Pages

22 June 2012

Oh My Coach - chapter 3

Pagi menjelang pertandingan aku bersiap-siap pergi ke sekolah, ku masukkan baju seragam yang sudah dilipat rapi ke dalam tas, lalu aku menyisir rambut pendekku dan menyematkan jepitan bintang di sisi kiri, kupakai sepatu olahraga putih bertali biru kesayanganku dan aku pun pergi,
Namun saat aku membuka pintu kulihat Ginga ada di depan rumahku, ia memakai jaket abu-abu dengan black jeans dan sneakers yang berwarna sama dengan jaketnya,
“Ginga…?” ucapku terkejut,
“Hai, Madoka,” ujar Ginga sembari tersenyum,
“Da-darimana kau tahu rumahku?” tanyaku bingung,
Ginga hanya tersenyum, “Nanti saja jawabnya, ayo kuantar kau ke sekolah,” ia menarik tanganku menuju motornya yang terparkir di depan pagar rumahku, lalu kami berdua berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sana Ryuuga-sensei langsung menyambutku, “Madoka, saya kira kamu tidak akan datang,” katanya,
“Tentu saja aku datang sensei, aku kan kapten,” ucapku,
Lalu Ryuuga-sensei beralih ke Ginga, “Hey Gin-gin, kau datang?” lalu mereka berdua melakukan sejenis salam rahasia,
“Hey sensei, long time no see. Ya, aku ingin melihat-lihat keadaan sekolah ini lagi,” kata Ginga pada sensei,
Aku melihat mereka berdua dengan tatapan what-the-heck-is-happening-now?
“Oh iya Madoka, sebaiknya kita segera ke lapangan indoor, teman-temanmu sudah menunggu di sana, ayo,” ucap Ryuuga-sensei yang menyadari kalau aku tengah memerhatikan tingkah mereka,
“Uh baiklah,” aku mengikuti sensei ke lapangan basket indoor sekolah yang megah.

“Baiklah kalian semua tunjukkan hasil latihan kalian. Madoka, percaya dirilah, kau punya skill, ingat itu. kay, now is your time!” ucap Ryuuga-sensei sebelum kami memasuki lapangan,
Kami semua mengangguk, lalu berjalan menuju pusat lapangan dan membentuk formasi. Aku melempar pandanganku ke seluruh penjuru tribun penonton, lalu tampaklah si rambut spiky yang selama ini melatihku, Ginga, ia tersenyum dan menunjukkan semangatnya untukku,
Aku membalas senyumnya lalu kembali fokus dengan keadaan tempatku berdiri sekarang. Wasit memegang si oranye bundar itu bersiap melemparnya ke atas, ring-ku di sebelah kiri sana, dan di serong kanan-ku ada Hikaru, aku perhatikan lawanku ini cukup mudah diatasi, jadi begitu bola dilempar dan peluit melengking aku langsung menepaknya ke arah Hikaru dan gadis itu langsung menguasai bolanya,
“Madoka!” teman setimku melakukan chest-pass dan kuterima dengan baik, karena merasa sekitarku aman langsung saja kutembakkan ke ring,
“Yeeeaaahh!!!” sorak sorai pendukung tim kelasku membahana, tentu saja karena aku berhasil mengganti angka nol di papan skor menjadi angka 1,
Aku berhigh-five dengan temanku itu lalu kulihat Ryuuga-sensei mengacungkan ibu jarinya, ternyata waktu itu aku salah, sensei memang tahu aku punya skill jadi dia tidak meledekku, dan satu skor itu cukup membuat percaya diriku menjulang.
Setelah permainan sudah berlangsung cukup lama, aku mulai merasa lelah, peluh membasahi jersey-ku bahkan rambut pendekku terasa lepek. Aku melirik sekilas papan skor, masih harus mencetak 13 poin lagi untuk mencapai poin yang seharusnya yaitu 50,
“15 minutes remaining,” seru suara dari mikrofon, 
Aku agak terkejut mendengarnya, 15 menit untuk mengejar 13 poin apa cukup? Aku melihat ke tribun penonton, lho kemana Ginga? Dia tidak ada di sana?
-To Be Continued

No comments:

Post a Comment