Pagi menjelang pertandingan aku bersiap-siap pergi ke
sekolah, ku masukkan baju seragam yang sudah dilipat rapi ke dalam tas, lalu
aku menyisir rambut pendekku dan menyematkan jepitan bintang di sisi kiri, kupakai
sepatu olahraga putih bertali biru kesayanganku dan aku pun pergi,
Namun saat aku membuka pintu kulihat Ginga ada di depan
rumahku, ia memakai jaket abu-abu dengan black jeans dan sneakers yang berwarna
sama dengan jaketnya,
“Ginga…?” ucapku terkejut,
“Hai, Madoka,” ujar Ginga sembari tersenyum,
“Da-darimana kau tahu rumahku?” tanyaku bingung,
Ginga hanya tersenyum, “Nanti saja jawabnya, ayo kuantar kau
ke sekolah,” ia menarik tanganku menuju motornya yang terparkir di depan pagar
rumahku, lalu kami berdua berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sana Ryuuga-sensei langsung menyambutku,
“Madoka, saya kira kamu tidak akan datang,” katanya,
“Tentu saja aku datang sensei, aku kan kapten,” ucapku,
Lalu Ryuuga-sensei beralih ke Ginga, “Hey Gin-gin, kau
datang?” lalu mereka berdua melakukan sejenis salam rahasia,
“Hey sensei, long time no see. Ya, aku ingin melihat-lihat
keadaan sekolah ini lagi,” kata Ginga pada sensei,
Aku melihat mereka berdua dengan tatapan
what-the-heck-is-happening-now?
“Oh iya Madoka, sebaiknya kita segera ke lapangan indoor,
teman-temanmu sudah menunggu di sana, ayo,” ucap Ryuuga-sensei yang menyadari
kalau aku tengah memerhatikan tingkah mereka,
“Uh baiklah,” aku mengikuti sensei ke lapangan basket indoor
sekolah yang megah.
“Baiklah kalian semua tunjukkan hasil latihan kalian. Madoka,
percaya dirilah, kau punya skill, ingat itu. kay, now is your time!” ucap
Ryuuga-sensei sebelum kami memasuki lapangan,
Kami semua mengangguk, lalu berjalan menuju pusat lapangan
dan membentuk formasi. Aku melempar pandanganku ke seluruh penjuru tribun
penonton, lalu tampaklah si rambut spiky yang selama ini melatihku, Ginga, ia
tersenyum dan menunjukkan semangatnya untukku,
Aku membalas senyumnya lalu kembali fokus dengan keadaan
tempatku berdiri sekarang. Wasit memegang si oranye bundar itu bersiap
melemparnya ke atas, ring-ku di sebelah kiri sana, dan di serong kanan-ku ada
Hikaru, aku perhatikan lawanku ini cukup mudah diatasi, jadi begitu bola
dilempar dan peluit melengking aku langsung menepaknya ke arah Hikaru dan gadis
itu langsung menguasai bolanya,
“Madoka!” teman setimku melakukan chest-pass dan kuterima
dengan baik, karena merasa sekitarku aman langsung saja kutembakkan ke ring,
“Yeeeaaahh!!!” sorak sorai pendukung tim kelasku membahana,
tentu saja karena aku berhasil mengganti angka nol di papan skor menjadi angka
1,
Aku berhigh-five dengan temanku itu lalu kulihat
Ryuuga-sensei mengacungkan ibu jarinya, ternyata waktu itu aku salah, sensei
memang tahu aku punya skill jadi dia tidak meledekku, dan satu skor itu cukup
membuat percaya diriku menjulang.
Setelah permainan sudah berlangsung cukup lama, aku mulai
merasa lelah, peluh membasahi jersey-ku bahkan rambut pendekku terasa lepek.
Aku melirik sekilas papan skor, masih harus mencetak 13 poin lagi untuk
mencapai poin yang seharusnya yaitu 50,
“15 minutes remaining,” seru suara dari mikrofon,
Aku agak terkejut mendengarnya, 15 menit untuk
mengejar 13 poin apa cukup? Aku melihat ke tribun penonton, lho kemana Ginga?
Dia tidak ada di sana?
-To Be Continued
-To Be Continued
No comments:
Post a Comment