Hari ini sebenarnya aku malas masuk, karena ada pelajaran olahraga-atau
dengan kata lain pelajaran yang tak kusukai- tapi aku tidak bisa tidak masuk
karena mom membangunkanku pagi ini,
“Mado, bangun… Mado, bangun… MADOKA, BANGUN!!!”
Suara mom yang melengking itu menggema di telingaku dan
langsung membuatku terlonjak bangun,
“Mom… you don’t have to wake me up that loud…” ujarku sambil
mengucek mata karena masih mengantuk,
“I won’t scream at you if you didn’t awake late, go to
bathroom! Now!” mom menepuk-nepuk punggungku untuk mengusir kantuk dan
menggiringku ke kamar mandi.
Setelah siap segalanya aku pergi ke sekolah dan memulai
hariku di sana, semuanya terasa baik-baik saja sampai pelajaran olahraga
dimulai,
“Baiklah minggu depan akan diadakan turnamen basket antar
kelas, setiap kelas dibagi dua tim putra-putri, dan saya sudah mengundi
nama-namanya,” jelas Ryuuga-sensei, guru olahraga,
Aku yang tadinya santai-santai saja karena merasa namaku
takkan masuk dalam undian itu terkejut saat Ryuuga-sensei memanggil namaku,
“Madoka Amano, kau menjadi kapten tim basket putri,” ujarnya,
“What the… heck!” seruku,
“Ada masalah, Madoka?” tanya Ryuuga-sensei,
“Eh… ti-tidak tapi saya kan…” aku kebingungan sendiri harus
menjawab apa,
“Kamu pasti bisa, saya rasa kamu punya skill dalam olahraga
ini, dan kamu cukup bertanggung jawab sebagai kapten,” ucap Ryuuga-sensei
sambil menepuk bahuku,
‘Are you kidding me?’ batinku,
“Iya Madoka, kau pasti bisa, kau kan jago!” kata Hikaru,
teman setimku,
“Huh baiklah, lihat nanti saja,” kataku tak bersemangat.
Sepulang sekolah aku berjalan menyusuri jalanan di sekitar
perumahan tempatku tinggal sambil berpikir, apa-apaan ini? Kenapa aku bisa
terpilih padahal semua orang tahu kalau aku payah dalam olahraga, kenapa
Ryuuga-sensei malah berkata aku punya skill? Apa beliau sedang meledekku?
Aku berhenti di dekat sebuah lapangan basket yang kelihatan
tidak terurus, semak-semak tampak melingkari lapangan berbentuk kotak itu
seperti pagar, aku bergegas pulang ke rumah untuk mencari bola basket dan
kembali ke lapangan itu,
“Mulai sekarang inilah tempat latihanku,” ujarku mantap lalu
mulai men-dribble bola.
“Aaahh!!” teriakku kesal sambil melempar bola ke arah ring.
Ini sudah hari ketiga aku latihan namun aku tak merasakan hasilnya, permainanku
sama saja seperti hari-hari sebelumnya malah semakin buruk, kurasa pikiranku
benar Ryuuga-sensei hanya ingin meledekku saja, beliau tidak serius akan
menjadikanku kapten, lihat saja diriku sekarang ini,
Aku pun jatuh terduduk dan terisak-isak agak lama sampai aku
mendengar suara langkah kaki mendekatiku,
“Jadi segitu saja usahamu, lalu kau menyerah?” tanya
seseorang. Aku mendongak, kulihat seorang anak laki-laki berambut spiky berdiri
di hadapanku,
Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk mengajak berkenalan tapi
membantuku berdiri,
“Sepertinya kau butuh bantuan untuk memperdalam skill-mu,” ia
mengambil bolaku lalu men-shootnya ke ring dan masuk,
Aku menatap ke arah
ring, lalu ganti menatapnya, “Siapa kau ini?” tanyaku bingung seraya
menyeka air mata yang berbekas di pipiku,
“Ginga Hagane, tapi kalau kau mau panggil saja aku Ginga,
Madoka,” ucapnya,
Aku terperanjat, “Darimana kau tahu namaku, Hagane?” tanyaku
heran dan makin bingung,
“Panggil Ginga saja. Ya pasti aku tahu, apa sih yang tidak
kutahu?” katanya sambil menatapku dan tersenyum simpul,
Aku hanya memutar bola mataku, “Baiklah, kau mau membantuku?”
Dia mengangguk, “Dengan senang hati, oke langsung sajalah
dimulai…”
Ginga mengajariku beberapa teknik dasar seperti dribble,
shoot, chest-pass, lay-up shoot dan lainnya. Lalu cara merebut bola yang tidak
melanggar aturan, dan cara melakukan three-point-shoot yang tepat di saat
terdesak.
“Kau hebat sekali Ginga, apa kau seorang pemain basket?”
tanyaku saat kami berdua sedang duduk melepas lelah,
Ginga terlihat mengulum senyum sembari mencabuti rumput yang
mencuat dari semen lapangan yang retak, “Dulu… iya,” jawabnya,
“Sekarang?”
Ginga menggeleng, “Tidak lagi,”
“Kenapa begitu?”
“Yaa karena memang harus begitu,” jawab Ginga seraya tertawa,
“Uh kau ini, aku serius…” ucapku merajuk,
“Hahaha… nanti juga kau akan tahu, hmm sepertinya sudah sore,
kau masih mau di sini Madoka?” katanya,
Aku mendongak menatap langit, “Yaa tidak juga, kurasa aku
harus pulang sebelum mom mencariku,”
Ginga beranjak dari duduknya, “Oke kalau gitu aku juga
pulang, bye…” ia melambaikan tangannya sekilas lalu berlari pergi,
Aku menatapnya dari jauh sembari tersenyum lalu
mengambil bola basketku dan pulang ke rumah.
-To Be Continued
-To Be Continued
No comments:
Post a Comment