note: wohoo... taun berapa terakhir kali saya update fic ini? *dor*
maaf sejuta maaf karena udah ngebiarin kalian nunggu lama *like hell ada yang nungguin* *plakk*
oke deh, saya ga akan cuap-cuap lagi, selamat baca~
warning: ..err... ada kissing scene di endingnya... jadi... hati-hati ya... *dilempar*
---
Yang Tersembunyi (11)
Tak
semua hal di dunia ini adalah kebenaran yang sesungguhnya.
Kadang
ada sesuatu yang tabu bersembunyi di balik hal tersebut.
Di
dunia ini, tidak selamanya kejujuran mengungguli eksistensi.
Kadang
ada kebohongan manis yang tersela di antaranya.
Siapa
yang tahu, bahwa suatu saat sahabat yang kau sayangi akan berbalik menjadi
musuh yang kau benci?
Tidak
ada, tidak seorang pun tahu.
Siapa
yang tahu, bahwa di luar sana, dari dimensi yang berbeda, akan muncul seseorang
yang menginginkan kematian dirimu?
Tadinya,
aku tidak tahu.
Tidak,
sebelum dia
memberitahukan semuanya padaku.
Namun,
siapa yang menyangka bahwa dia yang selama ini selalu ada di sisimu, menyertai setiap langkahmu,
memberimu semangat untuk berjuang di saat-saat sulit, juga menjadi cinta
pertama yang menyeruak ke dalam relung hatimu ….
..tak
lain, tak bukan, adalah seseorang yang menuntunmu ke dalam belenggu masalah
itu.
Aku benar-benar berlari saat ini. Sialan
kau, Hayley! Perkataanmu membuat sistem syaraf dalam otakku sudah terlalu kusut
untuk membantuku berpikir jernih.
Aku tidak tahu apakah gadis
bersuara lembut itu bercanda atau tidak, tapi ketika aku menyadari bahwa ia
merupakan target terakhir sang Dewa Kematian tentu aku tak bisa diam saja.
Heh, memangnya kau pikir aku mau
melihat teman-temanku mati mengenaskan lagi? Tidak!
Refleksi gedung mall yang megah dan tampak ramai itu
tertaut dalam iris biru safirku. Aneh, apa orang-orang di sekitar sini tidak
ada yang tahu kejadian mengerikan yang berlangsung di tempatku tadi?
Aku mengurangi sedikit kecepatanku
sembari membuka ponsel untuk menelpon Hayley. Tak perlu waktu lama, suara
lembut itu kembali terdengar.
“Isabel, kau ada dimana?”
“Di lobby. Kau sendiri dimana?” tanyaku dengan tempo allegro.
“Oh … aku sedang menunggu lift di
sebelah timur lobby,” jawabnya.
“Hm. Tunggu aku.”
Sesuai arahan darinya, aku berjalan
menuju timur. Namun tak ada tanda-tanda bahwa seorang gadis bernama Hayley
Morgan pernah menjamahi tempat itu.
Aku mendecak kesal. Sebenarnya aku
yang salah jalan atau dia yang tidak bisa membedakan mana timur atau barat?
Drrtt
… sebuah
pesan singkat mampir ke ponselku. Aku nyaris saja berteriak marah ketika
membaca isinya.
From:
Hayley (+1896463xxxx)
Ah, maaf Isabel. aku ada di lantai dua.
‘Hell! Kau pikir ada lobby di
lantai dua, eh? Dasar ababil!’ erangku dalam hati sembari menghentakkan
langkahku menuju eskalator terdekat.
Begitu tiba di lantai satu, aku
segera membalas pesannya.
To:
Hayley (+1896463xxxx)
Jangan bergerak kemana-mana!
Diamlah di situ, aku ada di lantai satu.
Tak sampai satu menit, ponselku
kembali diguncang oleh pesan darinya. Kupikir dia akan membalas sesuatu berupa
kata-kata, ternyata yang dikirimnya hanya sebuah emoticon senyum.
“..dasar polos,” gumamku.
Baru saja kakiku menjejak di lantai
dua, pesan lain dari Hayley kembali tertera di layar ponselku.
From:
Hayley (+1896463xxxx)
Waktumu dua menit, Isabel. orang yang ingin kutemui sudah menunggu di
lantai basement. :)
Aku mengernyit bingung ketika
membaca kalimat terakhir. Dia bilang orang yang ingin ditemuinya berada di
lantai basement …
..lantas kenapa dia malah menunggu
di lantai dua?
Oke, Hayley. Sepulang dari sini aku
akan mengantarmu ke psikiater, tenang saja.
Dari kejauhan aku bisa melihat
segelintir orang yang tengah mengantri untuk masuk ke dalam lift. Semuanya terasa normal,
benar-benar normal. Setidaknya itu yang kupikirkan sebelum salah seorang dari
mereka berteriak.
