Pages

19 April 2013

Devil's Death Diary - chapter 2

Festival (2)

Gelap ….

Aku butuh cahaya ….

Kenapa tempat ini begitu suram?

Ah, ada cahaya di ujung sana! Aku harus menghampirinya!

Ayo ….

Hampir sampai ….

Sedikit lagi .…


Sreekk. terdengar suara gorden yang tersibak, seketika cahaya matahari langsung menyeruak dari kaca jendela dan membuatku membuka mata secara perlahan.

Kulihat ibuku yang sedang berdiri sambil mengikatkan pita di gorden hijau muda itu, “Euh ... pagi, Bu ....” ucapku pelan sembari mengucek mataku.

“Pagi apanya Bel? Ini sudah pukul tujuh!” kata ibu.

“Hah!? Yang benar?” tanyaku, aku segera menegakkan posisi dudukku karena terkejut.

“Iya memangnya ibu kelihatan bohong? Ya sudah mandi dulu sana, nanti sarapan dengan bubur,” ujar ibuku, kemudian beliau melangkah keluar kamar, meninggalkan aku yang masih tercengang-cengang.


Beberapa detik kemudian aku buru-buru menggelengkan kepalaku, kenapa aku malah jadi bengong? Ahh langsung saja kuraih handuk yang tergantung di pintu dan bergegas mandi.


Selesai mandi, aku turun ke ruang makan dan menghabiskan sarapan bubur yang disediakan ibu. Ketika sedang mencuci piring, sebuah pesan masuk ke ponselku. Kuletakkan piring di raknya kemudian kukeringkan tanganku dengan lap sebelum aku menyentuh ponsel dan melihat siapa yang mengirimkan pesan itu.

‘Zach? Ada apa dia mengirimiku pesan?’ batinku bertanya-tanya, kubuka pesan itu.

From: Zach (+18777010xxxx)
Isabel, apa kau ada acara hari ini? Bagaimana kalau kita main ke festival di balai kota? Balas ya :)

Aku berpikir-pikir, festival sepertinya cukup menarik, lagipula hari Minggu ini aku tidak punya rencana apa-apa, jadi akan lebih asyik kalau aku ikut.

To: Zach (+18777010xxxx)
Waktuku senggang, baiklah aku ikut denganmu :)

Setelah mengetik pesannya aku pun menekan tombol send. Tak lama kemudian Zach membalasnya.

Cepat sekali?’ pikirku, lalu aku membukanya.

From: Zach (+18777010xxxx)
Yeah aku ada teman juga :D kutunggu di sana jam 8 tepat ya ... see you there :)

Aku melirik jam di dinding ruang tamu, jam 8 tepat? Berarti itu 15 menit lagi.

“Baiklah aku berangkat sekarang,” ujarku pada diri sendiri.


Setelah mengantongi uang saku dan izin dari ibu, aku berangkat ke halte yang terletak di seberang jalan utama perumahanku. Dari sana aku naik bus lalu berhenti di depan halte balai kota.

Namun sayangnya heavy traffic menghalangi perjalananku yang seharusnya hanya memakan waktu 10 menit itu.

Ugh! Menyebalkan sekali!” gerutuku pelan sembari melihat jam tanganku.

Aku melihat ke sekelilingku lalu tatapanku berhenti pada seorang pria yang mengenakan jaket kulit lusuh, di samping pria itu ada sebuah tas besar.

Karena penasaran, aku pun agak bergeser mendekat kepada pria itu, ternyata dia tengah tertidur, sepertinya dia datang dari luar Oklahoma, begitu pikirku.

Tak sengaja aku melihat ke dalam tasnya yang agak terbuka, ada banyak sekali barang berbungkus plastik segel di dalamnya, aku bertanya-tanya apa sebenarnya isi tas tersebut.

Tiba-tiba orang itu membuat sedikit gerakan sehingga aku yang tepat berdiri di sebelahnya dikejutkan oleh hal itu. Segera kualihkan pandanganku ke depan, berpura-pura seolah aku tidak melakukan apapun, eh tapi itu memang benar kan?

“Ehmm .…” pria itu mengusap-usap wajahnya yang kusut karena sehabis bangun tidur, aku mencuri pandang ke arahnya lalu menatap lagi ke depan.

“Umm ... dik?” tiba-tiba pria itu menepuk bahuku pelan.

