Pages

9 June 2013

Devil's Death Diary - chapter 11

note: wohoo... taun berapa terakhir kali saya update fic ini? *dor*
maaf sejuta maaf karena udah ngebiarin kalian nunggu lama *like hell ada yang nungguin* *plakk*

oke deh, saya ga akan cuap-cuap lagi, selamat baca~

warning: ..err... ada kissing scene di endingnya... jadi... hati-hati ya... *dilempar*
---

Yang Tersembunyi (11)

Tak semua hal di dunia ini adalah kebenaran yang sesungguhnya.

Kadang ada sesuatu yang tabu bersembunyi di balik hal tersebut.

Di dunia ini, tidak selamanya kejujuran mengungguli eksistensi.

Kadang ada kebohongan manis yang tersela di antaranya.

Siapa yang tahu, bahwa suatu saat sahabat yang kau sayangi akan berbalik menjadi musuh yang kau benci?

Tidak ada, tidak seorang pun tahu.

Siapa yang tahu, bahwa di luar sana, dari dimensi yang berbeda, akan muncul seseorang yang menginginkan kematian dirimu?

Tadinya, aku tidak tahu.

Tidak, sebelum dia memberitahukan semuanya padaku.

Namun, siapa yang menyangka bahwa dia yang selama ini selalu ada di sisimu, menyertai setiap langkahmu, memberimu semangat untuk berjuang di saat-saat sulit, juga menjadi cinta pertama yang menyeruak ke dalam relung hatimu ….

..tak lain, tak bukan, adalah seseorang yang menuntunmu ke dalam belenggu masalah itu.


Aku benar-benar berlari saat ini. Sialan kau, Hayley! Perkataanmu membuat sistem syaraf dalam otakku sudah terlalu kusut untuk membantuku berpikir jernih.

Aku tidak tahu apakah gadis bersuara lembut itu bercanda atau tidak, tapi ketika aku menyadari bahwa ia merupakan target terakhir sang Dewa Kematian tentu aku tak bisa diam saja.

Heh, memangnya kau pikir aku mau melihat teman-temanku mati mengenaskan lagi? Tidak!

Refleksi gedung mall yang megah dan tampak ramai itu tertaut dalam iris biru safirku. Aneh, apa orang-orang di sekitar sini tidak ada yang tahu kejadian mengerikan yang berlangsung di tempatku tadi?

Aku mengurangi sedikit kecepatanku sembari membuka ponsel untuk menelpon Hayley. Tak perlu waktu lama, suara lembut itu kembali terdengar.

Isabel, kau ada dimana?

“Di lobby. Kau sendiri dimana?” tanyaku dengan tempo allegro.

Oh … aku sedang menunggu lift di sebelah timur lobby,” jawabnya.

“Hm. Tunggu aku.”

Sesuai arahan darinya, aku berjalan menuju timur. Namun tak ada tanda-tanda bahwa seorang gadis bernama Hayley Morgan pernah menjamahi tempat itu.

Aku mendecak kesal. Sebenarnya aku yang salah jalan atau dia yang tidak bisa membedakan mana timur atau barat?

Drrtt … sebuah pesan singkat mampir ke ponselku. Aku nyaris saja berteriak marah ketika membaca isinya.

From: Hayley (+1896463xxxx)
Ah, maaf Isabel. aku ada di lantai dua.

‘Hell! Kau pikir ada lobby di lantai dua, eh? Dasar ababil!’ erangku dalam hati sembari menghentakkan langkahku menuju eskalator terdekat.


Begitu tiba di lantai satu, aku segera membalas pesannya.

To: Hayley (+1896463xxxx)
Jangan bergerak kemana-mana! Diamlah di situ, aku ada di lantai satu.

Tak sampai satu menit, ponselku kembali diguncang oleh pesan darinya. Kupikir dia akan membalas sesuatu berupa kata-kata, ternyata yang dikirimnya hanya sebuah emoticon senyum.

“..dasar polos,” gumamku.

Baru saja kakiku menjejak di lantai dua, pesan lain dari Hayley kembali tertera di layar ponselku.

From: Hayley (+1896463xxxx)
Waktumu dua menit, Isabel. orang yang ingin kutemui sudah menunggu di lantai basement. :)

Aku mengernyit bingung ketika membaca kalimat terakhir. Dia bilang orang yang ingin ditemuinya berada di lantai basement

..lantas kenapa dia malah menunggu di lantai dua?

Oke, Hayley. Sepulang dari sini aku akan mengantarmu ke psikiater, tenang saja.


Dari kejauhan aku bisa melihat segelintir orang yang tengah mengantri untuk masuk ke dalam lift. Semuanya terasa normal, benar-benar normal. Setidaknya itu yang kupikirkan sebelum salah seorang dari mereka berteriak.

