“Josh,
sebenarnya kita mau kemana?” tanya Jen yang matanya ditutup oleh saputangan
putih,
“Sebentar lagi kau akan tahu,
sabar ya…” jawab Josh sambil tertawa, ia mengarahkan Jen ke sebuah taman
bermain, mereka berhenti di depan ayunan, Josh pun membuka saputangan yang
menutupi mata Jen lalu berbisik lembut, “Buka matamu,”
Jen membuka matanya perlahan,
setelah matanya bisa menyesuaikan cahaya sekitar ia pun menyadari tempat ia
berada sekarang ini,
Jen menoleh cepat pada Josh
dengan pandangan bertanya, Josh hanya tersenyum dan mengangguk. Jen memandang
sekelilingnya, tempat ini tidak asing baginya, ia pun duduk di ayunan, dan Josh
mulai mendorongnya perlahan, dengan lembut ayunan itu sudah bergerak maju
mundur,
Terlintas kembali dalam ingatannya,
saat pertama kalinya Jen bertemu dengan Josh, ia sedang basah kuyup akibat
kehujanan karena tak tahu jalan pulang,
“Mommy…” isak Jen kecil yang berumur 5 tahun, gadis berkepang dua itu
menekuk lututnya dan bersandar di dahan pohon menahan dinginnya air hujan yang
membasahi tubuhnya,
Jen menangis, pertama karena ia kedinginan, kedua dia ingin segera
pulang, dan dia juga merasa ketakutan. Tiba-tiba seseorang berdiri di
hadapannya,
“Jangan menangis…” ucap anak laki-laki dengan rambut cokelat gelap yang
sedikit berantakan karena dia juga kehujanan, seraya duduk di sebelah Jen,
Jen menatap anak yang duduk di sampingnya itu dengan tatapan polos,
“Kau kehujanan?” tanyanya sambil menyeka air matanya,
Anak itu mengangguk, lalu gantian ia yang bertanya, “Kau sendiri kenapa
menangis? Kehujanan juga?” katanya,
“Iya, dan aku tak tahu jalan pulang, hiks…” Jen mulai menangis lagi
lalu membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya,
Anak itu mengusap kepala Jen perlahan, “Ssstt tenanglah, kalau hujan
berhenti aku akan mengantarmu pulang, aku janji,” ujarnya. Jen mengangkat
wajahnya, seakan terkesima dengan perkataan anak itu,
“Benarkah? Kau janji? Pinky swear?” tanya Jen sambil mengacungkan jari
kelingkingnya,
Anak itu mengangguk seraya menautkan kelingkingnya dengan Jen dan
tersenyum, “Pinky swear,” balasnya,
Mereka berdua tertawa, “Oh iya aku belum tahu namamu,” kata anak itu
kemudian,
“Aku Jen, kau?”
“Josh,” jawabnya. Jen memperhatikan kalau Josh mengeluarkan sesuatu
berwarna keperakan dari sakunya,
“Mom bilang padaku, berikan ini pada seseorang yang spesial saat aku
menemukannya, kukira kau lah orangnya, karena itu simpan baik-baik ya, Jen…”
kata Josh sambil menaruh kalung berliontin setengah hati yang tertera huruf
“VE” ke tangan Jen, “Aku juga punya setengahnya lagi,” lanjutnya seraya
menunjukan kalung yang sama dengan liontin bertuliskan “LO”
Jen menatap kalung itu kemudian tersenyum, “Terimakasih Josh,” ucapnya.
Dengan senyuman manis Josh mengangguk pada Jen,
Tepat saat itu hujan berhenti, lalu tampak spektrum tujuh warna-warni
yang indah terlukis di atas langit,
“Lihat Josh, pelangi!” seru Jen riang,
Josh ikut mendongak ke atas menatap langit, ia tersenyum, “Ayo kita
lihat Jen!” ajaknya sambil membantu Jen berdiri dan menarik lengannya ke tengah
taman bermain,
“Josh, boleh aku bermain ayunan sambil melihat pelanginya? Sebentar
saja?” pinta Jen,
“Tentu saja, ayo balapan!” kata Josh, ia langsung berlari menuju ayunan
sambil tertawa,
“Hey kau curang, tunggu aku!” Jen menyusul Josh yang telah sampai
duluan, lalu Josh membantu Jen naik ke ayunan dan mendorongnya perlahan. Saat
itu adalah momen yang paling berharga yang pernah mereka rasakan,
“Kau tahu Jen, sejak saat itu
aku selalu menyimpan memori tentang momen berharga yang terjadi antara kita
berdua, aku takkan pernah melupakannya, bahkan aku berharap kalau aku bisa
mengulang kembali masa itu dan menghentikan waktunya hingga aku dan kau akan
selalu berada di dalamnya,” ucap Josh sambil mendorong lembut Jen yang kini
sudah dewasa,
“Iya Josh,” kata Jen seraya menghentikan
laju ayunannya yang maju mundur, lalu berdiri menghadap Josh, “Apa kau masih
menyimpan kalungmu?” tanya Jen,
“Tentu saja,” Josh menunjukkan
kalung yang telah ia modifikasi menjadi gantungan kunci, “Bagaimana denganmu?”
“Aku juga,” Jen menunjukan
kalung yang kini menghias lehernya, “Hey, bagaimana kalau kita satukan
liontinnya lalu lihat apa yang tertulis di sana?”
Josh mengangguk lalu ia
meletakkan gantungan kuncinya berdampingan dengan kalung Jen, liontin itu
menyatu dan membentuk sebuah kata,
“Love…” bisik Josh lembut seraya
tersenyum,
Jen tersenyum menatap kalungnya
lalu menatap dirinya dalam mata hazel Josh, beberapa detik kemudian wajah
mereka berdua langsung memerah dan tersipu malu,
“Josh, apakah aku masih
seseorang yang spesial itu?” tanya Jen,
Anak laki-laki yang dulu memberi
Jen kalung itu tersenyum, ia merengkuh wajah Jen lalu dengan lembut ia
meletakkan bibirnya tepat pada bibir Jen, mulanya Jen terkejut namun dengan
senang hati ia membalas ciumannya itu, ciuman pertama mereka sejak pertemuan 12
tahun lalu, Josh melakukannya dengan sangat lembut, perlahan dan tidak
terburu-buru. Setengah menit kemudian mereka melepaskannya dan membiarkan
oksigen masuk ke dalam paru-paru mereka,
Josh kembali tersenyum, “Apakah
itu sudah menjawab pertanyaanmu?”
“Aku tidak tahu, mungkin saja…
ah…”
Belum selesai Jen berkata Josh
kembali mengulum bibir gadis yang dulu dikepang dua itu dengan bibirnya,
Lalu Josh melepasnya, ia tertawa
melihat pipi Jen yang memerah karena tersipu malu,
“Oke baiklah, aku paham aku
masih menjadi seseorang itu,” kata Jen, ia tertawa kecil. Lalu ia kembali duduk
di ayunan, Josh berdiri di belakangnya dan Jen pun menyandarkan kepalanya ke
dada Josh, dan laki-laki itu melingkarkan tangannya memeluk Jen,
“Satu hal yang harus kau tahu Josh,”
ucap Jen,
“Apa itu?” Josh mendekatkan
wajahnya pada Jen, kemudian gadis itu berbisik lembut,
“You’re still my special one,
too…”
-End
No comments:
Post a Comment