Telepon berdering, Dan pemilik telepon tersebut mengangkatnya lalu
terdengar suara di ujung sana,
“Daniel Kuso…”
Dan terkejut mendengar suara gadis yang sangat familiar itu
namun ia berusaha tenang, “Ehm maaf ini siapa?” tanyanya berpura-pura,
“Ini aku Dan, Runo…”
‘Sudah kuduga,’ pikir Dan, “Oh ehm Runo, ada apa?” tanyanya
lagi,
“Bisakah kita bertemu sekarang? Kumohon…” pinta gadis bernama
Runo itu,
“Bertemu? Ng… ya baiklah, dimana?”
“Café Our Time,”
Dan terkejut sekali lagi, ‘Kenapa dia mengajak bertemu di
sana?’ batinnya gusar,
“Dan, kau masih di situ?” tanya Runo,
“Euh iya iya, Café Our Time, baiklah aku menuju ke sana,
tunggu ya,” jawab Dan gelagapan seraya menutup teleponnya,
Lelaki berambut coklat itu menghempaskan dirinya ke sofa
sambil mencoba menjernihkan pikirannya,
‘Ada apa ini? Kenapa Runo tiba-tiba menelponku dan mengajak
bertemu di tempat itu? apa ada sesuatu? Oh jangan-jangan…’
“Dan, kau kenapa?” tiba-tiba Fabia, kekasih Dan, datang
menghampirinya,
“Ah Fabia, tidak, aku tidak apa-apa, hanya saja…”
“Hanya saja kenapa?” tanya Fabia heran,
Dan terlihat bimbang, apakah dia harus menceritakan soal ini
pada Fabia, namun karena Dan tidak ingin Fabia salah paham maka ia berbohong,
“Hanya saja aku baru ingat kalau aku ada janji dengan Jack, hahaha…” ucap Dan
tertawa,
Fabia tersenyum, “Oh kukira kau kenapa… yasudah kapan kau
akan menemuinya?”
“Sekarang. Aku pergi dulu ya Fabia, tak lama kok,” Dan
mengecup dahi kekasihnya itu, “Bye… tunggu di sini ya,” katanya sambil
melambaikan tangan.
Dan berjalan menyusuri trotoar sambil sesekali menendang
kerikil kecil yang ada di depan kakinya, ia benar-benar bingung sekarang,
kenapa disaat ia sudah berhasil melangkah gadis masa lalunya kembali membayangi
dirinya? Sejujurnya Dan tidak siap dan tidak pernah siap bertemu lagi dengan
Runo, gadis yang dulu membuatnya terlena dan melayang dengan cinta namun gadis
itu juga yang telah membuat ia jatuh dan hancur,
Lelaki itu berhenti di depan sebuah Café, ia sempat ragu
ketika akan membuka pintu kaca di hadapannya,
‘Kuatkan hatimu Dan, bersikaplah wajar, dia hanya masa lalu,’
batin Dan, lalu ia pun membuka pintunya,
Dan menoleh ke sekeliling mencari Runo, lalu terlihat seorang
gadis berambut biru yang sangat ia kenal, maka ia pun menghampirinya, “Runo…”
ujar Dan,
Gadis itu menoleh, “Dan…?”
Dan hanya tersenyum simpul lalu ia duduk berhadapan dengan
Runo, seorang waitress datang dan menawarkan menu,
“Permisi, mau pesan apa?” tanya waitress itu,
“Ehm… 1 Mocca Float dan 1 Lemonade dengan hiasan lemon di
tepi gelasnya,” jawab Dan tersenyum, Runo tampak terkejut lalu menatap Dan
bingung,
Waitress itu tersenyum ramah, “Baiklah, mohon tunggu,”
ucapnya lalu meninggalkan meja mereka,
“Dan, kau…”
“Kenapa Runo? Bukankah kau selalu memesan itu dulu?” ujar
Dan, ia sengaja melakukannya untuk mempermainkan Runo,
Gadis itu hanya tersipu malu, ‘Ternyata Dan masih ingat…’
pikirnya,
Tak lama kemudian minuman pesanan mereka datang. Mereka
berdua dilanda kecanggungan sampai akhirnya Dan buka suara, “Sebenarnya ada apa
kau memintaku kemari? Ada yang ingin kau bicarakan?” tanyanya,
Runo terdiam sembari mengaduk lemonade-nya, lalu ia menghela
napas, “Iya, aku ingin bicara sesuatu…”
“Oke, bicaralah,” kata Dan, namun dalam hati ia berkata,
‘Tidak! Jangan katakan…’
“Dan, aku… masih mencintaimu…”
“Uhuk!” lelaki itu spontan tersedak mendengarnya,
“Kau kenapa?” tanya Runo,
“Euh tidak apa-apa,” jawab Dan berusaha menenangkan dirinya,
dugaannya benar, pasti Runo akan mengatakan itu,
“Jadi… bagaimana?” tanya Runo meminta kepastian,
Dan mengepalkan tangannya lalu mengetuk meja, ‘Ingat Daniel
Kuso, kau sudah punya Fabia, iya Fabia, dia lebih baik dari gadis yang di
hadapanmu sekarang ini kan? Ingat juga siapa yang telah membangun kembali
puing-puing hatimu yang hancur? Ya itu Fabia, bukan Runo!’
“Aku tidak bisa, Runo!” ucap Dan tegas seraya beranjak dari
kursinya,
“Apa? Ta-tapi kenapa Dan?” tanya Runo kecewa,
“I’ve finally moved on!” tukas lelaki yang tadi memesan Mocca
Float itu sambil melangkah pergi,
“Dan tunggu…” Runo mengejar Dan sampai keluar Café dan menahan
lengannya,
“Lepaskan aku Runo! Kenapa kau menginginkan aku lagi hah!?”
seru Dan,
“Maafkan aku Dan… aku menyesal telah menyiakan dirimu,
izinkan aku kembali denganmu Dan, aku mencintaimu…” ucap Runo memohon, mata
biru safirnya berkaca-kaca oleh air mata,
Dan terdiam, ia menghindari tatapan memohon mantan gadisnya
itu, di satu sisi ia tidak tega, namun di sisi lain ia merasa marah karena
sudah disia-siakan, dan tampaknya sisi inilah yang menang, “Maaf Runo, aku
sudah punya Fabia, kurasa dialah yang tepat untukku, bukan kau…” ujar Dan,
Runo terkejut mendengarnya, “Ja-jadi kau…”
“I’m taken, sorry…” Dan pun berbalik badan akan pergi tapi
sekali lagi Runo menahannya dan menangis, “Putuskan saja dia Dan! Kembalilah
padaku!” seru gadis itu,
“Kau pikir kau siapa!?” Dan menyentakkan tangan Runo dengan
kasar, “Sudahlah, lupakan aku dan semua tentang masa lalu itu, semoga kau temui
pengganti diriku!” tukas Dan, ia berlari meninggalkan Café Our Time dan Runo
yang menangisi penyesalannya.
Now that you can't have
me
You suddenly want me
Now that I'm with somebody else
You tell me you love me…
You suddenly want me
Now that I'm with somebody else
You tell me you love me…
-END
No comments:
Post a Comment