(note: well, karena saya bete dan lagi ga ada kerjaan, saya update aja chapter 3 sekarang 'w')
Buku Harian Misterius (3)
'Kenapa sih gadis itu?’ batin Zach.
“Eh iya pak, saya ambil ini ya,” ujar Zach
pada si penjual gantungan.
“Baiklah harganya $ 1.85,” kata penjualnya.
Zach merogoh kantongnya dan mengambil dua
lembar uang kertas yang masing-masing bernominal $ 1 kemudian menyerahkannya
pada si penjual.
“Ini kembaliannya,” penjual itu memberikan
kembalian 15 sen.
“Makasih,” ucap Zach, kemudian setengah
berlari ia menyusulku.
“Kemana ya dia? Bukannya tadi ada di sini?”
gumamku sambil menolehkan kepalaku ke sekitaran tempatku berpijak.
“Hoi! Kau ini ngapain sih? berdiri sendiri
mematung kayak orang gila!” seru Zach yang baru saja tiba di dekatku.
“Diamlah, Zach! Aku lagi mencari seseorang.” kataku.
“Orangnya seperti apa? Biar aku bantu cari.”
“Tinggi, rambutnya ikal, dia memakai jaket
kulit cokelat dan jeans yang ada sobek-sobekannya di bagian lutut, dan ... oh,
dia membawa tas besar,” jelasku.
Pandangan Zach pun menelusur setiap sudut dan
lekukan tempat festival indoor ini,
lalu penelusurannya berhenti pada seseorang yang mirip dengan apa yang
kujelaskan tadi.
“Apa pria itu yang kau maksud, Bel?” tanya
Zach sambil menunjuk.
Aku mengikuti arah telunjuk Zach dan aku
melihat seorang pria yang sedari tadi kucari-cari. Dia tampak sedang
membereskan barang-barang dari tasnya dan menjajarkannya pada sebuah meja.
“Nah iya, itu dia! Ayo kita kesana Zach!”
ajakku.
“Lho, memangnya kamu kenal dia?” Zach terlihat
heran.
“Nggak sih, tapi tadi dia sudah membantuku
menyebrang jalan dan aku belum bilang makasih,” jawabku, padahal sebenarnya aku
penasaran dengan barang yang ada dalam tas pria tersebut.
“Oh begitu,” ujar Zach singkat.
Perlahan kami mendekati pria yang tengah sibuk
itu, lalu aku menegurnya pelan, “Anu ... selamat siang kak.”
Pria itu menoleh, “Eh? Oh, sebentar ya, sedang
saya bereskan,” katanya.
“Iya, baiklah,” ujarku.
Setelah memasukkan benda yang tak perlu ke
dalam tas besarnya, pria itu pun berbalik badan menghadap kami sambil
tersenyum, dia terlihat ramah, “Ada apa dik?” tanyanya.
“Ng ... ini kak, tadi kan kakak sudah membantu
saya menyebrang jalan, jadi saya mau bilang makasih ...."
“Menyebrang? Ah iya iya, kamu anak yang tadi
di bus itu kan? Baiklah kalau begitu,” selanya.
“Hehe iya kak ... mmm … sebenarnya saya ...
saya mau ....”
“Kamu ngomongnya yang benar dong,” bisik Zach.
“Mau apa dik?” tanya pria itu.
“Euh ... itu ... mau lihat-lihat barang yang
kakak jual, hehehe ... eh ngomong-ngomong kakak ini pedagang, kan?” tanyaku.
Phew. Akhirnya
ada juga modus tepat untuk mengetahui isi tas kakak ini.
“Oh, hahaha ... iya, saya pedagang, nama saya
Andrew,” jawab pria yang bernama Andrew itu seraya mengulurkan tangan.
Aku tercengang sesaat, kenapa kakak ini
memperkenalkan dirinya? Ah sudahlah Bel jabatan tangan saja ....
“Ah iya kak, saya Isabella, dan ini sahabat
saya, Zach,” kataku kemudian menjabat tangannya, sementara Zach hanya tersenyum
pada Andrew, begitu pula sebaliknya.
“Eh iya kalian mau melihat barangnya? Saya
punya beberapa yang bagus dan sepertinya akan kalian sukai,” kata Andrew
berpromosi.
