary”?

“Boleh saya lihat?” tanyaku sambil mengangkat bukunya.

“Boleh, silakan,” kata Andrew, masih dengan senyumnya.

Jemariku membuka lembar demi lembar buku itu, di halaman depannya tertulis D’s Death Diary.

D’s? apa maksudnya?’ pikirku.

Lalu di halaman kedua aku membaca tulisan; “Jangan gunakan untuk permainan. Apa yang kau tulis adalah takdir .…”

Aku mengerutkan dahi, kok buku ini seperti buku-buku magic illusion ya?

Di halaman selanjutnya tertulis; “Berhati-hatilah pada sang pemilik buku, The D .…”

“Lho, kok sobek?” tanyaku sambil membolak-balik bukunya.

“Eh, mana?” tanya Andrew.

“Ini, kak!” aku menunjukkan sobekan di halaman yang barusan kubaca.

“Wah … saya disuruh menjual barang rusak!” Andrew menggerutu pelan.

Aku diam saja sambil memperhatikan buku itu, kelihatannya menarik jika aku jadikan ini sebagai buku harianku, walaupun ada halaman yang sobek sih ....

“Kak, saya ambil ini ya?” ujarku kemudian.

“Eh? Tapi kan itu rusak?”

“Gak apa-apa, bagian yang sobek itu gak perlu saya tulisi. Buku ini menarik, boleh kan saya beli?” pintaku.

“Hmm … bagaimana ya .…” Pria itu nampak berpikir.

“Kumohon ... berapapun harganya ....” pintaku sekali lagi.

“Hmm … ya sudah, simpan saja untukmu, gratis,” katanya kemudian.

Aku melongo, “Hah? Gratis? Yang benar?!”

“Iya, sekalian saya minta maaf karena saya sudah menunjukkan barang yang tidak layak jual pada pembeli,” ucap Andrew.

Bola mataku membesar dan perlahan berbinar, “Aaaah … ma-ma-makasih banyak ya, kak!” seruku gembira.

“Ahaha … iya sama-sama, sekali lagi saya minta maaf ya,” ujar Andrew, ia tersenyum melihat tingkahku yang seperti anak kecil kehujanan mainan baru.

“Iya kak, gak apa-apa. Zach, lihat ini, hahaha .…” pamerku.

“Ah, dasar kau ini, diberi gratisan baru senang ....” ledek Zach.

“Haha … kayak kamu nggak aja!” kilahku.

“Ya, ya, ayo kita hunting barang lagi,” kata Zach kemudian.

“Iya, kak kami duluan ya!” aku menoleh pada pria bernama Andrew yang barusan memberiku rezeki nomplok itu seraya tersenyum.

“Baiklah, selamat bersenang-senang!” balas Andrew.


Melihat dua anak yang telah menjauh itu, Andrew merogoh saku jeansnya dan mengambil secarik sobekan kertas dari sana, ia langsung tertunduk seperti merasa bersalah.

“Maafkan aku, Isabella ....”
---

Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, waktunya pulang karena festival sebentar lagi usai.

“Zach, aku duluan ya!” ujarku saat kami tiba di persimpangan.

“Ya, baiklah, hati-hati Bel,” balas Zach.

“Tentu, kau juga ya, bye .…” aku pun melambaikan tanganku sekilas dan berlari kecil menuju halte bus.

Begitu ada bus yang berhenti, aku segera masuk ke dalamnya. Angin dari pendingin udara meniup rambutku pelan, terasa sejuk apalagi di cuaca sepanas sekarang.

Aku langsung duduk di kursi yang dekat pintu, lalu tanganku merogoh saku dan mengambil ponselku, tak ada sms ataupun missed call.

“Huh … gak ada yang kangen aku ya? haha ....” gumamku pelan.

Kondektur bus menghampiriku sambil menyerahkan selembar tiket, aku pun kembali merogoh saku dan mengambil selembar uang Dollar.

“Terimakasih,” ujar pak kondektur, ia menyerahkan kembaliannya lalu kembali menagih ongkos dari penumpang lain.

Kurang lebih 7 menit kemudian, bus yang kutumpangi berhenti di depan halte perumahanku dan aku pun turun di sana.

Dengan langkah cepat aku berjalan menyusuri aspal yang membentang di bawah pijakanku karena tak ingin berlama-lama terkena paparan sinar matahari yang benar-benar panas di siang menjelang sore ini.

Rumahku pun terlihat di ujung jalan sana. Menurut pada keinginanku -yang tidak ingin sunbathing- aku langsung berlari. Anjing-anjing herder milik tetanggaku menggonggong bersahut-sahutan melihat diriku yang melesat seperti sekelebat bayangan.

Phew, sampai juga. Huh dasar anjing galak, lihat orang lari saja berisik!” ujarku sambil membuka pintu pagar.

I’m home … Ibu, Ayah!” seruku.

“Iya sebentar, Bella,” sahut Ibuku yang terdengar berjalan tergopoh-gopoh membukakan pintu untukku.

“Cepat juga kau pulang,” kata Ibu saat pintu terbuka.

“Iya, acaranya hanya sampai jam 2 siang,” balasku sambil melepas sepatu.

“Oh begitu, ya sudah masuklah,” ujar beliau.

Aku langsung menuju kamarku lalu menutup pintunya dan mengeluarkan Death Diary dari tasku.

“Buku harian yang unik,” gumamku sambil tersenyum.

Aku pun mengambil tas sekolahku dan mengeluarkan kotak pensilku yang telah remuk itu, beruntung pensil di dalamnya tak ikut remuk.

Kutulis kejadian-kejadian yang kualami hari ini di dalam buku itu, mulai dari berangkat, bertemu Andrew di bus, aku terlambat 600 detik, bertemu kembali Andrew di festival, lanjut hunting barang dengan Zach sampai aku pulang dan digonggongi anjing herder tetanggaku.

Phew, selesai juga. Ternyata asyik ya menulis di buku harian,” kataku puas, sembari melihat tulisanku yang tertera rapi pada buku tersebut.

“Besok-besok aku akan tulis lagi kejadian yang kualami,” kataku seraya memasukkan buku itu ke dalam tas untuk dibawa ke sekolah esok hari.

-to be continued-

2 comments:

  1. ceritanya bagus, tapi kurang bikin penasaran, dan terlalu "expected" jalur ceritanya, oh ya, teks warna biru muda nya masih kurang cocok, coba ganti hitam/warna gelap lainnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kan masih chap awal hehe~ tapi emang iya sih, kurang greget...

      teksnya...? coba deh saya ganti lagi hehe, thx commentnya :))

      Delete