“Whoa! I-iya, a-ada apa kak?” ucapku setengah terlonjak, tiba-tiba aku jadi merinding tidak karuan.

“Ini sudah sampai mana ya? saya mau turun di balai kota,” tanya pria itu.

“Ehm … anu ... ini di .…” aku melongok kearah jendela, dan aku melihat gedung balai kota di seberang sana.

“Oh, ini sudah sampai balai kota kak!” jawabku.

“Ah begitu ya, baiklah saya turun di sini,” ujarnya kemudian.

“Permisi, apa anda akan turun di halte balai kota?” tanya seorang kondektur.

“Iya, Pak,” jawab pria itu.

“Pak sopir, menepi ke halte!” seru pak kondektur.

Maka bus yang aku tumpangi ini pun menepi dan berhenti. Aku dan beberapa penumpang lainnya termasuk pria berjaket lusuh yang membawa tas besar itu berbaris untuk keluar dari bus.

“Eh kamu turun di sini juga?” tanya pria itu.

“Ah, iya, saya mau ke festival yang ada di balai kota,” jawabku.

Pria itu hanya manggut-manggut sembari memperhatikan jalanan, “Ayo menyebrang, jalanannya lenggang,” katanya seraya tersenyum padaku.

 “I-iya,” balasku.

Aku mengikuti pria itu menyebrang, namun saat kakiku menapaki gerbang balai kota seseorang meneleponku.

“Aduh ... sebentar-sebentar ... ah ini pasti Zach, tuh kan benar!” aku pun menekan tombol answer.

“Halo Isabel?”

“Hai Zach, aku sudah ada di gerbang.”

“Dimana? Eh tunggu-tunggu aku melihatmu!”

“Hah, apa? Melihatku? Dimana kau?”

Tuutt … tutt ... nada sambungan telepon terputus pun terdengar, “Ah Zach ini bagaimana?” keluhku.

Tiba-tiba, “Isabel!” panggil seseorang.

Sejurus aku menoleh, “Zach?” sahutku.

“Haha ternyata aku tak salah lihat ini memang benar kau, darimana saja sih? kok telat 600 detik?” tanya Zach.

“Tadi dekat pusat kota heavy traffic tingkat tinggi, Zach. Eh apa katamu, 600 detik?”

“Oh begitu … haha masa kau gak tahu? 600 detik = 10 menit, Isabel,” kata Zach kemudian tertawa.

Aku melongo lalu memain-mainkan jariku untuk berhitung, “Ah iya ya, kok aku gak sadar?” tanyaku dengan tampang bodoh.

“Yah kau ini … melamun terus sih kerjamu itu! Sudah ah, ayo masuk ke dalam!” ajak Zach sambil mengacak rambutku pelan.

“Oh, Zach! Rambutku ini sudah disisir!” keluhku.

“Dasar bawel, aku kan hanya bercanda! Hehe maaf-maaf ....” ucap Zach, lagi-lagi anak berkacamata itu tertawa.


Aku dan Zach berkeliling di gedung tempat walikota berada itu sembari melihat barang-barang yang dijual di festival ini.

Eh bicara tentang barang-barang … apa kalian tahu dimana pria berjaket lusuh yang tadi bersamaku itu?

“Isabel, gantungan ini bagus gak?”

Aku meneliti setiap pedagang di sini, tidak ada si pria itu, kemana dia? Kok bisa-bisanya dia menghilang begitu saja?

“Hey, Isabel, kau lihat apa?” tiba-tiba telapak tangan Zach melambai-lambai di depan mataku.

“Eh, yo’ what’s up?” tanyaku yang langsung tersadar.

“Kau ini melamun terus kan … gantungan ini bagus gak?”

Lagi-lagi aku tak menggubris pertanyaan Zach, mataku terus meneliti setiap orang yang ada di gedung ini dan … aha! Aku menemukan pria itu!

“Isabel?” ujar Zach.

“Iya, iya, bagus Zach, aku kesana dulu ya! dag .…” aku pun meninggalkan Zach yang kebingungan.

-to be continued-

2 comments:

  1. nice
    btw kalo mau dibikina, fic, fontnya diubah ke hitam aja, terus backgroundnya diganti yang agak terangan .w.
    oh ya, rasanya font Comic Sans juga kurang cocok.
    well, ini sih pendapat saya aja xD

    ReplyDelete