Pages

22 June 2012

He's Gone


Ash Stenfield
Nama itu terukir apik pada sebuah batu nisan marmer yang ada di hadapanku, sambil berurai air mata aku mengusap perlahan nisan yang terukir nama orang yang pernah kucintai itu. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat dan memang sulit untuk aku bisa mempercayainya, seperti baru saja aku bertemu dan jatuh hati pada lelaki bernama Ash Stenfield itu namun sekarang aku mendapatinya terbaring di bawah nisan ini,
Kupejamkan mataku yang sembap, mencoba menjelajah kembali waktu yang pernah kulewati bersamanya…

Musim panas tahun lalu aku bertemu dengannya di pantai, ia tak sengaja menabrakku dan aku tak sengaja menumpahkan minuman ke bajunya,
“Oh gosh, ma…maafkan aku, aku…aku tidak sengaja,” ucapku gelagapan,
“Ah tidak apa-apa, lagipula ini salahku, aku yang menabrakmu tadi,” katanya,
“Tapi tetap saja aku harus bertanggung jawab, hmm aku belikan baju baru untukmu ya,”
“Eh apa? Ti-tidak usah,”
“Sudah, ayo ikut aku,”
Aku mengajaknya ke daerah pertokoan dan membelikannya kaos abu-abu dengan lambang peace di tengahnya sebagai ganti baju yang tadi kutumpahi minuman,
“Kau suka? Ini sebagai permintaan maafku,” ujarku,
“Suka sekali. Terimakasih banyak ya, aku akan mengganti uangmu setelah ini, tenang saja,” tukas lelaki berambut hitam itu,
“Oh tidak usah, samasekali tidak usah. Aku tulus memberikannya, anggap saja itu hadiah,” balasku tersenyum,
Lelaki itu ikut tersenyum, “Kau baik sekali. Siapa namamu?” tanyanya,
“Aku Dawn, Dawn Henderson. Kalau kau?”
“Ash Stenfield. Senang bertemu denganmu, Dawn,”
Kami berdua berjabat tangan, setelahnya kami berteman, bertukar nomor telepon, dan bertemu di tempat yang kami sepakati.
Sampai suatu hari Ash mengajakku bertemu di Café, namun di sana aku tidak melihatnya dan tiba-tiba lampu Café padam menyisakan satu lampu di dekat panggung, ternyata Ash berdiri di sana membawa sebuah gitar,
Ash memetik senar-senar gitar itu lalu berbicara padaku melalui mikrofon, “Untuk gadis yang di sana, ya itu kau, aku akan bernyanyi untukmu, maaf ya kalau suaraku aneh hahaha, ehm baiklah ini dia…”

The light shines it's getting hot on my shoulders
            I don't mind, this time it doesn't matter
            Cause your friends, they look good but you look better
            Don't you know all night
            I've been waiting for a girl like you to come around, round, round
Under the lights tonight
            Turned around, and you stole my heart
            With just one look
            When I saw your face I fell in love
            Took a minute girl, to steal my heart tonight
Just one look, yeah
            Been waiting for a girl like you
I'm weaker my worlds fall and they hit the ground
            All life come on here don't you fail me now
            I start to say I think I love you but I make no sound
            Oh cuz all my life I’ve been waiting for a girl like you to come around
Under the lights tonight
            Turned around, and you stole my heart
            With just one look
            When I saw your face I fell in love
            Took a minute girl, to steal my heart tonight
With just one look, yeah
            I'm waiting for a girl like you

“Dawn Henderson, may I be yours?”
“Wh-what?” seruku kebingungan, dua orang pelayan Café mengajakku ke atas panggung, Ash berlutut di hadapanku dan memberikan sebuket bunga,
“Ash whatcha doing, huh?” bisikku malu,
“I rewind, may I be yours, Dawn Henderson? I know this is crazy but I’ve been loving you so badly, would you accept me, maybe?” tanya Ash sambil mengedipkan sebelah matanya,
Para pengunjung Café pun mendukung aksi Ash, ohh aku malu sekali, tapi aku tersanjung karena Ash mau melakukannya untukku. Aku pun menerima buket bunga yang diberikannya dan menarik Ash agar berdiri,
“Yes, you can be mine,” jawabku tersenyum,
Terdengar terpukan tangan pengunjung Café yang riuh, Ash melambai-lambaikan tangannya seperti penyanyi yang baru saja perform, dia lalu mengajakku keluar dari Café, kami berdua tertawa lepas dan sangat bahagia.