“Tolooong …! Ada yang terjebak dalam lift!”


Khehe … kau terlambat, nak ….


“Hng?” Aku menghentikan langkahku. Indera pendengaranku sedikit terusik, siapa yang barusan bilang aku terlambat?

Brukk. Seorang Security berseragam hitam menabrakku. “Ah! Maaf, Nona,” ujarnya kemudian kembali berlari.

“Oh, iya, santai saja ….” ujarku sedikit kebingungan.

Aku melihat banyak orang yang berlalu-lalang dengan tergesa-gesa, “kenapa mereka semua rusuh, sih?”

“Karena ada seorang gadis yang terjebak di dalam lift itu, dik,” seseorang tiba-tiba menjawab pertanyaanku.

“Eh?” aku menoleh, di sebelahku telah berdiri dengan tegapnya seorang pria berpakaian bartender yang sedang mengelap gelas bening berbentuk piala.

Seorang gadis …?

Drrtt …  Tiba-tiba ponselku bergetar lagi. Tanganku segera meraih benda yang terselip di saku mantelku itu.


Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.


Klik. Aku membuka pesan itu dan tak sampai satu detik sepasang bola mata hitam yang tertanam pada iris biru safirku membulat dengan sempurna.

From: Unknown Number
Terima kasih telah mengumpulkan banyak umpan untukku. Sesaat lagi adalah giliranmu, Nona.

Devil ….”


Seluruh tubuhku bergetar seketika.


Waktumu dua menit, Isabel. orang yang ingin kutemui sudah menunggu di lantai basement.”

“Hayley ….”


“Umm … kau kenapa, dik?” tanya si pria bartender ketika melihat raut wajahku yang seperti orang kecolongan.

“Kak, berapa lantai dari sini ke basement?” tanyaku tiba-tiba, tak menghiraukan pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya.

“Eh? Ehm … tiga lantai. Memangnya kenapa?”

“Terima kasih, kak!” seruku, kemudian berlari meninggalkan sang pria yang kini menatap kepergianku dengan wajah heran.


Hanya umpatan-umpatan yang terluncur dari lisanku setiap kali kaki ini menjejak anak tangga darurat yang akan membawaku ke basement. Sebagian kutujukan pada sang Dewa Kematian, sebagian untuk Hayley, sebagian untuk Zach—yang sebenarnya tak bersalah, dan sisanya untuk diriku sendiri.

Aku merasa bodoh—sangat bodoh—karena lima kali jatuh dalam perangkap yang serupa. Bisa kubayangkan Devil tertawa terbahak-bahak di sana dengan wajah mengerikannya. Dan di sini aku hanya bisa mati-matian melakukan sesuatu yang tak pernah ada hasilnya.


Terkadang … dunia memang kejam ….

Sampai di anak tangga terakhir, aku melambatkan langkahku. Pintu besi berwarna merah dengan tulisan “Emergency Exit” yang menjadi pembatas antara aku dan basement itu tampak menunggu tanganku meraih handle-nya.

Desah napas berat terhembus dari indera penciumanku. Baiklah, kau menang, pintu. Aku akan membukamu.

Krieett.

Blam!

“Hah?” aku terperanjat mendengar suara debuman keras dari ujung sana. Kurang dari lima detik, firasat buruk telah melayap ke dalam hatiku.

Che!” kembali kupaksakan kakiku agar berlari ke tempat dimana lift berada. Namun semakin aku meminimalisir jarak dengan benda itu, firasat yang merasukiku semakin memperjelas eksistensinya.

Pintu lift terbuka—tepat saat aku memijakkan langkah terakhirku di depannya—lalu keluarlah tubuh seorang gadis dengan surai tembaga yang diikat ponytail dan tubuh itu jatuh tergeletak di hadapanku, menampakkan punggungnya yang telah terkoyak.

“Hay … ley ….”

Grep. Jemari gadis itu mencengkeram pergelangan kakiku, kemudian kepalanya mendongak, seolah ingin menunjukkan bahwa ia telah kehilangan mata kanannya.

“Hayley!” pekikku.

“Isa … bel … la … ri ….” ujarnya terbata-bata.

Tak menghiraukan sugestinya, aku berlutut dan memeluk tubuh yang mungkin akan ditinggalkan jiwanya itu. Buliran air mata berjatuhan di wajahku. Beraninya makhluk brengsek yang mengaku Dewa Kematian itu menyakiti kelima (mantan) sahabatku.

