Setelah melalui jalanan yang macet, taksi yang membawaku ke
bandara sampai dalam waktu setengah jam perjalanan. Kuharap pesawat yang akan
terbang ke Singapura delay dan Ginga belum pergi,
Dengan sisa tenaga sehabis pertandingan aku berlari mencari
Ginga, dia pasti sudah di dalam sana, aku hendak menerobos masuk namun dihadang
oleh dua petugas,
“Tolong tunjukkan tiket anda,”
“Ti-tidak… saya hanya ingin mencari teman…”
“Maaf, selain penumpang yang memiliki tiket dilarang masuk,”
“Apa? Tolonglah sebentar saja…” pintaku,
Petugas itu tetap tidak mengizinkanku masuk dengan
menjelaskan peraturan-peraturan di bandara ini, aku tak peduli, ku arahkan
pandanganku ke penjuru tempat ini dan aku… aku melihatnya! Aku melihat si
rambut spiky itu!
“Ginga!!” seruku, entah dapat kekuatan darimana aku berhasil
menembus pertahanan kedua petugas bertubuh kekar itu dan berlari menghampiri
Ginga,
“Ma-Madoka…?” Ginga tampak terkejut karena aku langsung
memeluknya,
“Ginga, tolong ungkapkan perasaanmu sekarang, jangan pergi
tanpa berkata apapun padaku, jangan pergi dengan membawa rasa yang terpendam,
dan jangan hanya meninggalkan selembar surat untuk kukenang, kumohon Ginga…”
ucapku sambil terisak-isak di pelukannya,
Ginga terdiam beberapa saat lalu mengelus rambutku perlahan
dan merengkuh wajahku seraya menghapus air mata yang mengalir di pipiku,
“Madoka… jangan menangis, karena aku ingin kau simpan air mata itu sampai aku…
sampai aku…”
Ginga menarik napas lalu mengatakannya dalam sederet kalimat,
“Sampai aku mengatakan perasaanku yang sesungguhnya kalau aku sangat
menyayangimu.”
Aku tercengang, ku genggam lengan Ginga yang merengkuh
pipiku, lalu kutatap matanya, dia tersenyum padaku,
“Aku menyayangimu Madoka Amano, juniorku…”
“Ginga…” aku tak bisa berkata-kata lagi,
“Apa kau juga menyayangiku?” tanya Ginga masih dengan senyum
menawannya,
Bibirku perlahan membentuk sebuah lekuk senyuman, lalu aku
mengangguk, “Ya. aku sayang kamu, Ginga,” jawabku,
Ginga pun memelukku erat dan aku membalas pelukannya, cukup
lama aku merasakan kehangatannya sampai suara dari speaker di bandara
terdengar,
“Mohon perhatian, pesawat tujuan Bangkok-Singapura-Bali akan
segera lepas landas, bagi calon penumpang yang telah memiliki tiket harap
segera memasuki kabin pesawat, terimakasih.”
Aku melonggarkan pelukan Ginga dan menahan tanganku di
pinggangnya, “Kau… benar-benar akan pergi?”
Ginga kembali merengkuh wajahku, “Ya, kau mau aku sembuh bukan?”
Aku tersenyum, “Tentu saja, tapi kau akan kembali lagi kan,
Ginga?”
Ginga mengangguk, “Yeah, I promise…”
Ia mendekatkan wajahnya padaku dan memejamkan matanya lalu
dengan lembut ia meletakkan bibirnya di atas bibirku dan mengulumnya, dengan
senang hati aku membalas ciumannya, ciuman pertamaku,
Saat panggilan untuk para penumpang terdengar lagi Ginga
melepas ciumannya lalu ia mengusap rambutku, “Madoka, I’ll miss you…” ucapnya,
Perlahan mataku mulai berkaca-kaca lagi, “I…I’ll miss you
too, Ginga…”
“Don’t cry…” Ginga menggenggam tanganku, “I’ll come back
soon,” lalu ia mengecup dahiku dan mengambil kopernya,
“Take care…” ucapku padanya sebelum ia melangkah pergi,
Ginga tersenyum lalu ia berkata, “See you next month,”
sebelum akhirnya ia benar-benar pergi,
Yeah. I’ll be right here waiting for you, my coach…
-END
wess, fanfic "oh my coach" all chapter keren banget, di tunggu ya fanfic berikutnya, kalo bisa cerita horror dong ;)
ReplyDelete