Ash Stenfield
Nama itu terukir apik pada sebuah batu nisan marmer yang ada
di hadapanku, sambil berurai air mata aku mengusap perlahan nisan yang terukir
nama orang yang pernah kucintai itu. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat
dan memang sulit untuk aku bisa mempercayainya, seperti baru saja aku bertemu
dan jatuh hati pada lelaki bernama Ash Stenfield itu namun sekarang aku
mendapatinya terbaring di bawah nisan ini,
Kupejamkan mataku yang sembap, mencoba menjelajah kembali
waktu yang pernah kulewati bersamanya…
Musim panas tahun lalu aku bertemu dengannya di pantai, ia
tak sengaja menabrakku dan aku tak sengaja menumpahkan minuman ke bajunya,
“Oh gosh, ma…maafkan aku, aku…aku tidak sengaja,” ucapku
gelagapan,
“Ah tidak apa-apa, lagipula ini salahku, aku yang menabrakmu
tadi,” katanya,
“Tapi tetap saja aku harus bertanggung jawab, hmm aku belikan
baju baru untukmu ya,”
“Eh apa? Ti-tidak usah,”
“Sudah, ayo ikut aku,”
Aku mengajaknya ke daerah pertokoan dan membelikannya kaos
abu-abu dengan lambang peace di tengahnya sebagai ganti baju yang tadi
kutumpahi minuman,
“Kau suka? Ini sebagai permintaan maafku,” ujarku,
“Suka sekali. Terimakasih banyak ya, aku akan mengganti
uangmu setelah ini, tenang saja,” tukas lelaki berambut hitam itu,
“Oh tidak usah, samasekali tidak usah. Aku tulus
memberikannya, anggap saja itu hadiah,” balasku tersenyum,
Lelaki itu ikut tersenyum, “Kau baik sekali. Siapa namamu?”
tanyanya,
“Aku Dawn, Dawn Henderson. Kalau kau?”
“Ash Stenfield. Senang bertemu denganmu, Dawn,”
Kami berdua berjabat tangan, setelahnya kami berteman,
bertukar nomor telepon, dan bertemu di tempat yang kami sepakati.
Sampai suatu hari Ash mengajakku bertemu di Café, namun di
sana aku tidak melihatnya dan tiba-tiba lampu Café padam menyisakan satu lampu
di dekat panggung, ternyata Ash berdiri di sana membawa sebuah gitar,
Ash memetik senar-senar gitar itu lalu berbicara padaku
melalui mikrofon, “Untuk gadis yang di sana, ya itu kau, aku akan bernyanyi
untukmu, maaf ya kalau suaraku aneh hahaha, ehm baiklah ini dia…”
The light shines it's
getting hot on my shoulders
I don't mind, this time it doesn't matter
Cause your friends, they look good but you look better
Don't you know all night
I've been waiting for a girl like you to come around, round, round
I don't mind, this time it doesn't matter
Cause your friends, they look good but you look better
Don't you know all night
I've been waiting for a girl like you to come around, round, round
Under the lights
tonight
Turned around, and you stole my heart
With just one look
When I saw your face I fell in love
Took a minute girl, to steal my heart tonight
Turned around, and you stole my heart
With just one look
When I saw your face I fell in love
Took a minute girl, to steal my heart tonight
Just one look, yeah
Been waiting for a girl like you
Been waiting for a girl like you
I'm weaker my worlds
fall and they hit the ground
All life come on here don't you fail me now
I start to say I think I love you but I make no sound
Oh cuz all my life I’ve been waiting for a girl like you to come around
All life come on here don't you fail me now
I start to say I think I love you but I make no sound
Oh cuz all my life I’ve been waiting for a girl like you to come around
Under the lights
tonight
Turned around, and you stole my heart
With just one look
When I saw your face I fell in love
Took a minute girl, to steal my heart tonight
Turned around, and you stole my heart
With just one look
When I saw your face I fell in love
Took a minute girl, to steal my heart tonight
With just one look,
yeah
I'm waiting for a girl like you
I'm waiting for a girl like you
“Dawn Henderson, may I be yours?”
“Wh-what?” seruku kebingungan, dua orang pelayan Café mengajakku
ke atas panggung, Ash berlutut di hadapanku dan memberikan sebuket bunga,
“Ash whatcha doing, huh?” bisikku malu,
“I rewind, may I be yours, Dawn Henderson? I know this is
crazy but I’ve been loving you so badly, would you accept me, maybe?” tanya Ash
sambil mengedipkan sebelah matanya,
Para pengunjung Café pun mendukung aksi Ash, ohh aku malu
sekali, tapi aku tersanjung karena Ash mau melakukannya untukku. Aku pun
menerima buket bunga yang diberikannya dan menarik Ash agar berdiri,
“Yes, you can be mine,” jawabku tersenyum,
Terdengar terpukan tangan pengunjung Café yang riuh, Ash
melambai-lambaikan tangannya seperti penyanyi yang baru saja perform, dia lalu
mengajakku keluar dari Café, kami berdua tertawa lepas dan sangat bahagia.