“Tolooong …! Ada yang terjebak
dalam lift!”
“Khehe … kau terlambat, nak ….”
“Hng?” Aku menghentikan langkahku.
Indera pendengaranku sedikit terusik, siapa yang barusan bilang aku terlambat?
Brukk.
Seorang Security berseragam hitam
menabrakku. “Ah! Maaf, Nona,” ujarnya kemudian kembali berlari.
“Oh, iya, santai saja ….” ujarku
sedikit kebingungan.
Aku melihat banyak orang yang
berlalu-lalang dengan tergesa-gesa, “kenapa mereka semua rusuh, sih?”
“Karena ada seorang gadis yang
terjebak di dalam lift itu, dik,”
seseorang tiba-tiba menjawab pertanyaanku.
“Eh?” aku menoleh, di sebelahku
telah berdiri dengan tegapnya seorang pria berpakaian bartender yang sedang mengelap gelas bening berbentuk piala.
‘Seorang gadis …?’
Drrtt
… Tiba-tiba
ponselku bergetar lagi. Tanganku segera meraih benda yang terselip di saku
mantelku itu.
Sebuah pesan dari nomor tak
dikenal.
Klik.
Aku
membuka pesan itu dan tak sampai satu detik sepasang bola mata hitam yang
tertanam pada iris biru safirku membulat dengan sempurna.
From:
Unknown Number
Terima kasih telah
mengumpulkan banyak umpan untukku. Sesaat lagi adalah giliranmu, Nona.
“Devil ….”
Seluruh tubuhku bergetar seketika.
“Waktumu dua menit, Isabel. orang yang ingin kutemui sudah menunggu di
lantai basement.”
“Hayley ….”
“Umm … kau kenapa, dik?” tanya si
pria bartender ketika melihat raut
wajahku yang seperti orang kecolongan.
“Kak, berapa lantai dari sini ke basement?” tanyaku tiba-tiba, tak
menghiraukan pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya.
“Eh? Ehm … tiga lantai. Memangnya
kenapa?”
“Terima kasih, kak!” seruku,
kemudian berlari meninggalkan sang pria yang kini menatap kepergianku dengan
wajah heran.
Hanya umpatan-umpatan yang
terluncur dari lisanku setiap kali kaki ini menjejak anak tangga darurat yang
akan membawaku ke basement. Sebagian
kutujukan pada sang Dewa Kematian, sebagian untuk Hayley, sebagian untuk
Zach—yang sebenarnya tak bersalah, dan sisanya untuk diriku sendiri.
Aku merasa bodoh—sangat
bodoh—karena lima kali jatuh dalam perangkap yang serupa. Bisa kubayangkan Devil tertawa terbahak-bahak di sana
dengan wajah mengerikannya. Dan di sini aku hanya bisa mati-matian melakukan
sesuatu yang tak pernah ada hasilnya.
Terkadang … dunia memang kejam ….
Sampai di anak tangga terakhir, aku
melambatkan langkahku. Pintu besi berwarna merah dengan tulisan “Emergency Exit” yang menjadi pembatas
antara aku dan basement itu tampak
menunggu tanganku meraih handle-nya.
Desah napas berat terhembus dari
indera penciumanku. Baiklah, kau menang, pintu. Aku akan membukamu.
Krieett.
Blam!
“Hah?” aku terperanjat mendengar
suara debuman keras dari ujung sana. Kurang dari lima detik, firasat buruk
telah melayap ke dalam hatiku.
“Che!” kembali kupaksakan kakiku agar berlari ke tempat dimana lift berada. Namun semakin aku
meminimalisir jarak dengan benda itu, firasat yang merasukiku semakin
memperjelas eksistensinya.
Pintu lift terbuka—tepat saat aku memijakkan langkah terakhirku di depannya—lalu
keluarlah tubuh seorang gadis dengan surai tembaga yang diikat ponytail dan tubuh itu jatuh tergeletak
di hadapanku, menampakkan punggungnya yang telah terkoyak.
“Hay … ley ….”
Grep.
Jemari
gadis itu mencengkeram pergelangan kakiku, kemudian kepalanya mendongak, seolah
ingin menunjukkan bahwa ia telah kehilangan mata kanannya.
“Hayley!” pekikku.
“Isa … bel … la … ri ….” ujarnya terbata-bata.
Tak menghiraukan sugestinya, aku
berlutut dan memeluk tubuh yang mungkin akan ditinggalkan jiwanya itu. Buliran
air mata berjatuhan di wajahku. Beraninya makhluk brengsek yang mengaku Dewa
Kematian itu menyakiti kelima (mantan) sahabatku.