Aku langsung terlihat excited, “Boleh saya lihat kak?” tanyaku.
“Tentu saja,” Andrew menunjukkan beberapa
benda, “ada Invisible Ink Marker, Angel’s
Ring, Victorious Keychain, dan Death
Diary.”
Aku memperhatikannya satu per satu, “Invisible Ink Marker itu untuk apa?”
tanyaku.
“Sebenarnya sih itu untuk menulis pesan
rahasia, karena tintanya tidak terlihat dan hanya bisa dibaca setelah kertas
yang ditulisi itu diletakkan di atas api lilin,” jelas pria berjaket lusuh di
hadapanku ini.
“Oh, begitu ....” kataku mengerti, “kalau Angel’s Ring dan Victorious Keychain itu maksudnya apa?”
“Kalau Angel’s
Ring hanya cincin biasa, tapi hiasan cincinnya itu berbentuk malaikat.
Kalau Victorious Keychain adalah
gantungan kunci yang bentuknya diamond,
katanya sih bisa membawa keberuntungan, tapi terserah penggunanya mau percaya
atau tidak, hahaha ....” Andrew pun tertawa.
“Hahaha … saya pikir itu hanya tahayul,”
kataku tertawa juga, “lalu kalau buku ini apa?” tanyaku sambil menunjuk buku
bersampul hitam glossy yang ada di
depanku.
“Oh, itu Death
Diary, seperti buku harian,” jawab Andrew sembari tersenyum simpul.
Aku manggut-manggut, “Eh tapi kok namanya Death?” tanyaku heran.
Pria itu hanya mengangkat bahunya, “Saya
kurang tahu, dik.”
Sejenak kuperhatikan buku itu, memang terlihat
seperti buku harian biasa sih, tapi kenapa namanya harus “Death Diary”?
“Boleh saya lihat?” tanyaku sambil mengangkat
bukunya.
“Boleh, silakan,” kata Andrew, masih dengan
senyumnya.
Jemariku membuka lembar demi lembar buku itu,
di halaman depannya tertulis D’s Death Diary.
‘D’s?
apa maksudnya?’ pikirku.
Lalu di halaman kedua aku membaca tulisan; “Jangan gunakan untuk permainan. Apa yang
kau tulis adalah takdir .…”
Aku mengerutkan dahi, kok buku ini seperti
buku-buku magic illusion ya?
Di halaman selanjutnya tertulis; “Berhati-hatilah pada sang pemilik buku, The
D .…”
“Lho, kok sobek?” tanyaku sambil
membolak-balik bukunya.
“Eh, mana?” tanya Andrew.
“Ini, kak!” aku menunjukkan sobekan di halaman
yang barusan kubaca.
“Wah … saya disuruh menjual barang rusak!”
Andrew menggerutu pelan.
Aku diam saja sambil memperhatikan buku itu,
kelihatannya menarik jika aku jadikan ini sebagai buku harianku, walaupun ada
halaman yang sobek sih ....
“Kak, saya ambil ini ya?” ujarku kemudian.
“Eh? Tapi kan itu rusak?”
“Gak apa-apa, bagian yang sobek itu gak perlu
saya tulisi. Buku ini menarik, boleh kan saya beli?” pintaku.
“Hmm … bagaimana ya .…” Pria itu nampak
berpikir.
“Kumohon ... berapapun harganya ....” pintaku
sekali lagi.
“Hmm … ya sudah, simpan saja untukmu, gratis,”
katanya kemudian.
Aku melongo, “Hah? Gratis? Yang benar?!”
“Iya, sekalian saya minta maaf karena saya
sudah menunjukkan barang yang tidak layak jual pada pembeli,” ucap Andrew.
Bola mataku membesar dan perlahan berbinar, “Aaaah
… ma-ma-makasih banyak ya, kak!” seruku gembira.
“Ahaha … iya sama-sama, sekali lagi saya minta
maaf ya,” ujar Andrew, ia tersenyum melihat tingkahku yang seperti anak kecil
kehujanan mainan baru.
“Iya kak, gak apa-apa. Zach, lihat ini, hahaha
.…” pamerku.
“Ah, dasar kau ini, diberi gratisan baru
senang ....” ledek Zach.
“Haha … kayak kamu nggak aja!” kilahku.
“Ya, ya, ayo kita hunting barang lagi,” kata Zach kemudian.
