Keesokan harinya sepulang sekolah aku langsung bergegas
pulang dan ganti baju,
“Mau kemana Madoka?” tanya mom,
“Latihan basket mom, di lapangan sana itu,” jawabku,
“Lapangan mana?”
“Yang di sana, di dekat rumah,”
“Yasudah, pulangnya jangan terlalu sore ya,” pesan mom,
“He-eh, aku pergi,” kataku sambil menutup pintu,
Sampai di sana kulihat Ginga sudah berdiri sambil menghadap
ke arah lain membelakangiku, timbul niat iseng untuk menimpuknya dengan bola
dari belakang, namun begitu aku melempar Ginga langsung menangkap bola itu
dengan cepat dan menembaknya ke ring dan masuk,
“Aww man…” ucapku terperangah, refleknya cepat sekali,
“Hahaha kenapa Madoka? Kau ingin mengerjaiku?” tanyanya,
Aku mengkerutkan bibirku, “Tadinya iya, tapi kau lebih gesit
dari yang kukira,”
“Hahaha oke oke, kita lanjutkan yang kemarin,” Ginga
menghampiri lalu menepuk bahuku dan mengajakku ke tengah lapangan,
Aku terdiam mengikuti ajakannya, aku tak percaya ia
merangkulku, apa ini mimpi? Tapi aku bisa merasakan detak jantungku yang
berdegup kencang dan perasaan hangat langsung mendesir dalam darahku,
“Madoka, kau kenapa?” tanya Ginga sambil menatap wajahku dari
dekat,
“Oh tidak apa-apa, ayo kau mau mengajariku teknik apalagi?”
aku mengalihkan pembicaraan,
“Ehm oke… aku akan mengajarimu… euh apa ya?” Ginga terlihat
kebingungan sendiri, ia menggaruk rambut spiky-nya sembari memalingkan
wajahnya,
Aku melihat wajah Ginga yang merona kemerahan, ia kenapa ya?
apa dia juga merasakan hal yang sama sepertiku?
“Oh iya Madoka, bagaimana kalau kita ulang latihan kemarin,
bukankah kau masih agak kesulitan melakukan three-point-shoot?” tanya Ginga,
“Uhm iya iya, kau mau kan mengajariku sekali lagi?” pintaku,
Ia mengangguk dan tersenyum, “Tentu, akan kutunjukkan
caranya,” Ginga mengambil bola dan berdiri di luar area shoot yang berbentuk
setengah lingkaran, lalu men-shootnya ke ring dan masuk, selalu saja masuk
kalau Ginga yang melempar bolanya. “Nah sekarang kau,” ujar Ginga sambil
menyerahkan bola yang kembali memantul padaku,
Aku mencoba apa yang barusan dilakukannya namun tidak masuk,
bahkan sampai ke ring pun tidak,
“Uh selalu saja, kenapa kalau kau yang melempar selalu masuk?
Apa rahasianya?” tanyaku kesal,
Ginga mendekat padaku, “Ambil dulu bolanya,” kata Ginga,
Aku mengambil bola yang tadi menggelinding ke pinggir
lapangan, lalu Ginga berdiri di belakangku dan memegang kedua lenganku,
“Rahasianya ada pada kekuatan dorongan tanganmu, Madoka. Begini…”
Ginga membimbingku perlahan, tangannya dengan lembut memegang
kedua lenganku dan mendorongnya agar men-shoot bola dengan baik,
Dug. Bola hanya memantul mengenai papan ring, tapi Ginga
sudah kegirangan luar biasa,
“Tuh, Madoka, kau bisa kan! Ayo sedikit lagi pasti bisa
masuk!” serunya sambil menggenggam tanganku erat, aku hanya tercengang sambil
melihat tanganku,
Ginga juga melihat ke tangannya lalu langsung melepaskannya,
ia tampak tersipu malu, begitupun aku,
“Ehm maaf…” katanya sambil menggaruk kepalanya,
“I-iya tidak apa…” jawabku,
“Oke, kita coba sekali lagi ya,” ujar Ginga
seraya mengambilkan bola untukku. Sisa hari itu dan hari-hari selanjutnya kami
habiskan berdua di lapangan basket yang dipagari semak-semak ini.
-To Be Continued
-To Be Continued
No comments:
Post a Comment