Bukk. Aku tertimpuk bola karena lengah, lalu bolanya dengan
mudah direbut tim lawan, aku kehilangan sebagian konsentrasiku,
“Owh sorry Madoka, kupikir kau sedang fokus,” ucap Hikaru,
“No prob, ini salahku juga,” ujarku,
“Woooww!!!” sorakan pendukung tim lawan terdengar. Astaga,
bahkan mereka sudah mencetak dua poin lagi, skor mereka nyaris imbang dengan
skor timku, untunglah teman setimku bertindak cepat dengan menaikkan skor kami
dua poin dengan slamdunk-nya,
Aku mencoba mengenyahkan hal yang membuyarkan konsentrasiku,
namun aku tak tahan untuk tidak menoleh ke tribun penonton, Ginga, kemana kau?
‘Aduh… fokuslah Madoka, kau sedang bertanding, lupakan Ginga
sejenak, mungkin dia sedang bersama sensei,’ pikirku,
Karena konsentrasiku goyah, tim lawan selalu berhasil mencuri
bola dan mencetak angka, namun berkat kerjasama yang baik tim kelasku juga
selalu berhasil menyamakan kedudukan,
“Madoka, kau ini kenapa? Apa kau capek?” tanya Hikaru,
“Euh i-iya… tapi tidak apa-apa kok,” jawabku,
Papan skor menampakkan angka 48 – 47, timku ketinggalan dan
waktu sudah masuk ke injury time. Bagaimana ini, apa yang harus kulakukan,
adakah cara…
Three-point-shoot!
Yeah! Aku harus melakukannya, harus, atau aku akan
mempermalukan kelasku dan mengecewakan Ryuuga-sensei juga Ginga. Aku melihat
bola ada dalam kuasa timku, langsung saja kupinta bola itu,
“Hey! Aku di sini!” seruku,
“Ah Madoka, take this!” ucap temanku,
Aku menerima umpannya lalu men-dribble sekali dan bersiap
men-shoot,
‘Rahasianya ada pada
kekuatan dorongan tanganmu, Madoka...’
Ucapan Ginga terngiang di benakku, saat itu juga si bundar
oranye telah kutembakkan ke ring dan waktu seolah berhenti sejenak sampai
akhirnya terdengar sorak sorai dari tribun penonton diikuti oleh lengkingan
peluit tanda permainan usai.
Aku menghela napas lega ketika melihat papan skor bagian
timku menampilkan angka 50, teman-temanku langsung mengerubungiku dengan wajah
ceria,
“Madoka kau keren sekali!”
“Bagaimana kau bisa sejago itu, Mado?”
“Sejak kapan kau mahir three-point-shoot?”
Aku hanya tertawa menanggapi pertanyaan mereka, lalu aku
berkata, “Bukankah itu semua hasil latihan dan kerjasama yang baik dari kita
semua? Well, kukira kita semua hebat,”
“Yeah! Longlive 9-1!” seru teman-temanku sembari high-five.
“Madoka…” panggil seseorang, aku menoleh, ternyata
Ryuuga-sensei,
“Ah sensei, kebetulan, apa anda melihat…”
“Ginga? Ya, saya bertemu dia tadi sebelum dia pergi dan
menitipkan surat ini untukmu,” ucap Ryuuga-sensei seraya menyerahkan selembar
kertas yang dilipat,
Aku menerima kertas itu, kemudian aku duduk dan membacanya,
Dear Madoka,
Akhirnya kau bertanding
juga ya, aku melihat semangatmu yang membara saat di awal pertandingan, aku
melihat wajah manismu yang tersenyum puas setelah berhasil mencetak skor
pertama, namun sayangnya aku harus pergi, ada hal yang ingin kukatakan Madoka…
Waktu itu kau bertanya
darimana kutahu namamu, sebenarnya aku bukan orang asing Madoka, aku sudah
menaruh hati padamu sejak lama dan sejak itulah aku sudah tahu namamu. Aku juga
sudah mengenalmu jauh sebelum kita bertemu di lapangan itu, entah kau sadar
atau tidak Madoka, sebenarnya kita sering bertemu di sekolah, aku sering
memperhatikanmu ketika pelajaran olahraga a.k.a pelajaran yang paling tidak kau
sukai, aku sering memperhatikanmu saat kau duduk sendiri di kantin menikmati
makan siangmu, aku suka mengikutimu sampai aku tahu dimana rumahmu, namun aku
tak punya keberanian untuk menghampiri dan menyapamu sampai akhirnya
Ryuuga-sensei memberiku kesempatan untuk menjadi pelatihmu dan kau tahu, aku
menerima kesempatan itu dengan senang hati karena baik aku maupun Ryuuga-sensei
tahu kalau kau itu bukan gadis yang tidak bisa apa-apa…
Kalau soal kenapa aku
tidak menjadi pemain basket lagi, silakan tanyakan pada Ryuuga-sensei, yaa
itupun kalau kau masih penasaran ;)
Maafkan aku Madoka,
karena aku hanya pamit melalui surat ini. Bye, jaga dirimu ya, aku akan
merindukanmu selalu…
Yours, Ginga
Tanganku bergetar dan perlahan meremukkan kertas yang barusan
kubaca itu. Ryuuga-sensei menepuk bahuku pelan lalu beliau mulai bercerita,
“Madoka, sebenarnya Ginga Hagane itu kakak kelasmu, dia
lulusan tahun lalu, dan dia mantan kapten tim basket sekolah,”
Aku menatap sensei dengan mata berkaca-kaca, “Lalu, ke-kenapa
dia tidak bermain basket lagi?”
Sensei menghela napas perlahan, “Dia mengalami cidera parah
di kakinya dan tidak diizinkan bermain basket lagi. Sebulan sekali ia harus ke
Singapura untuk melakukan pengobatan rutin cidera yang dialaminya. Hmm… dia
juga menyukaimu Madoka, sudah lama, sejak kau menjadi murid di sekolah ini, dia
hanya bercerita pada saya karena ia dan saya sudah seperti sahabat. Dia tetap
bertahan dan tidak menyukai gadis lain selain dirimu, Madoka…” jelas sensei
panjang lebar,
Air mataku sudah memenuhi pandangan, lalu terlintas pikiran
di benakku,
“Sensei, Ginga baru saja berangkat saat aku sedang bertanding
bukan? Dia sekarang pasti ada di bandara kan?” tanyaku,
“Iya, memang kenapa?” tanya Ryuuga-sensei,
Aku pun beranjak dan tersenyum dengan mata berkaca-kaca, “Aku
akan membuatnya tidak menahan perasaan lagi!” ucapku, lalu aku berlari keluar
dari sekolah,
Tunggu aku Ginga, aku takkan membiarkanmu pergi
dengan rasa yang terpendam.
-To Be Continued
-To Be Continued
No comments:
Post a Comment