Pages

22 June 2012

Oh My Coach - chapter 1


Hari ini sebenarnya aku malas masuk, karena ada pelajaran olahraga-atau dengan kata lain pelajaran yang tak kusukai- tapi aku tidak bisa tidak masuk karena mom membangunkanku pagi ini,
“Mado, bangun… Mado, bangun… MADOKA, BANGUN!!!”
Suara mom yang melengking itu menggema di telingaku dan langsung membuatku terlonjak bangun,
“Mom… you don’t have to wake me up that loud…” ujarku sambil mengucek mata karena masih mengantuk,
“I won’t scream at you if you didn’t awake late, go to bathroom! Now!” mom menepuk-nepuk punggungku untuk mengusir kantuk dan menggiringku ke kamar mandi.
Setelah siap segalanya aku pergi ke sekolah dan memulai hariku di sana, semuanya terasa baik-baik saja sampai pelajaran olahraga dimulai,
“Baiklah minggu depan akan diadakan turnamen basket antar kelas, setiap kelas dibagi dua tim putra-putri, dan saya sudah mengundi nama-namanya,” jelas Ryuuga-sensei, guru olahraga,
Aku yang tadinya santai-santai saja karena merasa namaku takkan masuk dalam undian itu terkejut saat Ryuuga-sensei memanggil namaku,
“Madoka Amano, kau menjadi kapten tim basket putri,” ujarnya,
“What the… heck!” seruku,
“Ada masalah, Madoka?” tanya Ryuuga-sensei,
“Eh… ti-tidak tapi saya kan…” aku kebingungan sendiri harus menjawab apa,
“Kamu pasti bisa, saya rasa kamu punya skill dalam olahraga ini, dan kamu cukup bertanggung jawab sebagai kapten,” ucap Ryuuga-sensei sambil menepuk bahuku,
‘Are you kidding me?’ batinku,
“Iya Madoka, kau pasti bisa, kau kan jago!” kata Hikaru, teman setimku,
“Huh baiklah, lihat nanti saja,” kataku tak bersemangat.
Sepulang sekolah aku berjalan menyusuri jalanan di sekitar perumahan tempatku tinggal sambil berpikir, apa-apaan ini? Kenapa aku bisa terpilih padahal semua orang tahu kalau aku payah dalam olahraga, kenapa Ryuuga-sensei malah berkata aku punya skill? Apa beliau sedang meledekku?
Aku berhenti di dekat sebuah lapangan basket yang kelihatan tidak terurus, semak-semak tampak melingkari lapangan berbentuk kotak itu seperti pagar, aku bergegas pulang ke rumah untuk mencari bola basket dan kembali ke lapangan itu,
“Mulai sekarang inilah tempat latihanku,” ujarku mantap lalu mulai men-dribble bola.

“Aaahh!!” teriakku kesal sambil melempar bola ke arah ring. Ini sudah hari ketiga aku latihan namun aku tak merasakan hasilnya, permainanku sama saja seperti hari-hari sebelumnya malah semakin buruk, kurasa pikiranku benar Ryuuga-sensei hanya ingin meledekku saja, beliau tidak serius akan menjadikanku kapten, lihat saja diriku sekarang ini,
Aku pun jatuh terduduk dan terisak-isak agak lama sampai aku mendengar suara langkah kaki mendekatiku,
“Jadi segitu saja usahamu, lalu kau menyerah?” tanya seseorang. Aku mendongak, kulihat seorang anak laki-laki berambut spiky berdiri di hadapanku,
Ia mengulurkan tangannya, bukan untuk mengajak berkenalan tapi membantuku berdiri,
“Sepertinya kau butuh bantuan untuk memperdalam skill-mu,” ia mengambil bolaku lalu men-shootnya ke ring dan masuk,
Aku menatap ke arah  ring, lalu ganti menatapnya, “Siapa kau ini?” tanyaku bingung seraya menyeka air mata yang berbekas di pipiku,
“Ginga Hagane, tapi kalau kau mau panggil saja aku Ginga, Madoka,” ucapnya,
Aku terperanjat, “Darimana kau tahu namaku, Hagane?” tanyaku heran dan makin bingung,
“Panggil Ginga saja. Ya pasti aku tahu, apa sih yang tidak kutahu?” katanya sambil menatapku dan tersenyum simpul,
Aku hanya memutar bola mataku, “Baiklah, kau mau membantuku?”
Dia mengangguk, “Dengan senang hati, oke langsung sajalah dimulai…”
Ginga mengajariku beberapa teknik dasar seperti dribble, shoot, chest-pass, lay-up shoot dan lainnya. Lalu cara merebut bola yang tidak melanggar aturan, dan cara melakukan three-point-shoot yang tepat di saat terdesak.
“Kau hebat sekali Ginga, apa kau seorang pemain basket?” tanyaku saat kami berdua sedang duduk melepas lelah,
Ginga terlihat mengulum senyum sembari mencabuti rumput yang mencuat dari semen lapangan yang retak, “Dulu… iya,” jawabnya,
“Sekarang?”
Ginga menggeleng, “Tidak lagi,”
“Kenapa begitu?”
“Yaa karena memang harus begitu,” jawab Ginga seraya tertawa,
“Uh kau ini, aku serius…” ucapku merajuk,
“Hahaha… nanti juga kau akan tahu, hmm sepertinya sudah sore, kau masih mau di sini Madoka?” katanya,
Aku mendongak menatap langit, “Yaa tidak juga, kurasa aku harus pulang sebelum mom mencariku,”
Ginga beranjak dari duduknya, “Oke kalau gitu aku juga pulang, bye…” ia melambaikan tangannya sekilas lalu berlari pergi, 
Aku menatapnya dari jauh sembari tersenyum lalu mengambil bola basketku dan pulang ke rumah.
-To Be Continued

No comments:

Post a Comment