Waktu demi waktu berlalu, hubunganku dengan Ash sudah genap
satu tahun. Sikapnya dari hari ke hari kian romantis, dan saat first
anniversary kami, ia mengajakku kencan di taman kota,
Aku sampai di taman lebih dulu, sambil menunggu aku pun duduk
dan membolak-balikan kado yang kubawa untuk Ash, isinya syal yang kurajut
sendiri, aku memberikan ini karena sebentar lagi musim dingin tiba,
Aku tersenyum lalu memalingkan pandanganku ke segala arah,
kemana Ash? Ah mungkin sebentar lagi dia sampai.
Ugh! Aku resah, sudah hampir dua jam aku menunggunya namun ia
tak kunjung datang. Baru kali ini ia membiarkanku menunggu begitu lama, aku
mengecek ponselku berharap ada sms atau telepon dari Ash, namun ponselku
hening,
Ah sebaiknya kutelpon saja dia, jangan-jangan ada sesuatu
yang terjadi padanya,
Telepon tersambung, “Euh
halo?” terdengar suara agak serak di ujung sana,
“Ash? Itu kau?”
“Dawn? Ada apa kau
menelponku?” tanya
Ash seperti terkejut,
“Ada apa? Kau tidak ingat sekarang hari apa?” tanyaku balik,
“Uh… hari Selasa kan?
Ada apa dengan hari Selasa?” Ash terdengar bingung,
Aku mengepalkan tanganku kesal, dia tidak ingat? Bagaimana
mungkin? Dia sendiri yang memintaku datang kemari,
“Halo? Dawn? Kau masih
di situ?”
“Ash, kalau kau sedang bergurau, ini samasekali tidak lucu!”
seruku, kemudian aku menutup teleponnya sebelum Ash berkata lagi,
Aku beranjak dari kursi taman lalu berjalan sembari
menghentakkan kaki dengan geram. Ash benar-benar tega! Dia memang suka bercanda
dan tiba-tiba memberi kejutan, namun kali ini candaannya keterlaluan! Dia
membiarkan aku menunggu selama ini tanpa memberi kabar, oke kalau ini memang
kejutan kenapa sekarang dia tidak datang-datang juga padaku?!
Hampir saja aku meremukkan kadonya ketika seorang lelaki
berambut hitam berlari ke arahku dan langsung memelukku erat,
“Dawn, maaf… maafkan aku, aku benar-benar lupa soal hari ini,
maafkan aku Dawn… happy first anniversary…”
“Jangan seenakmu saja!” bentakku seraya mendorong Ash, “Aku
sudah menunggumu lama sekali, aku sudah susah-susah membuatkan ini untukmu, aku
gelisah, berpikir macam-macam dan mengkhawatirkanmu tapi kau malah lupa dengan
janji yang telah kau buat! Kalau memang tidak bisa datang kabari aku sejak
tadi! Ini ambilah dan tinggalkan aku!!”
Kado itu kusodorkan secara paksa padanya lalu aku melangkah
pergi begitu saja, aku benar-benar kesal dan marah sampai tidak mau menyahuti
panggilannya,
“Dawn, kumohon maafkan aku… aku salah, aku benar-benar salah,
hukum aku apa saja tapi jangan tinggalkan aku, Dawn…” pinta Ash, dia berusaha
menggaet lenganku tapi aku selalu berhasil menghindarinya,
Ash masih mengejarku sampai ke perempatan jalan raya, tadinya
aku ingin langsung berlari ke sebrang, namun lampu merah untuk pejalan kaki
sedang menyala dan aku tak mungkin menerobosnya. Kesempatan itu diambil oleh
Ash, ia mencekal lenganku dan memutar tubuhku agar menghadap kepadanya,
“Dawn dengarkan aku…”
“Kubilang tinggalkan aku! Aku benci kau! Kau keterlaluan! Aku
takkan memaafkanmu, takkan pernah!!” bentakku,
“Dawn, jangan berkata begitu, kumohon maafkan aku…” Ash meremas
bahuku, wajahnya memelas, memohon agar aku memaafkannya,
“TINGGALKAN AKU DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI!!” aku
berteriak tepat di depan wajahnya dan bergegas menyebrang karena lampu untuk
pejalan kaki sudah berganti hijau,
“Dawn! Dawn!!” seru Ash memanggil-manggilku tapi aku tidak
peduli,
“AWAS DAWN!!!” kali ini Ash berteriak lebih kencang, ia
berlari dan mendorongku, kemudian terdengar suara hantaman benda keras di
belakangku,
Aku terkejut setengah mati, apa yang barusan itu? kenapa Ash
mendorongku?
