Fajar baru saja
menyingsing. Aku membuka mataku dengan berat, lalu dengan langkah gontai
kuhampiri jendela yang tertutupi gorden hijau muda sebelum aku menyibaknya.
Dengan mata biru safirku, aku menatap jauh
keluar jendela. Daun-daun dari pepohonan milik tetanggaku berjatuhan dari
rantingnya dan tertiup angin musim gugur. Kurasakan semilir angin dingin yang
masuk melalui ventilasi, membuatku semakin malas untuk pergi sekolah, tapi itu
adalah kewajibanku.
Setelah mandi dan bersiap-siap, aku pun
melangkah cepat menuruni tangga. Di bawah tampak Ibu dan Ayahku sudah berada di
meja makan sedang menikmati sarapan mereka.
“Pagi Bu, Yah,” sapaku seraya duduk di kursi.
“Pagi, dear
....” balas Ayahku, sementara Ibu hanya tersenyum membalas sapaanku tadi.
“Mau sarapan dengan apa, dear?” tanya Ibu kemudian.
“Umm … samakan dengan Ayah juga gak apa-apa,”
jawabku.
“Baiklah .…” Ibu menyodorkanku beberapa potong
roti bakar isi selai kacang dan segelas susu cokelat.
“Makasih, Bu!” ucapku senang, segera kuhabiskan
sarapanku itu.
Ibu hanya tertawa kecil melihatku makan dengan
semangat seperti itu, lalu beliau seperti teringat sesuatu, “Oh iya Bel, kamu
kok sepertinya jarang pergi bareng teman-temanmu lagi?” tanyanya.
Aku terdiam sambil tetap mengunyah roti dalam
mulutku lalu menelannya perlahan sebelum aku menjawab, “Teman apanya bu? Mereka
bahkan seperti gak menganggap aku ada.”
“Ah, masa iya?” tanya Ibuku lagi, seolah tak
percaya.
“Iya bu, ya sudah aku pergi dulu ya,” pamitku
kemudian.
Isabella Hawkins, itulah namaku. Lahir dan
besar di Edmond, sebuah kota kecil di Oklahoma, Amerika Serikat. Aku bersekolah
di Garstone Middle School bersama anak-anak usia sekolah menengah lainnya. Tadinya aku merasa bersekolah di sini sangat asyik, guru-guru yang ramah,
teman-teman yang seru, tapi itu dulu, dulu sebelum aku kehilangan
sahabat-sahabat terbaikku.
Devonne, Evelyn, Atashia, Tiffany dan Hayley,
dulu mereka pernah menjadi bagian hidupku, tertawa bersamaku di saat bahagia
dan menangis bersama di saat kebahagiaan itu hilang. Tetapi roda kehidupan
berputar dengan cepat layaknya seorang atlet marathon. Entah karena alasan apa,
mereka menjauh dan menghindariku, jika bertatap muka denganku mereka memasang
wajah sinis seakan aku tidak pantas ada di hadapan mereka.
Seperti pagi ini, saat aku melewati kelas
mereka, mereka menatapku tajam seolah ingin melahapku. Kupercepat langkahku
kemudian masuk ke kelas dan meletakkan tas di bangku.
“Hey, Isabel!” tiba-tiba Zach Bolton, teman
sekelasku, menyapa.
“Oh, hai, Zach!” balasku seraya tersenyum.
“Kenapa kau berjalan tergesa tadi? Ada apa?”
tanya Zach.
“Ng … itu .…” ketika akan menjawab, Tiffany
melangkah masuk, dia memang sekelas denganku, seperti teman-temannya ia juga
menatapku sinis.
“Ehm tidak apa-apa, hanya takut terlambat saja
hahaha ....” jawabku akhirnya.
“Haha ada-ada saja kau ini,” ucap Zach,
tertawa.
Kriiinnngg … bel
tanda pelajaran dimulai menyalak nyaring, semua siswa pun bergegas
mempersiapkan pelajaran pertama.
Bel pulang sekolah akhirnya berdering tepat
pukul 12 siang. Kurapikan buku-buku serta alat tulisku sebelum aku masukkan
mereka ke dalam tas.
Pluk. kotak
pensilku terjatuh, aku membungkuk hendak mengambilnya, namun kaki seseorang
menginjaknya.
“Oh, Sial!” umpatku pelan.
Orang itu menginjak kotak pensilku hingga
remuk, aku mendongak melihat siapa yang melakukan hal itu, “Tiffany?” ujarku
tercengang.
“Apa?! Kalau membereskan barang hati-hati
dong! Untung kotak itu hanya berisi pensil! Huh!”
setelah berkata seperti itu Tiffany melengos pergi.
Aku menatap Tiffany sembari mengangkat sebelah
alisku, “Hah? Apa katanya? Untung!? Dia tak tahu perjuanganku mendapatkan kotak
pensil ini, susah payah aku mengumpulkan tiket di Play Land untuk mendapatkannya!” gerutuku, dengan kasar aku
masukkan kotak pensilku yang sudah remuk itu ke dalam tas.
“Isabel, kotak pensilmu kenapa?” tanya Zach
yang menghampiriku.
“Tanyakan pada gadis psycho itu!” jawabku kesal.
“Hey, tenanglah, jangan marah-marah begitu. Ayo
kita pulang saja,” ujar Zach sambil menarik tanganku keluar kelas.
Sepanjang jalan menuju ke rumah, aku
menumpahkan kekesalanku pada Zach. Anak laki-laki berkacamata itu hanya
mengangguk-anggukan kepalanya mendengar semua ocehanku.
“Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah lega
kah?” tanya Zach setelah mulutku berhenti berkoar-koar.
Aku menghela napas, “Iya, makasih mau
mendengarkan keluh-kesahku.”
Zach tersenyum hingga menampakkan lesung
pipitnya, “Tak masalah, itulah gunanya sahabat,” ucapnya.
Bibirku juga melukiskan senyuman, “Benarkah?
Makasih ya sudah mau menjadi sahabatku!” kataku senang.
“Haha itulah gunanya Zach ....” candanya
seraya tertawa.
“Ah kau ini .…” aku mendorong bahunya pelan
dan ikut tertawa bersamanya.
Angin musim gugur kembali merontokkan dedaunan
dari pohon-pohon yang kami lewati di sepanjang jalan, seperti rasa kesalku yang
telah rontok karena Zach,
Ya mulai sekarang dialah sahabatku yang sesungguhnya.
-to be continued-
No comments:
Post a Comment