“Iya, kak kami duluan ya!” aku menoleh pada
pria bernama Andrew yang barusan memberiku rezeki nomplok itu seraya tersenyum.
“Baiklah, selamat bersenang-senang!” balas
Andrew.
Melihat dua anak yang telah menjauh itu,
Andrew merogoh saku jeansnya dan
mengambil secarik sobekan kertas dari sana, ia langsung tertunduk seperti
merasa bersalah.
“Maafkan aku, Isabella ....”
---
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, waktunya
pulang karena festival sebentar lagi usai.
“Zach, aku duluan ya!” ujarku saat kami tiba
di persimpangan.
“Ya, baiklah, hati-hati Bel,” balas Zach.
“Tentu, kau juga ya, bye .…” aku pun melambaikan tanganku sekilas dan berlari kecil
menuju halte bus.
Begitu ada bus yang berhenti, aku segera masuk
ke dalamnya. Angin dari pendingin udara meniup rambutku pelan, terasa sejuk
apalagi di cuaca sepanas sekarang.
Aku langsung duduk di kursi yang dekat pintu,
lalu tanganku merogoh saku dan mengambil ponselku, tak ada sms ataupun missed call.
“Huh … gak ada yang kangen aku ya? haha ....”
gumamku pelan.
Kondektur bus menghampiriku sambil menyerahkan
selembar tiket, aku pun kembali merogoh saku dan mengambil selembar uang Dollar.
“Terimakasih,” ujar pak kondektur, ia
menyerahkan kembaliannya lalu kembali menagih ongkos dari penumpang lain.
Kurang lebih 7 menit kemudian, bus yang
kutumpangi berhenti di depan halte perumahanku dan aku pun turun di sana.
Dengan langkah cepat aku berjalan menyusuri
aspal yang membentang di bawah pijakanku karena tak ingin berlama-lama terkena
paparan sinar matahari yang benar-benar panas di siang menjelang sore ini.
Rumahku pun terlihat di ujung jalan sana. Menurut
pada keinginanku -yang tidak
ingin sunbathing- aku langsung berlari. Anjing-anjing herder milik
tetanggaku menggonggong bersahut-sahutan melihat diriku yang melesat seperti
sekelebat bayangan.
“Phew,
sampai juga. Huh dasar anjing galak, lihat orang lari saja berisik!” ujarku
sambil membuka pintu pagar.
“I’m
home … Ibu, Ayah!” seruku.
“Iya sebentar, Bella,” sahut Ibuku yang
terdengar berjalan tergopoh-gopoh membukakan pintu untukku.
“Cepat juga kau pulang,” kata Ibu saat pintu
terbuka.
“Iya, acaranya hanya sampai jam 2 siang,”
balasku sambil melepas sepatu.
“Oh begitu, ya sudah masuklah,” ujar beliau.
Aku langsung menuju kamarku lalu menutup
pintunya dan mengeluarkan Death Diary
dari tasku.
“Buku harian yang unik,” gumamku sambil
tersenyum.
Aku pun mengambil tas sekolahku dan
mengeluarkan kotak pensilku yang telah remuk itu, beruntung pensil di dalamnya
tak ikut remuk.
Kutulis kejadian-kejadian yang kualami hari
ini di dalam buku itu, mulai dari berangkat, bertemu Andrew di bus, aku
terlambat 600 detik, bertemu kembali Andrew di festival, lanjut hunting barang dengan Zach sampai aku
pulang dan digonggongi anjing herder tetanggaku.
“Phew,
selesai juga. Ternyata asyik ya menulis di buku harian,” kataku puas, sembari
melihat tulisanku yang tertera rapi pada buku tersebut.
“Besok-besok aku akan tulis lagi kejadian yang kualami,”
kataku seraya memasukkan buku itu ke dalam tas untuk dibawa ke sekolah esok
hari.
-to be continued-
ceritanya bagus, tapi kurang bikin penasaran, dan terlalu "expected" jalur ceritanya, oh ya, teks warna biru muda nya masih kurang cocok, coba ganti hitam/warna gelap lainnya :D
ReplyDeletekan masih chap awal hehe~ tapi emang iya sih, kurang greget...
Deleteteksnya...? coba deh saya ganti lagi hehe, thx commentnya :))