“Hayleeeyyy …! Huaaaaa …!” aku meraung
sepuasnya di bahu gadis bermarga Morgan itu. Bisa kurasakan tangannya perlahan
membalas dekapanku.
“Isa … bel … kenapa … k-kau … tidak
lari …?”
“Bodoh! Kau bodoh, Hayley! Mana mungkin
aku meninggalkanmu di tangan Dewa brengsek itu!” teriakku.
“Pada … hal … a-aku … per … nah …
menyakiti hatimu ….”
Mendengarnya aku semakin
mengeratkan dekapanku, “..kau benar-benar bodoh, Hayley … seperti biasa ….” lirihku.
“..tapi … nilai Fisika … ku …
selalu di … atas … nilaimu … kan …?”
“Che ….” aku menggigit bibirku, “lawakan bagus, Nona Morgan!”
ucapku, tertawa getir.
“Terima kasih ….” balasnya.
Masih mendekapnya, aku mengangguk. Sebenarnya
ia tak perlu repot-repot mengucapkannya—
“..aku senang bisa mengenalmu,
Isabel ….”
—dan aku tak ingin ia
mengucapkannya.
“Hayley …?”
Dekapan gadis itu mengendur,
tubuhnya semakin condong ke arahku dan kedua tangannya terkulai lemah, tak
berdaya.
“Hay … ley …?”
..benar-benar tak berdaya ….
“Hayleeeyyy …!”
Hitam,
adalah warna aspal yang kupijak. Adalah warna latar langit malam yang tak
ditaburi bintang-bintang yang biasa menghiasnya. Adalah warna kegelapan yang
menyelubung dalam hatiku ….
..dan
merupakan warna buku harian brengsek yang menuntunku dalam semua masalah ini,
juga warna rambut seseorang bernama Andrew yang—sepertinya—telah menghipnotisku
agar aku, si bodoh yang ternyata juga memiliki helaian rambut hitam, tertarik
dengan buku sialan itu.
Sepertinya
mulai detik ini aku akan membenci warna hitam.
..juga
diriku sendiri.
Iris biru safirku memantulkan
refleksi seorang remaja laki-laki yang tengah duduk di atas semen yang melapisi
anak tangga di depan rumah Atashia.
Ia tersenyum padaku, “kau lama
sekali ….” katanya.
Aku memicingkan mata saat menatapnya,
“suaramu aneh ….” komentarku.
Kedua bahu Zach mengedik, “mungkin
aku lelah, “ ujarnya sembari bertindak mengasihani dirinya sendiri.
Aku mendengus geli, “lucu sekali ….”
“Jadi … apakah semuanya telah
berakhir?” tanya Zach kemudian.
Kepalaku tertunduk lesu, “entahlah,
mungkin saja.”
Terdengar suara kerikil yang
terinjak oleh sepasang sneakers abu-abu
yang dikenakan oleh Zach. Bisa kurasakan
bahwa saat ini ia telah berdiri di hadapanku.
Dengan ibu jari dan telunjuknya,
remaja itu mengangkat daguku, menghadapkan iris biru safirku dengan sepasang iris
hazel miliknya—
“..aku mengerti, Isabel ….” bisiknya.
Aku mengerjap bingung, “apanya yang
… umpph ….”
—dan mengunci lisanku dengan
pagutan bibirnya.
“Aku mengerti ….” bisikannya kembali
merasuk ke dalam indera pendengaranku.
‘Zach ….’
Hingga tanpa sadar aku telah
terbuai oleh tipu muslihatnya ….
“..kau ternyata begitu bodoh,
Isabella Hawkins … khe … hehehe ….”
Kedua mataku terbelalak saat remaja—yang
kuketahui—bernama Zach Bolton itu menghujamkan sesuatu yang tajam pada ulu
hatiku.
“A-arrgghhh ….” aku melepaskan
tautan itu, berusaha berontak namun ia malah menghunuskannya semakin dalam.
“Aaakkhh … hen-hentikan … Zach ….” erangku.
“Hm … hahahaha ….” dia tertawa
lepas, seolah baru saja terjadi sesuatu yang lucu di sekitar kami. Kemudian
tawanya memudar, menjadi sebuah seringai. Kedua iris hazel-nya yang selalu tampak meneduhkan itu kini berkilat tajam.
“Khehehe … bagaimana rasanya …
berciuman dengan makhluk yang paling tidak ingin kau temui, Nona Hawkins …?”
Manik hitam di kedua mataku
membulat sempurna ketika mendengar pertanyaan retorik yang terluncur darinya.
“De … vil …?”
“Halo ….” makhluk yang masih
berwujud sebagai Zach itu tersenyum, kemudian dengan satu hentakan ia kembali
menusuk benda tajam bernama pisau itu hingga menembus kulit punggungku.
“..dan
selamat tinggal, Nona ….”
-to be continued-
No comments:
Post a Comment