Pages

22 June 2012

Oh My Coach - chapter 4

Bukk. Aku tertimpuk bola karena lengah, lalu bolanya dengan mudah direbut tim lawan, aku kehilangan sebagian konsentrasiku,
“Owh sorry Madoka, kupikir kau sedang fokus,” ucap Hikaru,
“No prob, ini salahku juga,” ujarku,
“Woooww!!!” sorakan pendukung tim lawan terdengar. Astaga, bahkan mereka sudah mencetak dua poin lagi, skor mereka nyaris imbang dengan skor timku, untunglah teman setimku bertindak cepat dengan menaikkan skor kami dua poin dengan slamdunk-nya,
Aku mencoba mengenyahkan hal yang membuyarkan konsentrasiku, namun aku tak tahan untuk tidak menoleh ke tribun penonton, Ginga, kemana kau?
‘Aduh… fokuslah Madoka, kau sedang bertanding, lupakan Ginga sejenak, mungkin dia sedang bersama sensei,’ pikirku,
Karena konsentrasiku goyah, tim lawan selalu berhasil mencuri bola dan mencetak angka, namun berkat kerjasama yang baik tim kelasku juga selalu berhasil menyamakan kedudukan,
“Madoka, kau ini kenapa? Apa kau capek?” tanya Hikaru,
“Euh i-iya… tapi tidak apa-apa kok,” jawabku,
Papan skor menampakkan angka 48 – 47, timku ketinggalan dan waktu sudah masuk ke injury time. Bagaimana ini, apa yang harus kulakukan, adakah cara…
Three-point-shoot!
Yeah! Aku harus melakukannya, harus, atau aku akan mempermalukan kelasku dan mengecewakan Ryuuga-sensei juga Ginga. Aku melihat bola ada dalam kuasa timku, langsung saja kupinta bola itu,
“Hey! Aku di sini!” seruku,
“Ah Madoka, take this!” ucap temanku,
Aku menerima umpannya lalu men-dribble sekali dan bersiap men-shoot,
‘Rahasianya ada pada kekuatan dorongan tanganmu, Madoka...’
Ucapan Ginga terngiang di benakku, saat itu juga si bundar oranye telah kutembakkan ke ring dan waktu seolah berhenti sejenak sampai akhirnya terdengar sorak sorai dari tribun penonton diikuti oleh lengkingan peluit tanda permainan usai.
Aku menghela napas lega ketika melihat papan skor bagian timku menampilkan angka 50, teman-temanku langsung mengerubungiku dengan wajah ceria,
“Madoka kau keren sekali!”
“Bagaimana kau bisa sejago itu, Mado?”
“Sejak kapan kau mahir three-point-shoot?”
Aku hanya tertawa menanggapi pertanyaan mereka, lalu aku berkata, “Bukankah itu semua hasil latihan dan kerjasama yang baik dari kita semua? Well, kukira kita semua hebat,”
“Yeah! Longlive 9-1!” seru teman-temanku sembari high-five.

“Madoka…” panggil seseorang, aku menoleh, ternyata Ryuuga-sensei,
“Ah sensei, kebetulan, apa anda melihat…”
“Ginga? Ya, saya bertemu dia tadi sebelum dia pergi dan menitipkan surat ini untukmu,” ucap Ryuuga-sensei seraya menyerahkan selembar kertas yang dilipat,
Aku menerima kertas itu, kemudian aku duduk dan membacanya,

Dear Madoka,
Akhirnya kau bertanding juga ya, aku melihat semangatmu yang membara saat di awal pertandingan, aku melihat wajah manismu yang tersenyum puas setelah berhasil mencetak skor pertama, namun sayangnya aku harus pergi, ada hal yang ingin kukatakan Madoka…
Waktu itu kau bertanya darimana kutahu namamu, sebenarnya aku bukan orang asing Madoka, aku sudah menaruh hati padamu sejak lama dan sejak itulah aku sudah tahu namamu. Aku juga sudah mengenalmu jauh sebelum kita bertemu di lapangan itu, entah kau sadar atau tidak Madoka, sebenarnya kita sering bertemu di sekolah, aku sering memperhatikanmu ketika pelajaran olahraga a.k.a pelajaran yang paling tidak kau sukai, aku sering memperhatikanmu saat kau duduk sendiri di kantin menikmati makan siangmu, aku suka mengikutimu sampai aku tahu dimana rumahmu, namun aku tak punya keberanian untuk menghampiri dan menyapamu sampai akhirnya Ryuuga-sensei memberiku kesempatan untuk menjadi pelatihmu dan kau tahu, aku menerima kesempatan itu dengan senang hati karena baik aku maupun Ryuuga-sensei tahu kalau kau itu bukan gadis yang tidak bisa apa-apa…
Kalau soal kenapa aku tidak menjadi pemain basket lagi, silakan tanyakan pada Ryuuga-sensei, yaa itupun kalau kau masih penasaran ;)
Maafkan aku Madoka, karena aku hanya pamit melalui surat ini. Bye, jaga dirimu ya, aku akan merindukanmu selalu…
Yours, Ginga

Tanganku bergetar dan perlahan meremukkan kertas yang barusan kubaca itu. Ryuuga-sensei menepuk bahuku pelan lalu beliau mulai bercerita,
“Madoka, sebenarnya Ginga Hagane itu kakak kelasmu, dia lulusan tahun lalu, dan dia mantan kapten tim basket sekolah,”
Aku menatap sensei dengan mata berkaca-kaca, “Lalu, ke-kenapa dia tidak bermain basket lagi?”
Sensei menghela napas perlahan, “Dia mengalami cidera parah di kakinya dan tidak diizinkan bermain basket lagi. Sebulan sekali ia harus ke Singapura untuk melakukan pengobatan rutin cidera yang dialaminya. Hmm… dia juga menyukaimu Madoka, sudah lama, sejak kau menjadi murid di sekolah ini, dia hanya bercerita pada saya karena ia dan saya sudah seperti sahabat. Dia tetap bertahan dan tidak menyukai gadis lain selain dirimu, Madoka…” jelas sensei panjang lebar,
Air mataku sudah memenuhi pandangan, lalu terlintas pikiran di benakku,
“Sensei, Ginga baru saja berangkat saat aku sedang bertanding bukan? Dia sekarang pasti ada di bandara kan?” tanyaku,
“Iya, memang kenapa?” tanya Ryuuga-sensei,
Aku pun beranjak dan tersenyum dengan mata berkaca-kaca, “Aku akan membuatnya tidak menahan perasaan lagi!” ucapku, lalu aku berlari keluar dari sekolah, 
Tunggu aku Ginga, aku takkan membiarkanmu pergi dengan rasa yang terpendam.
-To Be Continued

No comments:

Post a Comment