Waktu demi waktu berlalu, hubunganku dengan Ash sudah genap satu tahun. Sikapnya dari hari ke hari kian romantis, dan saat first anniversary kami, ia mengajakku kencan di taman kota,
Aku sampai di taman lebih dulu, sambil menunggu aku pun duduk dan membolak-balikan kado yang kubawa untuk Ash, isinya syal yang kurajut sendiri, aku memberikan ini karena sebentar lagi musim dingin tiba,
Aku tersenyum lalu memalingkan pandanganku ke segala arah, kemana Ash? Ah mungkin sebentar lagi dia sampai.

Ugh! Aku resah, sudah hampir dua jam aku menunggunya namun ia tak kunjung datang. Baru kali ini ia membiarkanku menunggu begitu lama, aku mengecek ponselku berharap ada sms atau telepon dari Ash, namun ponselku hening,
Ah sebaiknya kutelpon saja dia, jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi padanya,
Telepon tersambung, “Euh halo?” terdengar suara agak serak di ujung sana,
“Ash? Itu kau?”
“Dawn? Ada apa kau menelponku?” tanya Ash seperti terkejut,
“Ada apa? Kau tidak ingat sekarang hari apa?” tanyaku balik,
“Uh… hari Selasa kan? Ada apa dengan hari Selasa?” Ash terdengar bingung,
Aku mengepalkan tanganku kesal, dia tidak ingat? Bagaimana mungkin? Dia sendiri yang memintaku datang kemari,
“Halo? Dawn? Kau masih di situ?”
“Ash, kalau kau sedang bergurau, ini samasekali tidak lucu!” seruku, kemudian aku menutup teleponnya sebelum Ash berkata lagi,
Aku beranjak dari kursi taman lalu berjalan sembari menghentakkan kaki dengan geram. Ash benar-benar tega! Dia memang suka bercanda dan tiba-tiba memberi kejutan, namun kali ini candaannya keterlaluan! Dia membiarkan aku menunggu selama ini tanpa memberi kabar, oke kalau ini memang kejutan kenapa sekarang dia tidak datang-datang juga padaku?!
Hampir saja aku meremukkan kadonya ketika seorang lelaki berambut hitam berlari ke arahku dan langsung memelukku erat,
“Dawn, maaf… maafkan aku, aku benar-benar lupa soal hari ini, maafkan aku Dawn… happy first anniversary…”
“Jangan seenakmu saja!” bentakku seraya mendorong Ash, “Aku sudah menunggumu lama sekali, aku sudah susah-susah membuatkan ini untukmu, aku gelisah, berpikir macam-macam dan mengkhawatirkanmu tapi kau malah lupa dengan janji yang telah kau buat! Kalau memang tidak bisa datang kabari aku sejak tadi! Ini ambilah dan tinggalkan aku!!”
Kado itu kusodorkan secara paksa padanya lalu aku melangkah pergi begitu saja, aku benar-benar kesal dan marah sampai tidak mau menyahuti panggilannya,
“Dawn, kumohon maafkan aku… aku salah, aku benar-benar salah, hukum aku apa saja tapi jangan tinggalkan aku, Dawn…” pinta Ash, dia berusaha menggaet lenganku tapi aku selalu berhasil menghindarinya,
Ash masih mengejarku sampai ke perempatan jalan raya, tadinya aku ingin langsung berlari ke sebrang, namun lampu merah untuk pejalan kaki sedang menyala dan aku tak mungkin menerobosnya. Kesempatan itu diambil oleh Ash, ia mencekal lenganku dan memutar tubuhku agar menghadap kepadanya,
“Dawn dengarkan aku…”
“Kubilang tinggalkan aku! Aku benci kau! Kau keterlaluan! Aku takkan memaafkanmu, takkan pernah!!” bentakku,
“Dawn, jangan berkata begitu, kumohon maafkan aku…” Ash meremas bahuku, wajahnya memelas, memohon agar aku memaafkannya,
“TINGGALKAN AKU DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI!!” aku berteriak tepat di depan wajahnya dan bergegas menyebrang karena lampu untuk pejalan kaki sudah berganti hijau,
“Dawn! Dawn!!” seru Ash memanggil-manggilku tapi aku tidak peduli,
“AWAS DAWN!!!” kali ini Ash berteriak lebih kencang, ia berlari dan mendorongku, kemudian terdengar suara hantaman benda keras di belakangku,
Aku terkejut setengah mati, apa yang barusan itu? kenapa Ash mendorongku?
Orang-orang berdatangan menghampiriku, “Kau tidak apa-apa nak? Temanmu tadi tertabrak!” ucap salah seorang dari mereka,
“Ap-apa?! Ash!” aku berlari menerobos kerumunan orang-orang dan mendapati Ash tergeletak beberapa meter dari sebuah mobil yang kap mesinnya penyok. Tubuhnya bersimbah darah dan ia diam tak bergerak,
“Ash!!!” aku menjerit histeris seraya menghampirinya, aku berlutut di sebelah Ash dan memangku kepalanya yang bocor sehingga darah mengotori bajuku,
“Ash! Bertahanlah… kumohon, bertahanlah Ash…” ucapku di sela isak tangis sembari mengguncang pelan tubuhnya,
“Da…Dawn…” Ash membuka matanya, napasnya tersengal-sengal, ia mencoba meraih pipiku dengan tangannya yang berdarah-darah, “Dawn… Ja..jangan me..na..ngis…” ucapnya terbata-bata,
Aku menahan tangannya di wajahku, biar saja aku kotor dengan darah, aku tak peduli. Aku merasa menyesal telah mengabaikannya tadi, aku merasa amat sangat menyesal,
“Ash, aku tarik kembali kata-kataku, jangan tinggalkan aku Ash, kumohon bertahanlah untukku…” pintaku masih terisak-isak,
Napas Ash semakin melambat, di detik-detik terakhirnya ia masih sempat meminta maaf padaku sebelum akhirnya Ash benar-benar pergi…

