Pages

19 April 2013

Devil's Death Diary - chapter 1


Sahabat? (1)

Fajar baru saja menyingsing. Aku membuka mataku dengan berat, lalu dengan langkah gontai kuhampiri jendela yang tertutupi gorden hijau muda sebelum aku menyibaknya.

Dengan mata biru safirku, aku menatap jauh keluar jendela. Daun-daun dari pepohonan milik tetanggaku berjatuhan dari rantingnya dan tertiup angin musim gugur. Kurasakan semilir angin dingin yang masuk melalui ventilasi, membuatku semakin malas untuk pergi sekolah, tapi itu adalah kewajibanku.

Setelah mandi dan bersiap-siap, aku pun melangkah cepat menuruni tangga. Di bawah tampak Ibu dan Ayahku sudah berada di meja makan sedang menikmati sarapan mereka.

“Pagi Bu, Yah,” sapaku seraya duduk di kursi.

“Pagi, dear ....” balas Ayahku, sementara Ibu hanya tersenyum membalas sapaanku tadi.

“Mau sarapan dengan apa, dear?” tanya Ibu kemudian.

“Umm … samakan dengan Ayah juga gak apa-apa,” jawabku.

“Baiklah .…” Ibu menyodorkanku beberapa potong roti bakar isi selai kacang dan segelas susu cokelat.

“Makasih, Bu!” ucapku senang, segera kuhabiskan sarapanku itu.

Ibu hanya tertawa kecil melihatku makan dengan semangat seperti itu, lalu beliau seperti teringat sesuatu, “Oh iya Bel, kamu kok sepertinya jarang pergi bareng teman-temanmu lagi?” tanyanya.

Aku terdiam sambil tetap mengunyah roti dalam mulutku lalu menelannya perlahan sebelum aku menjawab, “Teman apanya bu? Mereka bahkan seperti gak menganggap aku ada.”­­­­­­­­­­­­­­­

“Ah, masa iya?” tanya Ibuku lagi, seolah tak percaya.

“Iya bu, ya sudah aku pergi dulu ya,” pamitku kemudian.


Isabella Hawkins, itulah namaku. Lahir dan besar di Edmond, sebuah kota kecil di Oklahoma, Amerika Serikat. Aku bersekolah di Garstone Middle School bersama anak-anak usia sekolah menengah lainnya. Tadinya aku merasa bersekolah di sini sangat asyik, guru-guru yang ramah, teman-teman yang seru, tapi itu dulu, dulu sebelum aku kehilangan sahabat-sahabat terbaikku.

Devonne, Evelyn, Atashia, Tiffany dan Hayley, dulu mereka pernah menjadi bagian hidupku, tertawa bersamaku di saat bahagia dan menangis bersama di saat kebahagiaan itu hilang. Tetapi roda kehidupan berputar dengan cepat layaknya seorang atlet marathon. Entah karena alasan apa, mereka menjauh dan menghindariku, jika bertatap muka denganku mereka memasang wajah sinis seakan aku tidak pantas ada di hadapan mereka.

Seperti pagi ini, saat aku melewati kelas mereka, mereka menatapku tajam seolah ingin melahapku. Kupercepat langkahku kemudian masuk ke kelas dan meletakkan tas di bangku.

“Hey, Isabel!” tiba-tiba Zach Bolton, teman sekelasku, menyapa.

“Oh, hai, Zach!” balasku seraya tersenyum.

“Kenapa kau berjalan tergesa tadi? Ada apa?” tanya Zach.

“Ng … itu .…” ketika akan menjawab, Tiffany melangkah masuk, dia memang sekelas denganku, seperti teman-temannya ia juga menatapku sinis.

“Ehm tidak apa-apa, hanya takut terlambat saja hahaha ....” jawabku akhirnya.

“Haha ada-ada saja kau ini,” ucap Zach, tertawa.

Kriiinnngg … bel tanda pelajaran dimulai menyalak nyaring, semua siswa pun bergegas mempersiapkan pelajaran pertama.


Bel pulang sekolah akhirnya berdering tepat pukul 12 siang. Kurapikan buku-buku serta alat tulisku sebelum aku masukkan mereka ke dalam tas.

Pluk. kotak pensilku terjatuh, aku membungkuk hendak mengambilnya, namun kaki seseorang menginjaknya.

“Oh, Sial!” umpatku pelan.

Orang itu menginjak kotak pensilku hingga remuk, aku mendongak melihat siapa yang melakukan hal itu, “Tiffany?” ujarku tercengang.

“Apa?! Kalau membereskan barang hati-hati dong! Untung kotak itu hanya berisi pensil! Huh!” setelah berkata seperti itu Tiffany melengos pergi.

Aku menatap Tiffany sembari mengangkat sebelah alisku, “Hah? Apa katanya? Untung!? Dia tak tahu perjuanganku mendapatkan kotak pensil ini, susah payah aku mengumpulkan tiket di Play Land untuk mendapatkannya!” gerutuku, dengan kasar aku masukkan kotak pensilku yang sudah remuk itu ke dalam tas.

“Isabel, kotak pensilmu kenapa?” tanya Zach yang menghampiriku.

“Tanyakan pada gadis psycho itu!” jawabku kesal.

“Hey, tenanglah, jangan marah-marah begitu. Ayo kita pulang saja,” ujar Zach sambil menarik tanganku keluar kelas.


Sepanjang jalan menuju ke rumah, aku menumpahkan kekesalanku pada Zach. Anak laki-laki berkacamata itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar semua ocehanku.

“Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah lega kah?” tanya Zach setelah mulutku berhenti berkoar-koar.

Aku menghela napas, “Iya, makasih mau mendengarkan keluh-kesahku.”

Zach tersenyum hingga menampakkan lesung pipitnya, “Tak masalah, itulah gunanya sahabat,” ucapnya.

Bibirku juga melukiskan senyuman, “Benarkah? Makasih ya sudah mau menjadi sahabatku!” kataku senang.

“Haha itulah gunanya Zach ....” candanya seraya tertawa.

“Ah kau ini .…” aku mendorong bahunya pelan dan ikut tertawa bersamanya.

Angin musim gugur kembali merontokkan dedaunan dari pohon-pohon yang kami lewati di sepanjang jalan, seperti rasa kesalku yang telah rontok karena Zach,



Ya mulai sekarang dialah sahabatku yang sesungguhnya.

-to be continued-

No comments:

Post a Comment