“Hayleeeyyy …! Huaaaaa  …!” aku meraung sepuasnya di bahu gadis bermarga Morgan itu. Bisa kurasakan tangannya perlahan membalas dekapanku.

“Isa … bel … kenapa … k-kau … tidak lari …?”

“Bodoh! Kau bodoh, Hayley! Mana mungkin aku meninggalkanmu di tangan Dewa brengsek itu!” teriakku.

“Pada … hal … a-aku … per … nah … menyakiti hatimu ….”

Mendengarnya aku semakin mengeratkan dekapanku, “..kau benar-benar bodoh, Hayley … seperti biasa ….” lirihku.

“..tapi … nilai Fisika … ku … selalu di … atas … nilaimu … kan …?”

Che ….” aku menggigit bibirku, “lawakan bagus, Nona Morgan!” ucapku, tertawa getir.

“Terima kasih ….” balasnya.

Masih mendekapnya, aku mengangguk. Sebenarnya ia tak perlu repot-repot mengucapkannya—

“..aku senang bisa mengenalmu, Isabel ….”

—dan aku tak ingin ia mengucapkannya.

“Hayley …?”

Dekapan gadis itu mengendur, tubuhnya semakin condong ke arahku dan kedua tangannya terkulai lemah, tak berdaya.

“Hay … ley …?”

..benar-benar tak berdaya ….

“Hayleeeyyy …!”


Hitam, adalah warna aspal yang kupijak. Adalah warna latar langit malam yang tak ditaburi bintang-bintang yang biasa menghiasnya. Adalah warna kegelapan yang menyelubung dalam hatiku ….

..dan merupakan warna buku harian brengsek yang menuntunku dalam semua masalah ini, juga warna rambut seseorang bernama Andrew yang—sepertinya—telah menghipnotisku agar aku, si bodoh yang ternyata juga memiliki helaian rambut hitam, tertarik dengan buku sialan itu.

Sepertinya mulai detik ini aku akan membenci warna hitam.

..juga diriku sendiri.


Iris biru safirku memantulkan refleksi seorang remaja laki-laki yang tengah duduk di atas semen yang melapisi anak tangga di depan rumah Atashia.

Ia tersenyum padaku, “kau lama sekali ….” katanya.

Aku memicingkan mata saat menatapnya, “suaramu aneh ….” komentarku.

Kedua bahu Zach mengedik, “mungkin aku lelah, “ ujarnya sembari bertindak mengasihani dirinya sendiri.

Aku mendengus geli, “lucu sekali ….”

“Jadi … apakah semuanya telah berakhir?” tanya Zach kemudian.

Kepalaku tertunduk lesu, “entahlah, mungkin saja.”

Terdengar suara kerikil yang terinjak oleh sepasang sneakers abu-abu yang dikenakan oleh Zach. Bisa kurasakan bahwa saat ini ia telah berdiri di hadapanku.

Dengan ibu jari dan telunjuknya, remaja itu mengangkat daguku, menghadapkan iris biru safirku dengan sepasang iris hazel miliknya—

“..aku mengerti, Isabel ….” bisiknya.

Aku mengerjap bingung, “apanya yang … umpph ….”

—dan mengunci lisanku dengan pagutan bibirnya.

“Aku mengerti ….” bisikannya kembali merasuk ke dalam indera pendengaranku.

Zach ….’

Hingga tanpa sadar aku telah terbuai oleh tipu muslihatnya ….

“..kau ternyata begitu bodoh, Isabella Hawkins … khe … hehehe ….”

Kedua mataku terbelalak saat remaja—yang kuketahui—bernama Zach Bolton itu menghujamkan sesuatu yang tajam pada ulu hatiku.

“A-arrgghhh ….” aku melepaskan tautan itu, berusaha berontak namun ia malah menghunuskannya semakin dalam.

“Aaakkhh … hen-hentikan … Zach ….” erangku.

“Hm … hahahaha ….” dia tertawa lepas, seolah baru saja terjadi sesuatu yang lucu di sekitar kami. Kemudian tawanya memudar, menjadi sebuah seringai. Kedua iris hazel-nya yang selalu tampak meneduhkan itu kini berkilat tajam.

“Khehehe … bagaimana rasanya … berciuman dengan makhluk yang paling tidak ingin kau temui, Nona Hawkins …?”

Manik hitam di kedua mataku membulat sempurna ketika mendengar pertanyaan retorik yang terluncur darinya.


De … vil …?


“Halo ….” makhluk yang masih berwujud sebagai Zach itu tersenyum, kemudian dengan satu hentakan ia kembali menusuk benda tajam bernama pisau itu hingga menembus kulit punggungku.


“..dan selamat tinggal, Nona ….”

-to be continued-

No comments:

Post a Comment