Aku membuka kembali mataku yang telah meneteskan kristal beningnya, kenanganku bersama Ash dan kejadian itu tak pernah lekang dari benakku. Andai saja uang bisa untuk membeli mesin waktu, maka akan kuusahakan semahal apapun harganya, aku ingin kembali pada masa dimana aku bertengkar dengan Ash di taman itu, kalau saja aku bisa sedikit lebih sabar dan mencoba mendengar penjelasannya mungkin Ash takkan mengejarku dan menyelamatkanku dari pengemudi gila yang kemudian menewaskannya,
Aku menangis lagi untuk kesekian kalinya, menangisi penyesalanku yang datang sangat terlambat, seandainya aku bisa menarik kembali kata-kataku, seandainya Ash masih bersamaku, aku takkan berada di tempat ini!
“Dawn…”
Tiba-tiba sebuah suara memanggilku pelan, suara yang sangat familiar di telingaku,
“Ash?”
“Iya, Dawn-ku sayang…”
Tak salah lagi, ini pasti Ash! Dia selalu menjawab begitu kalau aku memanggilnya. Aku pun tertawa seraya berdiri, “Hahaha… Ash, kau datang?” seruku,
Namun aku tertegun karena di sekitarku tidak ada orang, “Ash? Ash? Kau dimana? Kenapa aku tidak melihatmu?” tanyaku,
“Aku di sini sayang, di dalam hatimu…”
Aku terkejut lantas jatuh terduduk begitu saja, Ash? Dia ada di hatiku?
Mataku kembali berkaca-kaca, “Ash… ternyata kau tidak kemana-mana…” ujarku lirih,
“Memang tidak Dawn… aku telah pergi dari dunia, tapi tidak dari hatimu…” katanya,
Perasaan haru menyeruak dalam dadaku dan terlampiaskan sebagai air mata. Namun tiba-tiba aku merasa tubuhku terguncang,
“Nak… bangun nak, kenapa kamu tidur di sini?” tanya seseorang,
Aku mengucek mataku yang sembap, “Uh… hah? Aku ketiduran!” seruku kaget,
“Kamu tidak apa-apa? Daritadi kamu menangis?” tanya orang itu lagi,
“Euh i-iya saya tidak apa-apa, maaf ya pak jadi merepotkan,” ujarku,
Orang itu tersenyum, “Sebaiknya kau pulang, hari sudah sore,” katanya,
“Iya baiklah saya permisi dulu,” ucapku seraya bergegas pergi.

Aku berjalan pelan meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Ash, ternyata tadi aku bermimpi, mimpi yang sangat indah walaupun singkat,
Tiba-tiba semilir angin membelai wajahku dan terdengar bisikan lembut, “Hey Dawn…”
Aku menoleh cepat, “Ash?” dan aku melihatnya, ia tampak berdiri di samping makamnya sambil melambaikan tangan ke arahku dengan senyumannya yang menawan,
Perlahan sudut bibirku terangkat membentuk sebuah senyum bahagia, Ash benar, dia memang pergi dari dunia tapi tidak dari hatiku,
He’s gone but his love will always stay here…
-END

No comments:

Post a Comment