Orang-orang berdatangan menghampiriku, “Kau tidak apa-apa
nak? Temanmu tadi tertabrak!” ucap salah seorang dari mereka,
“Ap-apa?! Ash!” aku berlari menerobos kerumunan orang-orang
dan mendapati Ash tergeletak beberapa meter dari sebuah mobil yang kap mesinnya
penyok. Tubuhnya bersimbah darah dan ia diam tak bergerak,
“Ash!!!” aku menjerit histeris seraya menghampirinya, aku
berlutut di sebelah Ash dan memangku kepalanya yang bocor sehingga darah
mengotori bajuku,
“Ash! Bertahanlah… kumohon, bertahanlah Ash…” ucapku di sela
isak tangis sembari mengguncang pelan tubuhnya,
“Da…Dawn…” Ash membuka matanya, napasnya tersengal-sengal, ia
mencoba meraih pipiku dengan tangannya yang berdarah-darah, “Dawn… Ja..jangan
me..na..ngis…” ucapnya terbata-bata,
Aku menahan tangannya di wajahku, biar saja aku kotor dengan
darah, aku tak peduli. Aku merasa menyesal telah mengabaikannya tadi, aku
merasa amat sangat menyesal,
“Ash, aku tarik kembali kata-kataku, jangan tinggalkan aku
Ash, kumohon bertahanlah untukku…” pintaku masih terisak-isak,
Napas Ash semakin melambat, di detik-detik terakhirnya ia
masih sempat meminta maaf padaku sebelum akhirnya Ash benar-benar pergi…
Aku membuka kembali mataku yang telah meneteskan kristal
beningnya, kenanganku bersama Ash dan kejadian itu tak pernah lekang dari
benakku. Andai saja uang bisa untuk membeli mesin waktu, maka akan kuusahakan
semahal apapun harganya, aku ingin kembali pada masa dimana aku bertengkar
dengan Ash di taman itu, kalau saja aku bisa sedikit lebih sabar dan mencoba
mendengar penjelasannya mungkin Ash takkan mengejarku dan menyelamatkanku dari
pengemudi gila yang kemudian menewaskannya,
Aku menangis lagi untuk kesekian kalinya, menangisi
penyesalanku yang datang sangat terlambat, seandainya aku bisa menarik kembali
kata-kataku, seandainya Ash masih bersamaku, aku takkan berada di tempat ini!
“Dawn…”
Tiba-tiba sebuah suara memanggilku pelan, suara yang sangat
familiar di telingaku,
“Ash?”
“Iya, Dawn-ku sayang…”
Tak salah lagi, ini pasti Ash! Dia selalu menjawab begitu
kalau aku memanggilnya. Aku pun tertawa seraya berdiri, “Hahaha… Ash, kau
datang?” seruku,
Namun aku tertegun karena di sekitarku tidak ada orang, “Ash?
Ash? Kau dimana? Kenapa aku tidak melihatmu?” tanyaku,
“Aku di sini sayang, di dalam hatimu…”
Aku terkejut lantas jatuh terduduk begitu saja, Ash? Dia ada
di hatiku?
Mataku kembali berkaca-kaca, “Ash… ternyata kau tidak
kemana-mana…” ujarku lirih,
“Memang tidak Dawn… aku telah pergi dari dunia, tapi tidak
dari hatimu…” katanya,
Perasaan haru menyeruak dalam dadaku dan terlampiaskan
sebagai air mata. Namun tiba-tiba aku merasa tubuhku terguncang,
“Nak… bangun nak, kenapa kamu tidur di sini?” tanya
seseorang,
Aku mengucek mataku yang sembap, “Uh… hah? Aku ketiduran!”
seruku kaget,
“Kamu tidak apa-apa? Daritadi kamu menangis?” tanya orang itu
lagi,
“Euh i-iya saya tidak apa-apa, maaf ya pak jadi merepotkan,”
ujarku,
Orang itu tersenyum, “Sebaiknya kau pulang, hari sudah sore,”
katanya,
“Iya baiklah saya permisi dulu,” ucapku seraya bergegas
pergi.
Aku berjalan pelan meninggalkan tempat peristirahatan
terakhir Ash, ternyata tadi aku bermimpi, mimpi yang sangat indah walaupun
singkat,
Tiba-tiba semilir angin membelai wajahku dan terdengar
bisikan lembut, “Hey Dawn…”
Aku menoleh cepat, “Ash?” dan aku melihatnya, ia tampak
berdiri di samping makamnya sambil melambaikan tangan ke arahku dengan
senyumannya yang menawan,
Perlahan sudut bibirku terangkat membentuk sebuah senyum
bahagia, Ash benar, dia memang pergi dari dunia tapi tidak dari hatiku,
He’s gone but his love
will always stay here…
-END
No comments:
Post a Comment